Kenangan Liputan

Saturday, June 18th, 2016 - Teknik Liputan

Saya jadi teringat masa-masa itu, kenangan liputan:

1. Suatu kali saya bertanya kepada pimpinan pucuk pengelola komplek olahraga terbesar di Jakarta. Mengapa 10 tahun beroperasi, rugi terus, padahal itu aset negara semua yang dikelola, di pusat kota pula. Itu saja pertanyaannya, sederhana. Bukan soal teknis, hanya pertanyaan yang orang awam pikirkan.

Jawaban si pimpinan adalah, “Saya akan telepon pimpinan Anda supaya Anda dipecat.”

“Silakan,” kata saya.

2. Seorang ketua Mahkamah Agung pernah saya tanya mengapa harus ada pertemuan sejumlah hakim agung di salah satu hotel di Sunter untuk membicarakan poin yang salah satunya rencana membubarkan komisi negara pengawas hakim.

Ketua menjawab marah, “Mau kamu apa serang saya terus?”

3. Bermaksud hati mencairkan suasana dengan narasumber, saya bilang ke salah seorang pimpinan KPK (sekarang mantan dan pernah jadi tersangka di Polri), “Saya juga tinggal di Depok, sama-sama orang Depok, Mas.” Dia jawab ketus, “Terus kalau sama-sama Depok kenapa?”

Waktu berjalan. Sampailah saya ke rumahnya di Depok untuk menginventarisir kekayaannya (tanah, mobil, mata uang asing, dsb) sebelum jadi pimpinan termasuk mengecek kantor firma hukumnya di apartemen Da Vinci, Sudirman, Jakarta.

Dari situlah akhirnya saya paham bahwa kami sesama orang Depok berbeda benar. Berbeda kemakmuran.

Begitulah temans. Ketika itu usia baru 20-an tahun, bukan digaji negara, upah mungkin 1/30 dari para pejabat di atas yang dihidupi negara. Makanya saya ingin berempati kepada para wartawan yang didamprat gubernur.

Saya rasa pertanyaan, “Apa bapak merasa lebih hebat dari pejabat lain?” adalah pertanyaan terbaik, bukan adu domba, dan mewakili apa yang ada di benak banyak orang untuk ditanyakan kepada yang bersangkutan. Alasannya sederhana: dia pejabat publik, meskipun cuma seorang gubernur.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Kenangan Liputan | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: