Apa Jadinya Jika KFC yang Digratiskan…

Tuesday, December 6th, 2016 - Dapur Berita, Opini Publik, Rumor
Pengumuman Sari Roti di Surat Kabar pada Selasa, 6 Desember 2016

Pengumuman Sari Roti di Surat Kabar pada Selasa, 6 Desember 2016

Saya tidak dalam posisi membenarkan/menyalahkan pengumuman Sari Roti terkait aksi 212. Tapi, begini saya pikir konstelasi masalahnya yang menyebabkan pengumuman itu muncul. Pesan dari perusahaan Sari Roti intinya adalah: mengapresiasi aksi super damai 212; berkomitmen pada nasionalisme, keutuhan NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika; dan klarifikasi bahwa roti “Gratis untuk Mujahid” dipesan oleh salah seorang konsumen melalui salah satu agen di Jakarta tanpa sepengetahuan dan izin perseroan.

Saya beranggapan pemborong Sari Roti itu berniat baik untuk berkontribusi pada aksi 212. Kalau mau bermain menggunakan politik simbol, ya harusnya yang digratiskan adalah KFC! (Soal ini nanti saya bahas di bawah).

Sari Roti pun tidak dirugikan secara bisnis perseroan karena rotinya dibeli. Ada pemasukan untuk perseroan. Per tulisan ini dibuat saham ROTI aman-aman saja di Rp1.530 meskipun sayup terdengar ada ancaman boikot.

Tapi kalau dilihat lebih dalam, persoalannya tidak sesederhana itu. Saya bisa memahami tak mudah memposisikan diri bagi perseroan dalam situasi isu sepanas ini, apalagi rentan SARA. Sari Roti adalah perusahaan publik (terdaftar di bursa dengan kode ROTI/PT Nippon Indosari Corpindo). Perusahaan ini menaungi 2.400-an karyawan yang kemungkinan sebagian besarnya muslim.

Komposisi pemegang saham ROTI juga “unik”. Tak ada yang mayoritas lebih dari 50%. PT Indoritel Makmur Internasional Tbk/DNET (31,5%), Bonlight Investments., Ltd (25,1%), Pasco Shikishima Corporation (8,5%), Sojitz Corporation (4,2%%), publik (30,6%). Dengan demikian, saya pikir wajar Sari Roti membuat pengumuman demi menjelaskan posisi di hadapan publik, pemegang saham, dan otoritas bursa.

Pendiri dan CEO Sari Roti adalah Wendy Sui Cheng Yap, perempuan keturunan. Putri dari Piet Yap, mantan petinggi di Salim Group yang turut mendirikan Bogasari Flour Mills, perusahaan tepung terigu itu.

Total aset ROTI per September 2016 adalah Rp2,8 triliun. Penjualan bersih mereka Rp1,8 triliun dengan laba bersih Rp200-an miliar.

Kalau mau lebih jauh lagi menilik konstelasinya, salah satu pemegang saham Sari Roti yaitu DNET adalah perusahaan yang berinvestasi juga di tempat lain. Salah satunya Kentucky Fried Chicken (KFC) melalui PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST). Direktur Utama KFC adalah Ricardo Gelael, Komisaris Utama adalah Anthony Salim. Gelael Group dan Salim Group adalah pengendali perseroan.

Pemegang merek KFC adalah Yum! Asia Franchise Pte Ltd, suatu bagian dari Yum! Restaurants International (YRI). YRI sendiri adalah sebuah badan usaha dari Yum! Brands Inc, sebuah perusahaan publik di Amerika Serikat dan pemilik waralaba dari empat merek ternama lainnya, yaitu : Pizza Hut, Taco Bell, A&W, dan Long John Silvers (dikutip resmi dari situs kfcku.com). Klaimnya adalah untuk kategori ayam goreng cepat saji, tak ada merek lain yang bisa mengalahkan KFC.

Jadi bisa dibayangkan bagaimana politisnya jika aksi 212 lalu ada yang menggratiskan KFC yang kerap dipersepsikan sebagai simbol Amerika Serikat.

Sudahlah, semua ini hanya informasi latar. Siapa saja bebas berpendapat.

Semoga aksi terus berlangsung damai, dagangan roti juga laku keras sehingga karyawan sejahtera dan bisa terus ekspansi untuk membentuk lapangan kerja baru dan membayar pajak untuk pembangunan negeri ini.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Apa Jadinya Jika KFC yang Digratiskan… | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: