Tuhan, Medco, Newmont

Tuesday, July 12th, 2016 - Opini Publik

“Nasionalisme” yang ngawur adalah ketika sebagian dari kita begitu yakin dan bangga bahwa aset tambang emas Newmont Nusa Tenggara telah kembali ke haribaan ibu pertiwi karena diakuisisi oleh Medco. Beritanya ramai sekali hari ini.

Saya telah mengendus pergerakan “barang” ini sejak beberapa bulan lalu, yang tautannya masih bisa disimak di sini.

Saya mungkin berpikir terlalu pesimistis, berkata terlalu sarkastis. Tapi, siapa pun yang mencermati alur kehebohan bisnis ini mengingat bahwa suatu desas-desus yang berawal dari siaran pers seorang menteri, diamplifikasi oleh media ekonomi dan keuangan kelas internasional — diafirmasi oleh narasumber yang berlatar konsultan akuisisi—, disikapi oleh penguasa tertinggi negara ini (Istana), dan berakhir dengan sebuah deal bisnis yang dananya di-back up oleh tiga bank BUMN, telah menjadi kenyataan yang sekarang ini dinikmati oleh kita semua sebagai berita ekonomi dan bisnis, lantas disambut sorak-sorai sebagai kemenangan anak bangsa merebut aset yang telah lama dikuasai “penjajah asing”.

Rumor telah menjadi berita. Nasi sudah menjadi bubur.

Saya mengutip Business Wire edisi 30 Juni 2016. Sebuah perseroan terbatas bernama PT Amman Mineral Internasional/AMI (Siapa pula dia? Badan hukumnya terdaftar di Jakarta Selatan, domisili Menara Karya) mengakuisisi 48,5% saham PT Newmont Nusa Tenggara/NNT seharga US$1,3 miliar (Rp16,9 triliun). US$920 juta (Rp12 triliun) akan dibayar di muka. Sisanya US$403 juta (Rp5,2 triliun) menyusul dengan sejumlah kondisi dan syarat tertentu. Pembayaran dilakukan kepada Newmont Mining Corp/NMC (Siapa dia? Pihak asing. Perusahaan publik di NYSE. Bersama Sumitomo Corp menguasai 56% saham Nusa Tenggara Partnership BV yang selama ini mengendalikan Newmont Nusa Tenggara).

Jika 48,5% saham NNT nilainya US$1,3 miliar (Rp16,9 triliun) maka 100% saham NNT nilainya US$2,68 miliar (Rp35 triliun). Dengan demikian pemegang saham NNT lainnya juga akan kecipratan nilai masing-masing: PT Pukuafu Indah 17,8% (Rp6,2 triliun), PT Multi Daerah Bersaing 24% (Rp8,4 triliun), dan PT Indonesia Masbaga Investama 2,2% (Rp770 miliar).

Lantas di mana rakyat NTB? Di situ, di bagian 24% Multi Daerah Bersaing itu: hanya 6% (via perusahaan daerah PT Daerah Maju Bersaing). Sisanya 18% punya pengusaha nasional (via Multi Capital-Bakrie Group). 6% itu nilainya Rp2 triliun. 18% nilainya Rp6 triliun.

Informasi terakhir komposisi saham NNT pasca akuisisi adalah AMI 82,2% dan Pukuafu Indah 17,8%. Lalu AMI akan diakuisisi oleh Medco seharga US$2,6 miliar (Rp35 triliun). Dananya dari utang Bank Mandiri, BNI, BRI sebesar total US$750 juta (30%) — tenor 2 tahun, bunga belum diungkap — dan sisanya dari sindikasi asing semacam BNP Paribas, Malayan Banking, dan Societe Generale.

Angka-angka terlalu bikin pusing. Tapi yang jelas, tak layak mengatakan bahwa “aset kita telah kembali untuk merah-putih”. Mayoritas saham Medco dikuasai asing (Encore Energy Singapura 50,7 %, Credit Suisse Singapura 20,73%). Duit yang dibayarkan untuk akuisisi juga lari ke pihak asing (NMC). 18% saham Multi Capital di NNT juga digadaikan di pihak asing (Credit Suisse).

Kita pun tak tahu persis, apakah operasional pertambangan emas akan seindah di laporan keuangan dan prospektus perusahaan. Apa betul emasnya ada atau hanya cadangan yang belum tentu terbukti (ingat Busang)?

Jadi, adalah ilusi belaka bahwa kekayaan alam dipergunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (daerah). APBD 2016 Provinsi NTB itu cuma Rp3,5 triliun, 1/10 dari nilai valuasi NNT (Rp35 triliun) — yang lokasi tambang dan kerusakan lingkungannya dinikmati masyarakat Batu Hijau. Dari yang cuma 1/10 itulah rakyat NTB berharap ada Indonesia Sehat, Indonesia Pintar, dsb. Itu pun kalau tidak “bocor”.

Tapi satu hal yang saya salut: kolaborasi dentuman opini publik, lobi kepada penguasa, kecanggihan utak-atik proyeksi keuangan, presentasi yang apik kepada lembaga perbankan, yang semuanya itu diiringi secercah niat baik untuk melakukan CSR dan kegiatan amal kalau profit sudah cair semuanya, telah “membantu” kita mengingat bahwa Tuhan Maha Baik memberikan kekayaan alam kepada kita, meskipun aktanya dikuasai mereka.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Tuhan, Medco, Newmont | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: