Catatan tentang Asosiasi Media Siber Indonesia

Monday, April 17th, 2017 - Bisnis Media, Hukum Pers

Selasa besok kabarnya akan dideklarasikan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) di Kantor Dewan Pers. Dari daftar yang saya dapat, tercatat ada 26 media siber pendiri dan 140-an media siber anggota. Media siber di bawah pengelolaan GRESNEWS.COM tergabung di dalamnya. Detik, Kompas, Tempo, Bisnis Indonesia, Katadata, Selasar, dll masuk juga.

Saya pikir asosiasi ini kredibel. Sebagian besar pendirinya saya kenal baik secara pribadi maupun secara profesional (karyanya). Mereka betul-betul wartawan. Saya tahu kiprah dan karyanya semasa liputan dahulu, banyak pendirinya yang meliput isu-isu hukum dan politik. Susah-senang di lapangan sama-sama.

Dalam publikasi yang sudah beredar di internet, saya baca dasar terbentuknya asosiasi ini adalah kepedulian terhadap perlunya konten akurat, berimbang, dan bisa dipertanggungjawabkan. Selain untuk membendung efek buruk dari banyaknya berita gak jelas (hoax) yang beredar di masyarakat, apalagi pada masa Pilkada DKI begini. Dengan demikian, bisalah kita berharap, asosiasi ini bukan terbentuk karena buzzer oriented.

Soal idealisme konten dan cita-cita luhur sebuah institusi media massa, seperti tersebut di atas, sepakatlah saya. Memang itu yang utama.

Namun, ada satu hal yang kadang luput terpikirkan oleh para pelaku media. Selain sebagai institusi pers, media siber juga merupakan institusi bisnis. Pengertian asosiasi sendiri secara harafiah juga berarti persatuan rekan usaha, persekutuan dagang. Sebagai organisasi bisnis, wajar juga kalau media harus memperoleh keuntungan sehingga roda perusahaan bisa mulus berjalan. Tanpa ada bisnis yang sehat, akan sangat berat bagi media untuk menjalankan misinya sebagai organisasi pers yang sehat juga.

Diakui atau tidak, hingga saat ini, para media siber masih dalam tahap mencari model bisnis yang pas dan berkesinambungan untuk menghidupi organisasinya dari sisi bisnis. Model pendapatan yang seperti apa yang bisa konsisten mendukung tercapainya pers yang sehat, masih terus diujicobakan. Jelas, model konvensional iklan layar sudah usang, memadukannya dengan penyelenggaraan off air programme dan riset-riset belakang layar juga diujicobakan, konvergensi, kolaborasi, users generated content, dsb juga sedang diolah. Dalam hal ini saya tidak berbicara model bisnis pers partisan yang sekadar corong kepentingan politik/bisnis dan hidup dari sistem “subsidi silang”.

Kondisi untuk setiap media siber juga berbeda-beda. Ada media siber yang membangun dari nol (seperti gresnews.com), ada yang merupakan bagian dari induk bisnis media (Kompas, Tempo, MNC, Bisnis), ada yang sistem “franchise” (CNN Indonesia), dsb. Konsekuensi terhadap model dan strategi bisnisnya pun berbeda-beda. Bohirnya pun berbeda-beda. Profit-nya pun beda-beda.

Data di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan Tempo Group (TMPO) quarter to quarter sales growth-nya -8,23%, MNC Group (MNCN) hanya tumbuh 4,6%, SCMA 6,7%.

Pengalaman saya hampir 9 tahun memiliki dan mengelola bisnis media pers siber, sulit untuk mengelak dari “hukum alam” bahwa pers yang sehat harus ditopang oleh income yang sehat juga. Konten yang bisa dipertanggungjawabkan dihasilkan oleh redaksi yang terjamin otak, perut, dan kantongnya. Idealisme pers tak bisa dipisahkan dari aspek bisnis organisasi pers itu sendiri.

Jawaban dari problematika bisnis pers itu tidak sesederhana menempelkan bisnis media siber sebagai salah satu lini bisnis dari konglomerasi. Bisnis adalah bisnis. Media siber yang berada di bawah payung konglomerasi pun kalau merugi terus bakal ditutup.

Jadi, apa yang juga harus dilakukan oleh asosiasi bin persekutuan dagang semacam AMSI ini adalah membantu para anggotanya untuk hidup sebagai perusahaan pers yang kekar dan sehat. Asosiasi harus memikirkan mulai dari hulu ke hilir persoalan yang melingkupi perusahaan-perusahaan pers yang menjadi anggotanya.

Apakah regulasi pers yang ada mendukung atau menghambat pertumbuhan usaha pers? Apakah level playing field dari para pemain usaha pers sama? Apakah OTT menghambat atau justru membantu perusahaan pers? Apakah terjadi kanibalisasi harga iklan satu sama lain? Apakah terjadi sinergi bisnis di antara perusahaan media siber? Apakah ada cara baru untuk meraih permodalan bagi perusahaan media siber? Bagaimana relasi bisnis yang terjalin antara perusahaan pers dengan agensi, PR Agency, asosiasi humas, dsb? Apakah hak atas kekayaan intelektual dari produk-produk pers terlindungi dan mempunyai value yang bisa di-uang-kan secara maksimal?

Di tengah banyak persoalan itu, saya menyambut baik dan berharap semoga AMSI bisa berkembang sebagai asosiasi yang kredibel dan menjawab banyak persoalan dunia pers siber.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Catatan tentang Asosiasi Media Siber Indonesia | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: