Jakarta di Bawah Anies-Sandi

Friday, April 21st, 2017 - Opini Publik, Rumor

Faktanya sekarang adalah Ahok-Djarot kalah. Anies-Sandi menang. Menurut versi hitung cepat berbagai lembaga. Saya kutip hitungan Kompas: 42% vs 58%. Padahal ada survei sebelumnya yang bilang 72% masyarakat Jakarta puas dengan kinerja Ahok. Kasarnya, kemana dan mengapa 30% (72%-42%) orang yang puas terhadap Ahok tapi tidak memilih Ahok itu? Saya tidak tahu. Faktor Al Maidah-kah? Faktor sembako-kah? Faktor santun-kah?

Baik Ahok-Djarot maupun Anies-Sandi menghabiskan total dana kampanye hingga dua putaran di atas Rp80 miliar. Anies-Sandi persisnya Rp83 miliar. Anies keluar Rp400 juta, sisanya yang terbesar adalah Sandi. Pertanyaan awam orang adalah bagaimana mengembalikan modal Rp83 miliar itu?

Kalau saya buzzer, saya akan nyinyir bilang tilep aja 0,12% dari APBD DKI 2017 yang Rp70,1 triliun, balik itu modal. Tapi saya tak mau menuduh tanpa bukti dan saya pun menganggap Ahok sudah memasang pagar api yang membara supaya APBD tidak mudah ditilep siapapun, pun saya meyakini Anies-Sandi tidak akan sekonyol itu mengkorupsi APBD.

Besar-kecil itu relatif. Bagi Sandi, uang Rp83 miliar itu jika diambil dari dividen dia di Saratoga (SRTG) tahun lalu saja masih sisa Rp89 miliaran. Tahun lalu SRTG mendapatkan pendapatan bersih dari dividen atas investasi Rp622 miliar. Sementara porsi kepemilikan saham Sandi di SRTG sebesar 27,7%. Total laba bersih SRTG Rp5,7 triliun.

Bagaimana dengan kinerja sahamnya di bursa? Paslon 3 menang, sentimen positif sebentar. Kemarin sempat mencapai high Rp4.300 sebelum kembali lagi ke Rp3.600. Banyak deh yang duitnya nyangkut di jemuran.

Begitulah kira-kira kondisinya kalau kita dangkal berpikir dan sekadar ikut heboh-hebohan. Apalagi tempur SARA. Berpikirlah yang strategis untuk mengetahui kedalaman situasinya. Jangan ikutan berpikir pragmatis ala politisi deh.

Bagi saya, Ahok dan Sandi berpikir dalam model yang berbeda. Ahok teliti dan keras pada hal teknis. Perhitungan uangnya pun teknis sekali. Sementara Sandi adalah seorang pebisnis, investor. Saratoga itu adalah perusahaan investasi yang menanamkan dana pada perusahaan (rintisan, menengah, mapan) terutama sektor sumber daya alam, infrastruktur, dan konsumen. Sandi tidak akan bicara seteknis Ahok. Dia membutuhkan lebih banyak naluri dan persepsi untuk bertindak. Ahok bekerja untuk membangun. Sandi mengelola uang (aset) untuk bekerja.

Darimana Sandi/Saratoga dapat uang? Per kuartal 1 tahun 2017, saya lihat utang Saratoga “tinggal” Rp2 triliun ke bank dan lembaga pembiayaan di Perancis, Jepang, dan Belanda. Hal lumrah lah seperti ini. Namanya juga bisnis dan investasi.

Dugaan saya, Sandi akan ambil peran besar dalam pemerintahan Jakarta mendatang, terutama dalam pengelolaan anggaran. APBD DKI 2017 sudah ada Perda-nya, sudah ada sistemnya yang dibangun oleh Ahok, dan Anies-Sandi tinggal meneruskan dan memantapkan.

Namun, akan menarik untuk dicermati cara Sandi yang kemungkinan mengelola Jakarta ini sebagai semacam perusahaan, dengan nilai-nilai yang dianutnya selama ini. Dan ingat, ini tidak salah. Yang salah adalah yang korupsi bin maling.

Tapi tentu saja potensi konflik kepentingan perlu diawasi. Apapun juga, faktanya, Sandi adalah masih pengendali SRTG. Bisnis SRTG, terutama sektor infrastruktur, bakal bersinggungan dengan banyak proyek di Jakarta, yang memerlukan kebijakan eksekutif. Tower Bersama (TBIG) misalnya — sebagai penyumbang keuntungan terbesar SRTG, tahun lalu menyumbang Rp4 triliun keuntungan — bergerak di bidang telekomunikasi (tower-tower), lalu grup rumah sakit Awal Bros juga ada kaitan dengan SRTG (Awal Bros adalah operator rumah sakit terbesar pengguna BPJS), ada juga perusahaan jalan tol yang waktu itu membangun 116 km Cikampek-Palimanan, dsb.

Di sektor sumber daya alam saya pikir agak jauh kaitannya karena Adaro sudah mapan dengan batubaranya di luar Jawa, Merdeka Copper di luar Jawa juga, lalu sektor pembangkit listrik di Batang, Jawa Tengah, begitu juga Medco yang memang dekat dengan Sandi, kesemuanya bisnisnya sudah berjalan masing-masing.

Bikin balik modal kampanye Rp83 miliar hanya dengan mengandalkan gaji, tunjangan, dan operasional gubernur-wakil gubernur, memang terasa naif dalam 5 tahun, kecuali Anies yang keluar “hanya” Rp400 juta. Tapi di sinilah saya pikir tantangan bagi OK OCE untuk menunjukkan diri sebagai pemimpin yang terampir, jujur, dan adil. Bagaimana Sandi menyeimbangkan antara bisnis dan kekuasaan formal sembari memenuhi seabrek-abrek janji kampanyenya, tanpa melakukan korupsi dan penyelewengan kebijakan.

Jujur saja, secara fundamental, bisnis Saratoga-nya Sandi berjalan baik dan on the track tanpa harus macam-macam, tanpa harus menyelewengkan jabatan, masih bisa profit triliunan, selama ini. Tanpa harus cawe-cawe proyek di Jakarta pun saya yakin Saratoga bisa profit lebih banyak lagi di masa depan. Partner Sandi di Saratoga, Edwin Soeryadjaya alias Tjia Han Pun (orang Tionghoa, pemegang 32% saham SRTG), adalah pebisnis yang punya reputasi, yang juga tidak akan mau terperosok menjadi sekadar “pemain” proyek di Jakarta. Apalagi SRTG adalah perusahaan publik.

Jadi benarlah, saatnya kini bagi Anies-Sandi untuk murni pengabdian. Tidak korupsi. Adil. Jangan kasih angin buat rekan/kroni yang mau “main-main” di Jakarta. Dan mohon juga bisa menumpas segala kebencian SARA yang sudah terlanjur menjamur di masyarakat gara-gara kampanye lalu.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Jakarta di Bawah Anies-Sandi | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: