Duit Baginda Raja

Thursday, March 2nd, 2017 - Opini Publik, Rumor

Segala macam sisi tentang Raja Salman dibelejeti oleh media (dan orang) Indonesia. Dari yang sepele, sampai yang njelimet. Di Istana Bogor ada patung telanjang yang ditutupi pohon, foto salaman dengan Ahok jadi bahan berantem gara-gara letak cincin, beredar pula chat prank Raja Salman yang transfer Rp2 triliun. Saya termasuk yang menerima chat dimaksud.

Soal “content marketing” banyak orang berbakat di Indonesia rupanya.

Tapi saya tertarik soal duit. Kata para player, fokuslah hanya pada yang konkrit-konkrit. Yang konkrit, ya duit. Apalagi coba. Arab Saudi dianggap negara kaya-raya karena minyak. Karena kaya-raya, dipikirnya oleh sebagian kalangan, Raja ke Indonesia ingin bikin hujan duit. Lihat saja. Sang Raja belum sampai, WA chat prank viral Raja transfer Rp2 triliun sudah beredar luas.

Dalam dunia finansial, selain untuk transaksi dan berjaga-jaga, fungsi duit adalah untuk spekulasi. Sejumlah pemain saham kawakan bahkan berpendapat trading lebih ditentukan faktor psikologis ketimbang analisis teknikal maupun fundamental. Salah satu spekulasi politik menggunakan psikologis duit yang “sukses” di negara ini menurut saya ya jargon 1 caleg Rp5 miliar yang diintrodusir oleh partai yang baru didirikan (sekarang sudah berkuasa) beberapa tahun lalu itu.1 caleg Rp5 miliarnya tidak terealisasi. Partai barunya malah kebanjiran pendaftaran caleg + KTP di seluruh Indonesia, yang berbuah manis lolos verifikasi parpol di Kemenkumham.

Kembali ke Arab. Salah satu organisasi pengusaha muda di negara ini optimistis sekali menyebut kedatangan Raja adalah kesempatan mengakses dana tak terbatas (unlimited fund) dari Timur-Tengah. Cakapnya, jangan sampai kalah gesit dengan Malaysia dan Singapura yang sigap sekali menangkap uang dari Timur-Tengah. Apalagi sebelum ke Indonesia, kabarnya BUMN minyak Arab, Saudi Aramco, mau tanam duit Rp97 triliun untuk bangun kilang minyak bersama Petronas.

Di jiran, banyak cabang bank “keturunan” Timur-Tengah yang berdiri. Di Indonesia juga ada sih, QNB (Qatar)–BKSW, misalnya, yang berkongsi dengan — yang ada bau-baunya keluarga Wapres. Itu juga tahun lalu rugi Rp650 miliar.

Sebenarnya, sinyal-sinyal bahwa urusan ini tidak konkrit bisa diendus dari reaksi pemerintah. Jokowi dalam Vlog makan bersama Raja cuma berucap kunjungan Raja adalah kunjungan balasan atas kunjungannya ke Arab Saudi pada 2015. Selebihnya bahasa klise diplomasi yakni meningkatkan hubungan bilateral kedua negara. Para pembantu presiden juga berucap klise tentang kerjasama di bidang perdagangan, pariwisata, kebudayaan.

Sinyal “tidak semangat” bisa dibaca juga dari reaksi Kementerian Keuangan, yang salah satu pejabatnya berkata, Arab Saudi dan Indonesia itu senasib. Bagaimana mau borong surat utang kita kalau Arab Saudi juga sama-sama sedang bokek karena lesunya harga minyak. Arab Saudi juga lagi butuh duit.

Tahun lalu defisit anggaran Arab Saudi sudah 20% di atas PDB. Diterbitkanlah surat utang US$5 miliar yang menyasar investor di luar Arab. Kuwait, Qatar, juga senasib. Defisit anggaran dan terbitkan surat utang. Sementara pemerintah Maret ini mau menerbitkan obligasi syariah (Sukuk) yang menyasar sebenarnya bukan investor Teluk tetapi Eropa Barat, Jepang, dan Amerika Serikat.

Pendeknya begini. Ada mindset yang keliru dari bangsa ini jika sudah bertalian dengan duit. Percampuran antara mental ingin makmur dengan cepat, mental melihat sosok berdasarkan tampilan luar semata, mental tidak memverifikasi fakta, dsb. Semua itu menumbuhkembangkan kekeliruan berpikir dan sikap yang terlalu cepat mengambil posisi/keputusan terhadap fakta yang belum tentu teruji validitasnya. Akibatnya, salah menilai orang, salah menilai situasi, salah mengambil keputusan. Kacau.

Kenapa tidak begini? Penting untuk pertama kali menyajikan perilaku dan sikap yang membuat orang percaya (trust) dan nyaman berurusan dengan negara ini. Menghargai dan menghormati Raja sebagaimana adanya beliau. Menempatkan Raja sebagai sahabat sesama pemimpin negara Muslim besar di dunia. Dengan begitu, bangsa ini akan dikenang sebagai bangsa yang memang bisa dipercaya dan nyaman untuk diajak cuan sama-sama.

Pernah saya mendengar cerita tentang seorang investor kelas dunia yang akhirnya memutuskan untuk tanam duit di negara ini, karena alasan yang konyol dan bikin nyeri hati. Bukan apa-apa alasannya. Investor itu membuka salah satu berita di media daring berbahasa Inggris tentang Indonesia yang baru saja selesai pemilu legislatif. Dia bilang, Indonesia ini bagus untuk investasi (mungkin lebih tepatnya bagus untuk diacak-acak?). Penduduknya banyak, sumber daya alamnya ada, negaranya luas, tetapi parlemennya diisi artis dan pelawak.

Masuk deh tuh barang!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Duit Baginda Raja | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: