Jonru, Djelantik Bicara Apa Sebenarnya?

Wednesday, November 30th, 2016 - Opini Publik, Rumor

Istri saya yang kasih tahu ada yang ramai di medsos antara Ni Luh Djelantik dan Jonru. Seru, katanya. Yang satu pengusaha sepatu, yang satu terkenal di medsos sebagai kritikus sengit Jokowi-Ahok. “Masak papi gak tahu sih,” kata istri saya.

(Saya tidak kenal dua-duanya. Apalagi kontak dan bertemu. Jokowi-Ahok saya kenal. Sama seperti kita semua. Tapi Jokowi-Ahok tidak kenal saya. Apalagi bertemu. Saya yang ogah ketemu semua orang yang saya sebut itu).

“Soal apa?”
“Soal donasi-donasian. Lihat sendiri aja di Youtube, ada.”
“Oke.”

Baru saya simak. Ternyata betul. Seru juga. Ni Luh mempersoalkan transparansi dan pertanggungjawaban dana masyarakat yang dikumpulkan oleh Jonru lewat organ bernama Sedekah Sahabat: Membantu dengan Cinta untuk Pemberdayaan Umat. Aktivitasnya melakukan kampanye (terutama via Facebook).

Tercatat sudah ada 52 kampanye sejak 2014, ketika awalnya menggalang dana untuk Mas Karman. Terkumpul Rp1.471.030.378. Sedekah produktif, istilahnya. Provider kontak emailnya: [email protected]. Rekening bank juga masih atas nama pribadi.

Sedekah Sahabat ini ternyata tercatat sebagai salah satu partner dari kitabisa.com yang tagline-nya adalah situs terpopuler untuk berdonasi di Indonesia. Menghubungkan #OrangBaik.

Kitabisa.com meluncur 6 Juli 2013. Bernaung di bawah Yayasan Rumah Perubahan yang digawangi Prof. Renald Kasali (Guru Besar Fakultas Ekonomi UI).

Oh, berarti begitu urutannya. Baru ngeh saya. Yang berbadan hukum yayasan berarti Yayasan Rumah Perubahannya. Bukan Sedekah Sahabatnya.

Tulisan ini bermaksud baik, memandang semua aktivitas di atas adalah demi kebaikan. Tak ada saya berniat buruk untuk menuduh macam-macam. Hanya saja, karena ada aktivitas penggalangan dana publik, maka banyak orang yang perlu tahu dan memahami juga meskipun bukan penyumbang.

Debat 17 menitan ala Jonru vs Djelantik itu pasti melelahkan. Sudut ring masing-masing mereka beda. Pilihan politiknya beda. Tapi ini tak usah kita pikirkan. Biarkan saja mereka berposisi masing-masing.

Masalah bagi saya adalah kalimat “maksimal 30%” dari dana terkumpul untuk pengelola. 30% dari Rp1,4 miliar berarti sekitar Rp420 juta. Banyak juga (beli Equil dapat 21.000 botol, beli Tequila Jose Cuervo dapat 875 botol). Jumlah itu diambil berdasarkan “kesepakatan” antara pihak pengelola dan beneficiary (penerima manfaat). Tidak harus rata 30%, tapi ada banyak juga yang di bawah itu. Kata Jonru.

Jonru beralasan itu tidak melanggar ketentuan agama (Islam). Ini saya tidak tahu dan tidak mau masuk lebih dalam.

Sebenarnya begini. Berbuat baik sangat dianjurkan. Peduli sesama yang miskin (dhuafa) adalah kebaikan. Tapi menghimpun donasi/sumbangan ada aturannya. Kalau tidak, berabe hidup berbangsa ini.

Yang dibicarakan Djelantik dan Jonru itu menurut saya bukan masalah yayasan. Saya belum menemukan informasi tentang badan hukum Sedekah Sahabat sebagai yayasan. Yayasan sebagaimana diatur UU 16/2001 dan Perubahannya.

Pendeknya begini: yayasan adalah badan hukum yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan, yang tidak mempunyai anggota. Misal, Prof Rhenald memisahkan sebagian hartanya untuk modal awal Yayasan Rumah Perubahan.

Struktur organnya ada Pembina, Pengurus, Pengawas. Keuangannya diaudit oleh akuntan publik dan dilaporkan terbuka di papan pengumuman di kantor yayasan atau surat kabar berbahasa Indonesia bagi yayasan yang memperoleh bantuan negara, luar negeri, atau pihak lain sebesar lebih dari Rp500 juta; mempunyai kekayaan di luar harta wakaf sebesar Rp20 miliar. Contohnya Yayasan Dompet Dhuafa, iklan laporan keuangannya di Republika.

Pendiriannya ada akta notaris, pengesahan menteri, dsb. Yayasan boleh memiliki badan usaha, yang ada aturannya juga, misal penyertaan modal tak boleh lebih dari 25% kekayaan yayasan.

Bahkan di aturan perubahan terbaru (2014) diatur bahwa Kekayaan Yayasan baik berupa uang, barang, maupun kekayaan lain yang diperoleh Yayasan berdasarkan Undang-undang ini, dilarang dialihkan atau dibagikan secara langsung atau tidak langsung, baik dalam bentuk gaji, upah, maupun honorarium, atau bentuk lain yang dapat dinilai dengan uang kepada Pembina, Pengurus dan Pengawas. Melanggar, ada pidananya: paling lama 5 tahun penjara, selain pidana tambahan berupa kewajiban mengembalikan uang, barang, atau kekayaan yayasan yang dialihkan atau dibagikan.

Intinya, yayasan itu ada aturannya. Tidak boleh sembarangan.

Soal pengumpulan sumbangan masyarakat untuk fakir miskin juga ada aturan formalnya. Karena negara bertanggung jawab. Itu amanat Konstitusi. Terbaru itu ada PP 16/2015 tentang Tata Cara Pengumpulan dan Penggunaan Sumbangan Masyarakat Bagi Penanganan Fakir Miskin. Ini aturan turunan dari UU 13/2011 tentang Penanganan Fakir Miskin.

Dalam PP ini disebutkan, Fakir Miskin adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan/atau mempunyai sumber mata pencaharian tetapi tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan dasar yang layak bagi kehidupan dirinya dan/atau keluarganya.

PP ini menegaskan, bahwa pengumpulan dan penggunaan sumbangan masyarakat merupakan sumber dana lain yang sah dan tidak mengikat dalam pendanaan untuk penanganan fikir miskin. “Pengumpulan dan penggunaan sumbangan masyarakat sebagaimana dimaksud dilaksanakan oleh Menteri (yang menyelenggarakan urusan bidang sosial), Gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya,” bunyi Pasal 2 Ayat (2) PP tersebut.

Jadi, pemerintah pun mengumpulkan sumbangan untuk fakir miskin. Kelompok masyarakat mengumpulkan sumbangan juga. Semua ada aturan mainnya untuk ditaati.

Lalu, mengapa semua ini jadi viral? Ya, gara-gara politik. Sebenarnya masalahnya bukan Ahokers vs Haters. Masalahnya lebih penting lagi: soal pertanggungjawaban dana publik yang diperuntukkan buat fakir miskin. Apapun suku, agama, ras, maupun golongannya. Siapapun yang menggalang dananya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Jonru, Djelantik Bicara Apa Sebenarnya? | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: