Catatan Akhir Pekan: Media Non-Mainstream

Saturday, April 30th, 2016 - Bisnis Media

Dalam Paket Kebijakan Ekonomi terakhir, pemerintah salah satunya mempermudah aturan mengenai syarat pembentukan badan hukum perseroan terbatas. Melalui PP Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perubahan Modal Dasar Perseroan Terbatas disebutkan bahwa modal dasar PT paling sedikit Rp50 juta. Dari jumlah tersebut, paling sedikit 25% (Rp12,5 juta) harus ditempatkan dan disetor penuh yang dibuktikan dengan bukti penyetoran yang sah.

Kemudahan yang dimaksud adalah pada Pasal 1 Ayat (2) yang mengatur bahwa dalam hal salah satu atau seluruh pihak pendiri PT memiliki kekayaan bersih sesuai dengan kriteria Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, modal dasar ditentukan berdasarkan kesepakatan para pendiri PT yang dituangkan dalam akta pendirian PT.

Inti yang mau disampaikan adalah mendirikan PT itu gampang dan murah. Meskipun menjalankan dan mempertahankan usaha PT itu yang justru sulit. Kecuali jika anda hanya mau buat PT bendera, PT PO Box untuk dipinjam namanya sana-sini dan tak perlu menjalankan usaha/bisnis.

Belakangan ini saya sering mendengar keluhan teman-teman wartawan atau pelaku media massa yang merasa gerah dengan kebijakan editorial perusahaan media tempatnya bekerja. Mulai dari terlalu banyaknya “pagar” berita yang tidak boleh ditulis hingga kerepotan harus melayani ambisi bisnis dan politik pemiliknya. Ini adalah persoalan klasik. Dari dulu juga sudah ada. Namun kebanyakan juga tidak mengambil keputusan untuk keluar dari perusahaan media itu. Macam-macam alasannya.

Ada juga yang memang tidak berani keluar karena takut periuknya terganggu. Hidup semakin sulit. Mencari pekerjaan baru tidaklah mudah. Apalagi menyandang baju sebagai wartawan yang bekerja di perusahaan media mainstream adalah keistimewaan tersendiri. Kadang ada perlakuan khusus terhadap mereka dari banyak pihak. Hal ini pernah saya rasakan sampai saya menyadari bahwa baju semacam itu semu belaka. Orang memandang karena baju kita, bukan karena diri kita apa adanya. Makanya saya copot baju itu dan menjahit baju sendiri saja.

Setelah saya tak lagi menyandang baju saya, betullah bahwa hampir 90% narasumber atau orang yang pernah saya kenal tak membalas sapaan saya lewat seluler. Hanya beberapa saja yang masih mau berhubungan baik sampai sekarang dan ternyata itulah yang sejati menurut saya. Mereka tak melihat baju saya tetapi melihat saya sebagai pribadi. Terbukti, bertahun-tahun berlalu dan kami saling melihat satu per satu tumbuh dalam karier dan pribadi.

Kembali ke soal kemudahan membentuk PT dan keluhan teman-teman tadi, saya pikir solusi terbaik adalah keluar dan mendirikan perusahaan media sendiri (yang betul-betul media massa). Saat ini memang waktu yang paling tepat untuk menandingi apa yang dinamakan wacana besar media-media yang sudah terkooptasi konglomerasi dengan media-media “bayi” yang jujur dan apa adanya. Media “bayi” pastilah disebut media abal-abal pada awalnya, apalagi jika kita mencoba menjadi media yang menyajikan perbedaan gaya dan konten. Menjadi media yang kritis pada kemapanan apalagi. Akan dituding sebagai media abal-abal yang tidak kredibel dan tidak layak dikonsumsi.

Itu tak masalah. Waktu nanti yang akan membuktikan siapa sesungguhnya kita.

Banyak sekali teman wartawan yang punya ide tentang gaya dan konten media alternatif, media yang disebut non-mainstream atau apalah namanya. Dalam lapangan hukum dan politik, saya yakin sekali jika mereka terjun dan mendirikan media sendiri, akan banyak sekali informasi alternatif yang akurat dan jujur bakal disampaikan ke hadapan publik. Media-media mainstream yang sudah dikenal oleh banyak orang pasti tidak akan ada apa-apanya info dan produk jurnalistiknya jika teman-teman saya itu mendirikan media sendiri dengan kekayaan gaya dan kontennya sendiri.

Jadi saya mendorong supaya teman-teman itu keluar dari zona nyaman dan mendirikan media sendiri. Media yang betul-betul media, bukan copas sana-sini, agregasi sana-sini, fitnah sana-sini, pukul sana-sini…

Semakin banyak media non-mainstream yang bersaing dalam hal mutu jurnalistik akan semakin baik.

Dalam hal ini saya selalu ingat kata-kata Charlie Chaplin. Begini: jika kita tidak bisa terus menerus tertawa dengan lelucon yang sama, buat apa kita terus menerus cemas pada ketakutan yang sama. Kira-kira begitu.

“Kenyataan harus dikabarkan. Aku bernyanyi menjadi saksi,” kata Kantata Takwa.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Catatan Akhir Pekan: Media Non-Mainstream | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: