Kurikulum Jurnalistik

Saturday, July 9th, 2016 - Bisnis Media

Dua hari lalu saya mendapat email dari peneliti di Open School of Journalism, sebuah lembaga pendidikan jurnalistik yang berbasis di Berlin dan New York. Mereka sedang melakukan survei tentang “Improving Journalism Education”. Ceritanya saya menjadi salah satu partisipan survei dimaksud.

Dari 14 pertanyaan, saya ingat dua poin yang penting. Mereka bertanya, dalam suatu pendidikan jurnalistik, apa yang menurut Anda paling penting. Saya jawab dua hal: etika dan independensi. Pertanyaan lainnya, apa yang ingin Anda tambahkan dari hal yang sudah disampaikan dalam pertanyaan-pertanyaan sebelumnya tentang materi pendidikan jurnalistik. Saya jawab dua hal juga: riset data dan pengelolaan bisnis media massa.

Mengapa etika dan independensi penting? Sebab tanpa etika dan independensi, produk yang dihasilkan tak lebih sebagai propaganda. “Kiblatnya” bukan kepentingan publik melainkan kepentingan sendiri-sendiri atau golongan saja. Alih-alih mencerdaskan, berita/informasi yang sesat adalah pupuk yang menyuburkan munculnya kekacauan dalam kehidupan bersama.

Mengapa riset data penting? Sebab tanpa riset data, produk yang dihasilkan tak lebih sekadar kalimat kosong yang akan mudah kehilangan posisi dalam memperjuangkan kepentingan publik. Semacam jurnalisme menceracau saja, tak tentu arah, dan tanpa pijakan nalar.

Mengapa materi pengelolaan bisnis media massa penting? Sebab, tanpa pemahaman tentang proses bisnis dan dasar-dasar pengelolaan perusahaan sebagai badan hukum, media massa hanya akan terjebak dalam perputaran kapital belaka, menjadi sekadar pabrik kata-kata, yang semakin hari semakin tidak bisa menghidupi dirinya sendiri. Alhasil perusahaan media massa hanya akan menjadi satu dari sekian banyak portofolio bisnis para taipan yang bisa dengan mudah dibelok-belokkan dari semangat dan tujuan dasar pembentukannya yakni untuk kepentingan publik.

Apa yang saya ungkapkan di atas bisa benar, bisa juga salah. Bisa juga saya sekadar gaya-gayaan saja. Maklum, dalam zaman di mana supaya suatu konten bisa merengkuh 11 ribu pemirsa online kita harus membayar Rp140 ribu (bisa lebih tergantung situasi), seperti disyaratkan oleh Over the Top, apalagi yang bisa diandalkan oleh para jurnalis selain semangat, etika, dan hati nurani.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Kurikulum Jurnalistik | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: