Kritis terhadap Berita-Berita Teroris

Monday, December 12th, 2016 - Dapur Berita, Opini Publik, Teknik Liputan

Salut dan apresiasi atas kerja polisi yang mengungkap kasus dugaan terorisme di Bekasi. Tentu kerja keras polisi — apalagi yang berjibaku di lapangan — harus dihargai. Jangan dicemooh.

Natal dua pekan lagi. Polisi kelihatannya ingin memberikan sinyal rasa aman bagi masyarakat yang akan merayakan Natal dan Tahun Baru. Jika benar asumsi polisi bahwa Dian Yulia Novi yang diduga akan meledakkan bom di Istana Negara terjadi, tentu hal itu akan mengerikan sekali bagi eksistensi pemerintahan Jokowi. Simbol negara luluh lantak!

Dari sisi pers, berita tentang teroris Bekasi tentu mengisi keringnya berita saat libur panjang akhir pekan ini. Kanal berita jadi semarak. Isu terorisme Bekasi bisa digarap secara kontinu. Bayangkan jika peristiwa ini terjadi pada saat hari biasa yang ramai dengan beragam isu berskala nasional. Tentu akan tumpang-tindih dengan beragam isu lain.

Namun pola pemberitaan tentang terorisme di berbagai media berlangsung sama saja: pernyataan bersumber hampir keseluruhan dari polisi. Foto yang disebarkan juga berasal dari polisi. Semuanya sudut pandang polisi. Sudut pandang pemerintah.

Visualnya mirip dari waktu ke waktu: ada Humas dari pihak polisi, ada Densus 88 berseragam lengkap, ada foto pelaku yang berjenggot/berhijab (Lihat foto Dian yang tersebar hari ini), ada penggeledahan rumah-rumah yang diduga terlibat, ada pernyataan pengamat yang membenarkan analisis polisi tentang jaringan-jaringan, ada ISIS dan baiat.

Hal itu berlangsung terus menerus. Dari waktu ke waktu. Sampai terbentuk pemikiran publik bahwa terorisme ancaman bagi Indonesia. Pelakunya adalah kelompok Islam garis keras yang mempengaruhi para “pengantin”. Kalau tidak ditangkap akan bikin bom di mana-mana.

Tapi, bukan berarti polisi salah sepenuhnya. Kasus ledakan bom memang terjadi di Indonesia. Faktanya ada. Korban meninggal dan luka bergelimpangan. Dan itu amat menyedihkan.

Pertanyaannya, kapan semua rangkaian teror ini berakhir? Kapan kita sebagai warga negara bisa merasakan damai yang sebenar-benarnya? Kapan kita bebas dari ketakutan?

Dari sudut pers, pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, penting untuk direnungkan. Bisa dijadikan pegangan ketika ingin membentuk sudut pandang berita dan penggalian fakta. Apa tujuan menayangkan dan meliput berita terorisme? Mengapa berita seperti itu penting untuk ditayangkan? Pendidikan dan informasi seperti apa yang berguna buat masyarakat? Bagaimana menciptakan sudut pandang yang kaya dan beragam untuk menghasilkan diskursus publik yang produktif mengenai terorisme?

Faktor pendidikan yang lemah menangkal ideologi ekstrem. Kesenjangan ekonomi yang lebar. Ketidakpuasan politik. Arus globalisasi dan liberalisme. Pemaknaan ulang atas tafsir religiusitas. Konflik politik antarelite. Dan sebagainya.

Hal-hal semacam itu mungkin bisa digali oleh pers, yang tentunya tidak bisa dilakukan hanya di ruang konferensi pers kantor polisi.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Kritis terhadap Berita-Berita Teroris | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: