Polisi Teladan

Thursday, May 19th, 2016 - Teknik Liputan

Saya rasa kisah ini adalah benar, jujur, dan nyata. Mengapa?

  • Lihat mata dan arah tatapannya di foto. Ini bukan selfie yang “diatur” dan didistribusikan oleh buzzer
  • Ceritanya logis: 39 tahun bekerja, setahun lagi pensiun, berpangkat Bripka, tinggal di rumah mertua, anak tiga, punya sambilan bisnis memulung, punya cicilan utang 125 juta dan satu-dua kali cicilan lagi lunas, anak kerja di RSI, lulusan D2 dan SMA. Semuanya wajar, sederhana, manusiawi
  • Wartawannya meliput langsung di lapangan, bukan naskah “dorongan”, hasil wawancara di ruang kerja, kafe, atau restoran
  • Kutipannya natural, tidak ada diksi yang berlebihan, wajar-wajar saja. Kata sifatnya tidak banyak
  • Wartawannya juga apa adanya menulis, tidak ada diselipkan keterangan berupa ambisi pribadi sang tokoh. Pencantuman fakta anak ketiga tidak lolos seleksi Polri 3 kali adalah fakta semata tanpa ada diksi bersayap yang menekankan “kode” supaya sang anak dibantu lolos setelah berita ditayangkan
  • Tidak ada kutipan pujian dari atasan sang tokoh, suatu hal yang memang sangat tidak diperlukan dalam karya jurnalistik yang jujur dan benar. Menunjukkan bahwa dorongan wartawan untuk menulis hanya karena fakta dan nurani, tanpa ada pesan dari institusi Polri
  • Tidak ada broadcast massal versi online berita ini yang direncanakan supaya tersiar secara nonalamiah
  • Setahun lagi pensiun dan tak perlu bermasai-masai untuk perpanjangan masa jabatan seperti yang pejabat teras polisi
  • Terakhir, tak perlu ada akun medsos untuk menyiarkan secara luas, disertai selfie yang tidak perlu, tak perlu pula tagar ?#?SeladiQuotes?, tak ada pula foto dengan pemohon SIM, serta aksesoris busana bermerek yang tidak penting dan video advertorial, seperti tetangga sebelah.

    Selamat memasuki masa pensiun Pak Seladi. Semoga bisnisnya tetap lancar dan berlimpah rezeki.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Polisi Teladan | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: