Mengapa Ernest Prakasa?

Wednesday, March 8th, 2017 - Opini Publik, Rumor

Firasat bertahun-tahun saya soal Ernest Prakasa nyata juga akhirnya. Sejak kondang sebagai komika, nongol di televisi mana-mana, hingga membumbung sebagai sutradara seperti sekarang, saya mengkhawatirkan “kiprah terang-terangannya” pada dunia politik, secara khusus Pilkada Jakarta, yang berdiri sebagai pendukung Ahok. FYI. Saya tahu dan kenal Ernest karena dia kawan seangkatan dan sekampus saya di FISIP Unpad. Pernah beberapa kali bertemu saat pertemuan organisasi mahasiswa Kristen dan Katolik.

Sebetulnya tak ada perkara serius dalam hal dukungan ke Ahok. Sah-sah saja. Demokrasi kan. Namun, kalau boleh saya sebut kegandrungannya untuk nyinyir pada persoalan yang menyentuh Islam, bakal jadi masalah besar. Setelah soal Pesantren Implan, kini dia mengunggah informasi tentang ulama Zakir Naik yang katanya mendanai ISIS dan bertemu Wapres JK.

Kata Ernest, informasi itu dia comot dari Daily Mail, media dengan oplah nomor dua terbesar di Inggris yang menyasar pembaca menengah ke bawah. Daily Mail dikategorikan sebagai media yang rendah kredibilitas informasinya. Wikipedia mencatat media ini kondang karena sentimen rasisme, berita-berita sensasional, dan kesesatan informasi yang keterlaluan.

Istri Presiden AS Donald Trump, Melania Trump, telah memasukkan gugatan US$150 juta kepada Daily Mail atas pemberitaan yang menyebutkan Melania pernah menjadi hostes pada kurun 1990-an. Soal gugatan, Daily Mail pernah kalah dan harus membayar 100 ribu Pound Sterling kepada musisi Elton John karena pencemaran nama baik, pernah juga meminta maaf ke JK Rowling karena artikel salah tentang Gingerbread.

Dalam soal ini, Ernest tersesat pikir dan menyebarkan informasi yang tidak terverifikasi soal Zakir Naik hanya karena dia berpikiran pendek bahwa Daily Mail adalah media yang dia sebut ternama. So, ternama tidak sama dengan benar!

Kembali lagi soal posisi politik Ernest. Dia memilih bermain ombak. Ombak besar dia tunggangi. Ombak itu bernama SARA. Dia keturunan Cina dan non-Muslim, suatu hal yang saya tak akan sentuh karena itu adalah apa adanya dia. Pada akhirnya, dalam permintaan maafnya kemarin itu dia menyebut dirinya adalah orang yang hidup di tengah-tengah lingkungan Betawi-Muslim dan dengan demikian tidak ada alasan baginya untuk memusuhi Islam. Pernyataan yang bagi sebagian kalangan bisa dipersepsikan sebagai langkah ngeles bin cari pembenaran.

Saya pakai analogi sepakbola. Kartu merah bisa terjadi kalau pemain menggaprak pemain lain, pemain melakukan diving, dsb. Jenis kartu merah karena diving inilah yang bisa bikin blunder. Karena kesalahan sendiri, dikeluarkan dari pertandingan. Suatu hal yang tidak perlu dan Ernest melakukan itu.

Tapi saya nilai itu hal yang “wajar”. Setahu saya, di persilatan mahasiswa Bandung dan Jatinangor, Ernest tak ada tampak di forum-forum diskusi politik, pergerakan, dan sejenisnya. Ketika itu Ernest tidak terlibat perdebatan panas soal gerakan mahasiswa. Justru saya yang terlibat debat panas dengan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), namun hanya sebatas tataran debat intelektual. Secara pribadi saya tak pernah bermasalah dengan aktivis KAMMI.

Pendeknya, Ernest tidak lahir dari sebuah proses gerakan politik yang panjang, minimal dari era mahasiswa. Setahu saya dia aktif lebih banyak memang di dunia hiburan. Mungkin ini yang menyebabkan pembacaan dia terhadap situasi dan konstelasi politik menjadi tidak terlalu matang. Akibatnya, cuitan politiknya yang sampai menyentuh wilayah-wilayah Islam tidak berkembang biak menjadi perdebatan intelek, memancing diskursus produktif, dan membela nilai-nilai universal, melainkan rontok sebagai ujaran fans belaka, yang membelah kutub menjadi kami vs kalian.

Sebagai seorang yang juga seniman, Ernest betul-betul gagap untuk menyuarakan seni sebagai suara nurani manusia siapapun manusianya. Ernest memperlakukan kesenimanannya sebagaimana politisi praktis mendulang suara. Ini yang saya sesalkan. Kasihan jika bakat dan ketekunan seninya berakhir di atas cap nisan sebagai buzzer.

Celakanya lagi, Ernest merepresentasikan diri sebagai duta merek Tolak Angin Sido Muncul. Perusahaan terbuka (SIDO) yang punya kapitalisasi pasar Rp8,3 triliun. Untung saja heboh Ernest ini tak menjadi badai yang merontokkan harga saham SIDO. Kemarin SIDO malah menguat 5 poin menjadi Rp555.

Hal yang lumrah jika SIDO memutus kontrak Ernest, sama seperti saya lihat karaoke Masterpiece sampai menempelkan pengumuman di outlet-outlet-nya bahwa Masterpiece bukan milik dan tidak ada kaitan dengan Ahmad Dhani.

Memang tak mudah menjadi terkenal, menjadi pohon yang tinggi. Kata Pramoedya Ananta Toer, kalau akar dan batang sudah kuat, akan diuji dengan badai. Namun lain ceritanya kalau badainya adalah urusan fitnah dan SARA semacam ini. Ini bukan ujian, tetapi blunder.

Semoga Ernest bangkit dan fokus pada karya saja. Di situ dia lebih bisa berguna bagi umat manusia.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Mengapa Ernest Prakasa? | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: