Sinyal Bahaya untuk Konglomerat

Friday, April 22nd, 2016 - Opini Publik, Rumor

Jangan lewatkan berita-berita korupsi hari-hari belakangan ini. Jadilah bagian dari sejarah perubahan konstelasi kekuasaan bisnis dan politik di tanah air. Pemerintah sedang mengirimkan sinyal. Jokowi tengah membentuk orde-nya sendiri.

Sepanjang untuk menciptakan keadilan dan menggasak para pengusaha hitam dan pejabat korup, ayo kita dukung.

Saya pikir ada benarnya juga pendapat kawan saya yang bilang bahwa Jokowi ingin seperti Soeharto, mengirimkan sinyal kepada konglomerat, supaya jangan ikut-ikutan berpolitik. Kalau masih berpolitik, “Saya gebuk.” Begitu kira-kira.

Mungkin saja Jokowi sudah mencium terlalu dalamnya tangan konglomerat dalam perpolitikan dan hukum tanah air. Tentu tidak secara langsung tetapi melalui tangan-tangan tak terlihat, mengendalikan kebijakan maupun (bahkan) putusan pengadilan. Pengusaha yang berkongsi dengan pejabat/penyelenggara negara yang korup telah membentuk tentakel kekuasaan informal yang melebihi kekuasaan formal. Negara takluk di hadapan kekuasaan kolaboratif antara pejabat dan konglomerat.

Kasus BLBI “dipanaskan” lagi. Buron 13 tahun kasus BLBI Samadikun Hartono dipulangkan. Buron kasus Bank Century Hartawan Aluwi juga demikian. Meski Samadikun “hanya” akan mengembalikan kerugian negara Rp164 miliar sesuai putusan pengadilan, tapi jangan dilihat besar-kecilnya duit itu, tetapi rasakan sinyalnya. Tak lama lagi kelihatannya puluhan buron lainnya bakal pulang. Duitnya bakal diminta balik ke negara.

Hartawan juga begitu. Si penikmat paling banyak dana nasabah Century sebesar Rp853 miliar itu memberikan harapan pada banyak nasabah Century yang beberapa mungkin sudah mengalami depresi akibat duitnya nyangkut karena ditipu Hartawan dkk.

Kasus Hartawan dan Samadikun adalah contoh sinyal yang ditebar Jokowi lewat dua lembaga penegak hukum yang secara struktural berada di bawah presiden, yakni Kejaksaan dan Kepolisian. Jika dilihat kiprah dua lembaga itu, kita sedikit-banyak harus kasih apresiasi juga. Konglomerat, perusahaan publik, hingga ketua PSSI yang merangkap pimpinan Kamar Dagang pun diobok-obok.

Di KPK Kuningan juga gila gerakannya. Aguan, yang disebut-sebut sebagai pemimpin 9 naga pun, disetrika. Siapa juga tahu bahwa Aguan memiliki keterkaitan dengan Grup Artha Graha yang berkorelasi dengan TW. Sebelumnya KPK juga “menggarap” Swie Teng yang sekarang sudah divonis oleh pengadilan.

Penangkapan panitera PN Jakpus oleh KPK yang merembet pada salah satu pejabat MA, saya pikir juga sinyal kuat bahwa “pemain” kuat pengaturan perkara sedang dibidik. Banyaklah yang tahu bahwa sang pejabat itu berkaitan dengan grup konglomerasi yang mana.

KPK memang lembaga independen dan tidak berada di bawah komando presiden. Tapi, bagaimanapun faktanya kiprah trengginas KPK ini terjadi di masa pemerintahan Jokowi. Itu fakta.

Untuk KPK ada sedikit catatan penting. Sejarah membuktikan bahwa KPK pernah kalah dari Polri. Mungkin hanya satu-satunya kekalahan yang dialami KPK yakni ketika kasus BG. BG memberikan pelajaran penting kepada KPK yang ketika itu saya lihat juga terlalu percaya diri. Buktinya, BG menang praperadilan. Justru komisioner dan penyidik KPK yang nyungsep karena kasus pidana di Polri. Ini hal yang tak boleh terjadi lagi. Membuktikan bahwa semulia apapun cita-cita KPK, tetaplah kesombongan tak perlu ditampilkan.

Kesimpulan singkatnya adalah KPK, jaksa, polisi, advokat, hakim, semua penegak hukum harus kompak dan satu misi untuk berperang melawan korupsi. Jika bersatu, pasti satu per satu buron akan ditangkap, mereka yang selama ini hidup enak akan dimiskinkan.

Semoga nanti giliran rakyat banyak yang hidupnya enak.

Untuk pengusaha, stop berpolitik, jika tidak mau digebuk. Cari uang saja yang betul, tak usah goreng-menggoreng panggung politik dan hukum. Ini berarti, pemerintahan saat ini juga harus menumpukan tujuannya pada rakyat. Aksi gebuk-menggebuk konglomerat ini jangan sampai hanya bertujuan untuk mengganti kekuatan konglomerasi lama dengan konglomerasi baru yang berkelakuan lama.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Sinyal Bahaya untuk Konglomerat | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: