ILC Libur, Ada Apa?

Tuesday, November 22nd, 2016 - Bisnis Media

Kemarin petang, Karni Ilyas (Host Indonesia Lawyer Club/ILC TvOne) mencuit di akun @karniilyas begini: Dear pecinta ILC: Diskusi ILC, Selasa besok, untuk sementara waktu diliburkan. Sampai ketemu di ILC yang akan datang. Terima kasih.

Saya lihat di lini masa, cuitan itu ramai ditanggapi. Apa alasannya? Mengapa istilahnya “diliburkan”? Sampai kapan? Saya termasuk yang bertanya-tanya seperti itu juga. Dalam hati saja.

Beberapa teman wartawan dan LSM bilang ke saya, tepatnya mungkin menduga, liburnya ILC berkaitan dengan perbedaan preferensi politik Pilkada DKI Jakarta. Faktanya, Golkar (di mana Aburizal Bakrie/Ical sebagai Ketua Dewan Pembina) mendukung Ahok, sementara tayangan ILC, terutama yang mengangkat tema Ahok, dianggap justru “men-downgrade” Ahok.

Ya, siapapun sah berpendapat apa dan bagaimana. Ini negara demokrasi bukan?

Saya bukan orang yang membabi-buta mendukung atau menolak siapapun dalam Pilkada DKI. Pikiran saya sederhana: tanya orangnya langsung saja. Malam tadi saya kontak Pak KI. Tanya, sebenarnya ada apa. Jawaban pertama: Agar negeri jadi sejuk.

Saya balas pakai emoticon senyum.

“Ya, harusnya forum seperti ILC dibebaskan sebagai katup pengamanan. Toh, saya mencoba selalu mendinginkan kemarahan,” kata KI.

Kalau air dan ikannya lagi keruh, seharusnya kolamnya jangan ditutup. Kata saya. Lalu saya kirim kutipan penjelasan UU Pokok Pers yang bunyinya seperti ini: “Yang dimaksud dengan ‘kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara’ adalah bahwa pers bebas dari tindakan pencegahan, pelarangan, dan/atau penekanan agar hak masyarakat untuk memperoleh informasi terjamin.”

“Ya, itu inti demokrasi…,” kata KI.

Saya tak terlalu peduli pilihan politik pada Pilkada DKI, meskipun saya terdaftar sebagai pemilih. Bagi saya ini adalah preseden buruk buat pers nasional. Pembungkaman namanya.

“Ya, masih begitu ternyata negeri ini,” kata KI.

Dalam percakapan semalam itu, KI menolak membeberkan detail tentang ada apa di balik liburnya ILC. Apakah karena beliau cuti? Sakit? (Hal yang beberapa kali memang terjadi ketika ILC tidak tayang). Atau karena apa? Politik? Bisnis? Asupan iklan kurang? Saya belum mendapatkan konfirmasi akurat soal itu dan tidak mau mengumbar dugaan dan spekulasi.

Mari berpikir jernih. Liburnya ILC sebetulnya menempatkan kerugian paling besar di pihak masyarakat. Hak masyarakat untuk memperoleh informasi dijamin oleh konstitusi (hak konstitusional). Menurut aturan perundang-undangan dan konvensi internasional, pembatasan atas hak untuk bebas menyatakan pendapat dan memperoleh informasi hanya diperbolehkan apabila diatur menurut hukum dan dibutuhkan untuk menghormati hak atau nama baik orang lain dan melindungi keamanan nasional atau ketertiban umum atau kesehatan atau moral masyarakat. Kondisi itu pun: harus dinyatakan oleh hukum; harus dijustifikasi sebagai sesuatu yang dibutuhkan negara.

Saya kutipkan dari artikel Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo (Stanley) berikut ini:

“Pembatasan itu tidak boleh membahayakan hak itu sendiri. Tidak seorang pun boleh menjadi subyek pembatasan dan sanksi, serta dirugikan karena pendapat atau kepercayaannya. Ekspresi dapat dihukum sebagai ancaman keamanan nasional jika pemerintah dapat menunjukkan bahwa ekspresi itu ditujukan atau dapat memotivasi kekerasan yang akan terjadi atau ada hubungan langsung dan dekat antara ekspresi dan kekerasan tersebut. Namun tidak seorang pun boleh dihukum karena ekspresi yang mengandung kritik atau penghinaan terhadap kebijakan pemerintah atau pejabat publik.”

Faktanya, sampai saat ini saya belum mendengar ada keputusan hukum maupun keputusan otoritas seperti Dewan Pers, KPI, dsb yang isinya berdasar untuk “peliburan” ILC. Misalnya karena pelanggaran kode etik, pidana, maupun standar penyiaran.

So, kenapa harus libur? Kenapa harus diliburkan? Atau ada yang memaksa meliburkan? Jika ada yang memaksa meliburkan, baik itu pemerintah, pemilik, maupun siapa saja, tentu saja ini ancaman buat pers nasional dan tidak dibenarkan atas alasan apapun.

“Ini memang tidak langsung. Tapi berat. Apabila dihubungkan dengan kemenangan pers waktu reformasi,” kata KI.

Hmmm. Saya menduga kuat memang ada tekanan. Istilah “tidak langsung” itu.

Saya pikir, liburnya ILC yang “tidak biasa” ini patut menjadi perhatian masyarakat dan pelaku dunia media massa. Segala jenis pembungkaman terhadap pers musti ditentang. Ada atau tidak ada pilkada.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

ILC Libur, Ada Apa? | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: