Cerita Geli dari Mahkamah Agung

Monday, April 25th, 2016 - Opini Publik, Rumor

Akhir pekan kemarin, harusnya mau santai-santai, malah tetap saja berurusan dengan perkara yang berat. Tak apa lah. Akhirnya kontak sana-sini, bertemu kolega dan narasumber. Ngobrol santai. Yah, ada-ada saja cerita di balik kasus korupsi yang lagi ramai sekarang gegara penangkapan panitera PN Jakpus. Nah, kalau perkembangan terkini dan mendalam mengenai penyidikan kasus itu sendiri beserta dugaan konglomerat di balik itu, bisa dibaca di gresnews.com. Di sini kita bicara yang ringan-ringan saja.

Ada cerita yang menggelikan begini. Pada saat penyidik KPK menggeledah kantor Mahkamah Agung (MA), Kamis (21/4), ternyata ada kisah yang unik mengenai salat subuh. Hari itu, penyidik-penyidik KPK sudah bersiap di gedung MA sejak dini hari. Mendekati waktu salat subuh, seorang petugas keamanan (satpam) MA — yang lagi deg-degan karena ada penyidik KPK di MA — mengajak para penyidik salat subuh di masjid MA. Mohon maklum dan koreksi kalau saya salah mengistilahkan mengenai salat subuh ini atau ada hal-hal yang saya tidak mengerti mengenai hukum salat itu sendiri. Saya tak bermaksud menyinggung SARA.

Pendek cerita, sang satpam itu menjadi imam salat. Waktu berjalan terus menjelang pukul 05.00 WIB. Satpam ini meneruskan dengan zikir setelah salat yang dirasakan lama sekali oleh penyidik. Akhirnya penyidik, menurut cerita sumber saya, mencolek dengan sopan imam tadi dan meminta supaya jangan terlalu lama zikirnya karena mereka mau menggeledah.

Satpam itu rupanya bingung. Dalam posisi sulit. Membukakan pintu untuk penyidik menggeledah, dia takut dimarahi atasan. Tidak diikuti perintah penyidik untuk membuka pintu, juga bermasalah. Apalagi penyidik sudah berkata telah mendapat izin ketua MA. Satpam itu takut juga dianggap mengulur-ulur waktu.

Alhasil mulai pukul 06.00 WIB kurang sedikit, penggeledahan dilakukan. Canggihnya lagi, itu para penyidik tahu lho angka PIN elektronik untuk membuka pintu ruangan sekretaris MA. Satpam itu bingung.

Saya rasa kisah satpam dan adegan salat subuh itu sudah berkembang luas di internal MA.

Kisah lain adalah berkaitan dengan deg-degan dan kasak-kusuk pesta ulang tahun. Asal tahu saja, pada 7 April 2016, di gedung MA, ada acara pesta dan makan-makan. Itu pesta ulang tahun petinggi MA (petinggi banget malah). Makanan berlimpah ruah. Karyawan dapat nasi boks, pimpinan prasmanan. Siapa yang berulang tahun, saya tidak sebut di sini, tak enak lah. Tapi internal MA sudah bisa tebak lah siapa.

Singkat cerita, asal tahu saja, biaya makan-makan dan pesta itu mencapai hampir Rp140 juta! Billing keluar, siapa yang bayar? Sebetulnya asisten petinggi yang ultah itu sudah bilang bahwa billing akan dibayar oleh bapak semua. Toh kan beliau yang ulang tahun. Namun, tiba-tiba ada lho asisten dari bapak yang minggu lalu rumah dan ruang kerjanya digeledah itu bilang bahwa billing-nya nanti dia yang tutup. Nah lho, dibayarlah langsung dan ada kuitansinya.

Terbayanglah betapa deg-degannya kalau nanti ada keluar berita bahwa dana yang dari “begitu-begitu” itu termasuk terpakai untuk membayar makan-makan ultah tadi.

Saya rasa juga kisah ini sudah berkembang luas di MA.

Ya, begitulah. Meskipun bapak-bapak itu ada di tempat yang semulia gedung MA itu, tapi mereka manusia juga. Ada gosip, ada makan-makan, ada billing, ada perkara…

Mungkin nanti akan banyak berkembang cerita tentang pengusutan kekayaan bapak di MA itu oleh KPK. Mungkin juga untuk membuktikan seprospektif apa bisnis walet di Indonesia sehingga bisa menghasilkan pundi kekayaan yang luar biasa. Soal usaha walet di Batu dan Mojokerto; soal pabrik tisu di Jawa Timur; rumah kaca di Megamendung; soal itu kenapa pengawalan Nissan X-Trail berlebihan sekali aparatnya.

Tapi, di atas itu semua, kita rakyat biasa berdoa saja, supaya apa yang KPK lakukan ini untuk kebaikan pencari keadilan. Supaya MA bersih dan berwibawa. Kalau MA dan pengadilan bersih dan berwibawa dan tidak ada sogok-menyogok, keadilan bisa menjadi merata untuk siapa saja, bukan cuma untuk yang kaya.

Untuk bapak yang berulang tahun, kata Jamrud, semoga Tuhan melindungi kamu serta tercapai semua angan dan cita-citamu. Mudah-mudahan diberi umur panjang, sehat selama-lamanya.

Terrreeeet. Tererereeeeet. Terereeeeeet.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Cerita Geli dari Mahkamah Agung | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: