Indonesiaku Hari-Hari Belakangan Ini

Thursday, December 1st, 2016 - Dapur Berita, Opini Publik, Rumor

Situasi makin tidak enak dan mengganggu kegiatan ekonomi. Jika 500 ribu orang saja yang ikut aksi 212, itu sudah mengkhawatirkan. Itu pernyataan kawan saya, seorang petinggi di salah satu grup usaha besar di Indonesia, tadi malam.

Ada kenalan lain, petinggi juga di grup usaha besar di Indonesia, yang nada pernyataannya sama. Percaya, deh. Semua ini hulu dan hilirnya soal ekonomi. Kata dia, tadi sore.

Sebetulnya, saya menghargai ada umat Islam yang memang betul-betul terusik atas ucapan Ahok atas dasar keyakinan yang murni. Saya hargai juga polisi yang sudah memproses hukum hingga Ahok tersangka (dan sebentar lagi disidangkan). Saya tak membahas itu. Yang saya mau bahas soal dapur kita semua. Bagaimana konstelasi semuanya ini. Bagaimana informasi/berita sebagai peristiwa jurnalistik bermutasi menjadi peristiwa sosial-politik, bermutasi lagi menjadi peristiwa ekonomi. Selain makhluk politik, manusia juga makhluk ekonomi. Hukum ekonomi yang terutama adalah modal sekecil-kecilnya, untung sebesar-besarnya.

Rumor Newmont: Berita sebagai Mesin Uang

Saya coba berjarak dengan semuanya. Meskipun saya melihat, informasi/rumor/berita yang berkembang soal Ahok dan 212 ini memang telah menggerakkan sentimen publik. Sentimen publik yang digerakkan oleh informasi adalah basis individu untuk mengambil sikap dan keputusan. Itulah mengapa, pertarungan di segala jenis platform media, termasuk medsos, adalah pertarungan memperebutkan sentimen publik. Sentimen publik adalah aset penting kekuasaan politik. Kekuasaan politik (dan sosial) adalah modal penting penguasaan sumber daya ekonomi.

Dalam hal ini isu SARA, korupsi, hingga skandal seks para pejabat publik/elite bisa dimaknai sebagai penyulut untuk menggerakkan sentimen melalui instrumen informasi. Siapa menguasai media, dia menguasai kepala masyarakat.

Jadi, agama dan Tuhan tetap suci, apapun yang terjadi di dunia ini. Menurut saya.

Umat Islam salat dengan latar belakang gereja (Gresnews.com)

Umat Islam salat dengan latar belakang gereja (Gresnews.com)

Kembali ke pokok soal. Semua yang terjadi di media massa dan media sosial belakangan ini muaranya adalah penguasaan sumber daya ekonomi dan politik. Ingat, semua sedang melakukan fundraising: pemerintah fundraising melalui tax amnesty, penjualan aset BUMN, penerbitan surat utang, dsb…NGO fundraising melalui lembaga donor…Perusahaan fundraising melalui perbankan, bursa, dan dana lainnya dalam maupun luar negeri…Individu-individu juga fundraising melalui investasi dan macam-macam.

Private Equity pun tidak diam. Mereka menghimpun dana (luar negeri pula), baik dari dana pensiun, hibah pendidikan, cadangan negara lain, hingga keluarga-keluarga superkaya. Mereka tengah-tengok kapan dengan mudah membeli murah aset negara ini dan menjualnya lagi dengan harga super tinggi. Bisa jadi para operator mereka tengah mengail di air keruh, sambil sarapan di hotel dan membaca koran, yang membuat mereka tertawa betapa mudah diperdayainya orang-orang Indonesia ini.

Teori Pareto selalu berlaku. Hanya sedikit kalangan menguasai sebagian besar sumber daya. Contoh di sektor properti. Ingat, investasi terbaik di bumi adalah bumi (tanah). Mari lihat komposisinya. Tiga grup usaha menguasai terbanyak cadangan lahan di Indonesia. BSD (Sinarmas) menguasai 4.072 hektare, Hanson (Partner Ciputra) 2.410 hektare, dan Intiland (Hendro Gondokusumo) 2.046 hektare.

Sektor keuangan (perbankan), kehutanan, manufaktur, telekomunikasi, properti, migas, dan tambang adalah incaran penguasaan para elite yang tengah bertarung. Batubara mulai menggeliat (sudah US$92,5/ton), emas moncer (Rp591 ribu/gram), properti juga bernafas lagi (aturan orang asing boleh memiliki properti sudah berlaku), Rp140 triliun target dana repatriasi per Desember ini, dsb, adalah tanda-tanda zaman.

Aksi 212 yang dibayangi ancaman ketakutan dan kerusuhan, tentu mempengaruhi sentimen publik. Ancaman bom siang tadi menyebabkan investor asing aksi jual (net sell) di bursa sampai Rp1 triliun. Sepekan terakhir demikian juga, jual terus. Ancaman rush money yang digadang-gadang bakal menyebabkan kerusakan sistemik, meskipun akhirnya layu, sempat tersiar juga dan disikapi pemerintah. Aksi 212 nanti juga dibayangi isu pemogokan buruh, meskipun saya dapat rilis dari KSPSI sebagai konfederasi buruh pertama dan terbesar di Indonesia pimpinan Andi Gani Nena Wea, melarang anggotanya ikut aksi 212. Buruh diminta fokus mengerjakan isu upah minimum pasca pemerintah mengumumkan UMP 29 November lalu yang terbesar di Jakarta Rp3,3 juta dan terendah di Yogyakarta Rp1,3 juta.

Jadi memang urusannya tidak sederhana. Di satu sisi betul ada soal agama, soal hukum, soal politik lokal (pilkada). Tapi di sisi lain, ini juga soal pertarungan penguasaan elite akan sumber daya ekonomi strategis. Grup konglomerasi yang relatif mapan seperti Astra, Sinarmas, Lippo, Djarum…adalah kunci penting penguasaan ekonomi nasional. Lapisan berikutnya seperti MNC, Bakrie, EMTK, Media Group yang relatif menguasai sebagian sumber daya ekonomi strategis, namun juga dominan dalam proses pembentukan sentimen publik melalui media.

Beberapa pemain di luar lingkaran itu — termasuk para pemburu rente — juga memasang ancang-ancang untuk masuk sirkulasi ring-1 konglomerasi nasional. Beberapa mungkin menjadi “donatur” baik di sisi sebelah sana maupun sebelah sini.

Pemerintah sebagai regulator tentu terimbas sebagai wasit (bahkan sebagai pemain) dalam hiruk-pikuk pertarungan ini. Aparatus negara seperti penegak hukum tentu juga terseret dalam dinamika ini.

Rumusnya sederhana saja: beli di saat murah, jual di saat mahal. Kepanikan sistemik, kerusuhan, ketidakstabilan politik, ketidakpastian hukum akan memicu kekacauan ekonomi negara. Kekacauan ekonomi negara akan mempengaruhi dunia usaha. Tekanan ekonomi akan memicu penjualan aset murah yang berujung kebangkrutan. Di sinilah transaksi terjadi. Elite di segala sektor akan berganti. Masyarakat terkena dampak: cemas, tekanan ekonomi, PHK, pengangguran, ketidakpastian hidup, dsb.

Itu skenario terburuk.

Jadi, yang paling bisa kita lakukan sebagai individu warga negara adalah menjaga kewarasan. Rasional dalam melihat persoalan. Cerdas dalam menyerap informasi. Jangan mudah dan cepat menetapkan sentimen sebelum memverifikasi faktanya. Logis dan terukur dalam mengambil keputusan (apalagi keputusan menyangkut keuangan).

Hoax akan tetap ada bagaimana pun dibendungnya. Berita ngawur akan selalu ada. Website abal-abal akan terus beranak pinak. Segala macam informasi akan merasuki ruang paling pribadi dalam hidup kita. Tidak apa-apa. Semoga kepercayaan kita pada Tuhan yang tidak pernah tidur dan kecintaan kita pada keluarga akan membuat kita selalu eling, waras, dan semoga mulia, dalam bekerja.

Tenang, Indonesia baik-baik saja.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Indonesiaku Hari-Hari Belakangan Ini | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: