Agama dan Kerinduan yang Terdalam

Thursday, December 8th, 2016 - Dapur Berita, Opini Publik, Rumor

Kebaktian Kebangunan Rohani (Foto: Reformed Injili)

Kadang kita meremehkan yang namanya rindu, yang secara harafiah berarti sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu. Bentuk dan sebutannya beragam: rindu Tuhan, rindu ibu, rindu kemenangan, rindu tebal…

Ada pula istilah perindu. Buluh tipis yang biasa digunakan untuk suling; pekasih, guna-guna.

Rindu adalah perasaan terdalam, paling personal. Rindu akan Tuhan, Sang Maha Segalanya, menurut saya, adalah esensi dari religiusitas yang membuat saya selalu mengingat dan terus mengingat: darimana saya, mengapa saya ada, ke mana setelah mati.

Kerinduan akan Tuhan yang kita ekspresikan tentunya adalah pengalaman religius yang sakral dan dalam, yang sejatinya akan menjauhkan kita dari sikap keberagamaan yang menang-menangan, gigantik, egoistik, dan segala macam nafsu duniawi yang merusak.

Iman, agama-kepercayaan, sembahyang adalah wujud kerinduan. Dalam kehidupan bernegara, kesemuanya itu diakomodasi. Hak untuk beribadah dan menjalankan agama dan kepercayaan adalah hak konstitusional yang tidak bisa dikurangi dalam keadaan apapun.

***

Tapi hari ini ada berita ramai soal pelarangan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di Sabuga, ITB, Bandung, oleh salah satu ormas agama. Saya ingatkan, kita harus jeli, cek-ricek, konfirmasi keseluruhan cerita dan faktanya supaya posisi kita tetap adil, tidak emosional. Meskipun secara prinsip kita sepakat bahwa pelarangan terhadap kegiatan ibadah adalah melanggar konstitusi.

Saya mengamini kata Paus Fransiskus: jika kita bicara tentang kekerasan dalam Islam, bicarakan juga kekerasan dalam Katolik (kebetulan konteksnya agama saya sendiri: Katolik). Ya, Katolik punya sejarah buruk tentang kekerasan terhadap mereka yang berseberangan dengan gereja. Bisa anda baca referensinya di mana-mana. Lalu menurut Paus, membicarakan Islam tidak selalu sama halnya dengan membicarakan soal kekerasan dan terorisme.

Pesan moralnya sederhana saja: jangan menyamaratakan. Jangan menciptakan label. Jangan mendiskriminasi sesama. Ini semua berlaku umum. Universal. Merupakan prinsip kemanusiaan.

Dalam kasus Bandung, mungkin banyak hal yang harus dilihat secara kritis. Kritis itu artinya bisa memilah-milah. Banyak aspek yang perlu ditengok. Secara formal, soal perizinan, ketertiban umum, penegakan hukum. Secara sosiologis, secara politik, secara ekonomi, secara budaya…

Saya menentang keras segala bentuk pelarangan ekspresi keagamaan oleh siapapun juga. Negara wajib melindungi hak konstitusional siapapun warga negara yang mengejawantahkan kerinduan untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Apapun agamanya.

Namun, ada prinsip, tentu ada cara. Ada cara, tentu ada aturan. Mengapa harus diatur? Karena kita hidup bersama-sama dan berbeda-beda. Ada kepentingan umum yang baik yang harus juga dijaga.

Pendeta Stephen Tong dengan KKR-nya saya sudah dengar sejak lama. Sejak masa kuliah di Bandung dahulu. Pamflet dan promosinya sudah sering saya lihat tebarannya di mana-mana. Saya juga pernah menyaksikan KKR yang diadakannya.

Di kalangan internal pendeta, sebenarnya Tong juga menghadapi banyak pertentangan. Salah satu kritik keras dari internal yang saya tahu adalah bahwa Tong kerap merujuk ajarannya kepada ajaran agama lain, terutama Alquran. Tong adalah pendeta dari golongan reformed. Seorang ahli teologi dan juga musisi/komposer.

KKR yang diadakan pun kerap dipadukan dengan aktivitas penyembuhan penyakit. Orang sakit disembuhkan dan dipertontonkan di muka khalayak. Dari dulu saya sudah dengar bahwa aktivitas kebangunan dan penyembuhan itu kerap dikritik sebagai ajang kristenisasi.

Saya semakin memahami bahwasannya ekspresi keberagamaan itu beragam. Bukan hanya dalam varian, tetapi cara dan ekspresinya. Cara dan ekspresi itu tidak berlangsung di ruang hampa, tetapi ada dan mengada di tengah-tengah masyarakat. Nah, negara yang harus mengatur ini supaya terjadi yang namanya ketertiban dan keharmonisan.

Aspek kemerdekaan dan kebebasan penting. Aspek keadilan juga penting. Aspek kepekaan sosial juga perlu. Bagaimana, misalnya, negara juga harus berlaku adil terhadap para penghayat dan penganut kepercayaan. Mereka punya keyakinan sendiri, punya ekspresinya sendiri, yang juga sama dengan warga negara lain, yang harus dilindungi.

Lalu apa sebaiknya yang harus dilakukan dalam kasus Bandung? Negara harus bertindak. Memberikan perlindungan terlebih dahulu kepada umat yang tengah ber-KKR itu agar hak konstitusional mereka tidak dihilangkan dan terjadi konflik horizontal antarpihak. Prosedur hukum juga harus dijalani oleh penegak hukum: mencari fakta dan bukti hukum untuk melakukan penindakan terhadap yang melakukan pelanggaran aturan perundang-undangan.

Masyarakat sebaiknya tenang dan tidak terbelah gara-gara emosi yang dalam beberapa kasus dipicu oleh informasi yang keliru. Media massa bertanggung jawab untuk menegakkan prinsip jurnalistik agar menghasilkan fakta yang sebenar-benarnya.

Begitu idealnya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Agama dan Kerinduan yang Terdalam | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: