Gurihnya Bisnis Sumber Waras

Monday, April 18th, 2016 - Opini Publik, Rumor

Sisi lain di luar kasus.

Daripada ribut-ribut, bagaimana kalau lahan Sumber Waras, Kyai Tapa, yang 36.410 m2 itu dijual saja oleh Pemprov DKI Jakarta? Tak usah jual ke Yayasan Sumber Waras lagi. Lupakan saja soal NJOP versi BPK. Banyak yang mau di harga Rp25 juta/m2, peruntukan tak usah diubah, tetap saja SSK (Suka Sarana Kesehatan). Status HGB (perpanjangan 2018, bisa diatur).

Harga transaksi Rp910,25 miliar. Tuh, Pemprov sudah untung Rp154,5 miliar, belum dua tahun. Biaya notaris/PPAT ditanggung pembeli semua. Tak usah ribet-ribet mengubah peruntukan jadi WSN (Wisma Susun) seperti Ciputra. Juklak perubahan peruntukan lahan di DKI belum ada sampai sekarang (CMIIW). Kalau dipaksakan lama dan buang duit.

Lahan Sumber Waras sepertinya pas dibuat konsep medical tourism. Memadukan antara bisnis layanan kesehatan kanker terpadu dan kepariwisataan. Ini fakta. Data Balitbang Kementerian Kesehatan (2013) ada 347.792 penderita kanker di Indonesia. Terbanyak adalah kanker serviks dan payudara. WHO memperkirakan 2030, jumlah penderita kanker di Indonesia akan melonjak. Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, Yogyakarta adalah lima provinsi terbanyak penderita kanker. Ada juga data bahwa setiap tahun 6 juta orang Indonesia jadi pasien baru kanker. Dharmais dan MRCC Siloam tentu tak cukup menampung potensi beban bertambahnya jumlah pasien di masa depan.

Ini pasar yang gurih bukan? Belum lagi jika orang luar negeri berobat juga ke sini.

Syarat orang luar negeri mau berobat sambil wisata ke Indonesia salah satunya adalah ada dokter asing di sini. Caranya, ubah dulu UU Kedokteran supaya dokter asing bisa menjadi “karyawan” rumah sakit Indonesia, biar enggak bolak-balik dan kucing-kucingan seperti sekarang. Ini bisa dibicarakan dengan DPR.

Jadi ada dua bisnis inti yang bisa dibidik: bisnis pengobatan dan bisnis properti. Kenapa properti? Pariwisata dan medik menarik orang (pasien dan keluarga, kerabat, dsb) dan orang butuh hunian (tetap atau sementara).

Turuti saja maunya Ahok bahwa rumah sakit swasta musti menyediakan 40% tempat tidur (bed) untuk layanan Kartu Jakarta Sehat (orang miskin). Tahun 2012, jumlah TT/Bed di Sumber Waras ada 246. Nanti bisa ditambah lah kalau sudah peremajaan dan 40%-nya untuk pasien KJS.

Lalu bangunlah apartemen/hunian yang difungsikan untuk berobat jalan pasien. KDB dan KLB (apalagi bila ada insentif KLB) bisa dikoordinasikan. Yah, siapkan lahan 1 hektare, anggaplah jadi 500-1.000 unit. Sewakan.

Bayangkan revenue dari segala penjuru mata angin: layanan rumah sakit, jasa dokter, penyewaan properti, komisi obat-obatan, peralatan kesehatan, dll; belum lagi kalau Uber dan Grab kerjasama dengan membuat Uber Ambulance/Grab Ambulance, biar ambulance di RT/RW tidak cuma nongkrong di bawah pohon. Terus, lapangan kerja yang diserap jelas banyak.

Lahan Sumber Waras ini oke punya. Kurang apa coba? Izin rumah sakit ada, lokasi strategis, akses bagus (bandara, mal, jalan tol, kampus, terminal) pembebasan tanah tidak perlu (karena tidak ada warga miskin kota di situ), kenaikan harga tanah dijamin, pasar pasien jelas.

Lebih bagus lagi kalau mau dilepas sesuai harga BPK: Rp7 juta/m2.

Siloam (biar memperkuat MRCC), Mitra Keluarga, Meditama, mungkin berminat? Katanya mau  mengalahkan Johns Hopkins, Memorial Sloan-Kettering Cancer Center, Mayo Clinic, Stanford Clinic, Ronald Reagan UCLA, dkk.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Gurihnya Bisnis Sumber Waras | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: