(Jangan) Banyak Ribut Tapi Miskin Prestasi

Sunday, December 4th, 2016 - Opini Publik, Rumor
img_2141

Timnas Indonesia AFF 2016 (Foto: Bola.net)

Pagi ini sejuk sekali: Timnas menang 2-1. Masyarakat senang. Melihat laga lawan Vietnam tadi, saya sepaham dengan Nguyen Huu Tjhang, sang pelatih Vietnam: Indonesia semakin berbahaya!

Semoga di Hanoi nanti, Timnas menang lagi. Amin.

Terlepas dari segala kekurangan teknis permainan, Timnas yang sekarang ini menurut saya banyak memiliki kelebihan, terutama dalam hal suasana tim dan kepribadian/sikap para pemainnya. Suasana tim hangat, egaliter, tak ada bintang dan non-bintang. Para pemain muda menghormati yang senior, yang senior tidak memandang remeh yang muda.

Bandingkan dengan ketika pemain “bintang” seperti Christian Gonzales ada dalam tim dan terlihat diistimewakan (atau mengistimewakan diri?).

Saya dengar, di Timnas yang sekarang ini, bahkan bonus dibagikan rata. Bukan hanya untuk yang mendapatkan menit bermain, melainkan pemain cadangan dan pemain non-kostum mendapatkan sama. Termasuk kakak Boaz, sang kapten. Sesuatu yang jarang terjadi sebelumnya.

Dalam keseharian tim, perlakuannya juga sama. Andik yang relatif menjadi bintang di Malaysia, sama saja dengan pemain timnas lain. Gotong-gotong barang juga sama seperti yang lain. Evan Dimas yang The Rising Star dan pernah tes di Spanyol juga sama, tidak ada keistimewaan. Stefano Lilipaly sejauh ini saya lihat juga tidak neko-neko tingkahnya, padahal kariernya di luar negeri lumayan juga. Idem dito Irfan Bachdim yang semakin matang baik dalam hal permainan maupun kepribadian. (Sayang, Irfan cedera sesaat sebelum AFF 2016 berlangsung).

Pemain asal PS TNI terlihat memiliki stamina, disiplin, dan daya juang yang lebih. Dan itu menular ke pemain lain. Lihat dan perhatikan saja. Pemain Timnas yang sekarang jarang sekali yang berpura-pura kesakitan, diving, dan lambat bangun setelah jatuh. Kabarnya Pangkostrad Edy Rahmayadi yang menjadi Ketum PSSI sekarang paling anti terhadap pemain yang cengeng. Instruksinya kalau jatuh secepatnya harus bangun. Diving haram hukumnya.

Sementara pemain jebolan U-19 Indra Sjafri terlihat memiliki karakter anak baik dan sopan yang mengagumkan.

Mulai kelihatan ada perubahan kepribadian, sikap dan budaya para pemain ke arah yang lebih positif: tahu kapan harus menutup mulut, bahasa protes yang patut, menerima kekalahan dan menyikapi kemenangan… Your attitude determines your altitude. Sikapmu menentukan seberapa tinggi yang bisa kamu capai.

Good!

Kita memang tak bisa berharap Timnas secara instan juara di semua ajang tingkat ASEAN, Asia, dunia. Banyak faktor yang perlu dibereskan. Olahraga adalah cermin kemajuan suatu bangsa. Sebagai sebuah sistem dan industri, sepakbola harus ditata, dikasih nafas dan integritas, bukan dikelola asal-asalan dan sambilan. Mengangkat prestasi sepakbola suatu negara bisa jadi sama artinya dengan melakukan revolusi kebudayaan suatu bangsa.

Sepakbola adalah harga diri suatu bangsa. Saya sendiri merasa, Indonesia Raya yang dilantunkan bersama-sama di stadion adalah Indonesia Raya termurni dan paling bikin merinding, jika dibandingkan dengan ketika upacara bendera yang terancam menjadi rutinitas saja.

Jadi, sudah betul jika pembinaan sepakbola menuju prestasi dunia wajib memperhatikan pembinaan kepribadian dan sikap para pemain. Kepribadian dan sikap para pemain muncul dari keteladanan yang ada di dalam diri para pengelola cabang dan pimpinan klub. Pengelola cabang dan pimpinan klub adalah representasi harapan masyarakat luas. Masyarakat luas adalah keseluruhan rakyat di negara ini, siapapun dia tak peduli suku, agama, ras, dan golongannya.

Nasihat-nasihat dan teladan-teladan seperti iman dan akhlak yang baik, memandang manusia sebagaimana adanya manusia tanpa membeda-bedakan berdasarkan primordialisme sempit, kerja keras menentukan prestasi, saling menghormati antarsesama, menghargai proses sebelum hasil, kerendahan hati, kecintaan terhadap tanah air, pantang menyerah, berpikir positif, kejujuran dan jauhi perilaku korup, kesopanan dan tata krama…sebaiknya mulai diinternalisasikan lebih kuat lagi kalau kita tidak ingin pada HUT RI ke-100 nanti bangsa ini masih begini-begini saja: kebanyakan ribut tapi miskin prestasi.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

(Jangan) Banyak Ribut Tapi Miskin Prestasi | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: