Kampret, Harco, Pluit Dkk

Friday, April 15th, 2016 - Opini Publik, Rumor

Malam ini, saya merasa perlu untuk menulis lagi tentang kasus suap reklamasi yang lagi disidik KPK. Banyak hal yang mengganjal dan menjadi pertanyaan dari kasus yang disebut oleh pimpinan KPK sebagai grand corruption itu. Kasus ini juga menjadi ujian bagi Ahok untuk membuktikan sebersih apa komitmen dan kenyataannya di hadapan pemberantasan korupsi.

Melalui kesempatan ini saya juga ingin mendorong, menyemangati, supaya pihak korporasi/pengusaha yang bagaimanapun juga adalah sumber dari semua dana yang mengalir ini untuk membuka serinci-rincinya segala hal yang telah terjadi. Berapa dana yang disepakati, kepada siapa dana diberikan, diselubungkan dengan nama kegiatan/program apa dana itu dianggarkan, apa maksud sebenarnya dana diberikan, bagaimana dan kapan dana diserahkan, seperti apa catatan pengeluaran dananya di perusahaan, dsb.

Kelak jika itu semua dibuka, akan membuka tabir tentakel-tentakel yang selama ini menikmati seluruh aliran dana itu. Kita sama-sama bongkar semua kemunafikan ini. Supaya dunia usaha juga plong, tak dijadikan sebagai satu-satunya sasaran tudingan sebagai muara korupsi.

Saya ber-KTP Jakarta dan saya ingin Jakarta bersih.

***

Saya ingin sebut dulu di awal ini bahwa julukan kampret, Harco, Pluit, Tanah Abang IV, dsb sudah diketahui lho oleh Kuningan (KPK). Semua masuk sadapan. Semua tercatat. Semua akan dipanggil.

Sanusi dan DPRD jelas sulit dibantah berada dalam posisi yang terpojok. Faktanya sudah jadi tersangka. Tinggal tunggu anggota dewan lain untuk bertanggung jawab. Tapi saya mendapatkan informasi dari mana-mana yang saya nilai valid dan telah saya kroscek sana-sini, yaitu, Kuningan akan mengembangkan kasus ini menyasar banyak tentakel. Duit Rp2 miliaran dan Sanusi itu cuma puncak gunung es. Kita perlu dukung KPK untuk mengungkap habis grand corruption itu.

Begitu juga soal reklamasi, hanya satu dari sekian urusan kebijakan publik yang hendak dimainkan. Tapi pernahkah terpikir bahwa pengembang tentu saja tak hanya berurusan dengan reklamasi. Proyeknya banyak di Jakarta. Bahkan bisa saja urusan denda KLB (Koefisien Lantai Bangunan) juga merupakan urusan yang bisa diutak-atik melibatkan eksekutif dan legislatif.

Sunny Tanuwidjaja sudah diperiksa oleh KPK sebagai saksi. Kepada wartawan, dia telah menjelaskan posisinya yang intinya bahwa dia tidak terlibat urusan suap-menyuap Sanusi/DPRD. Namun fakta yang tidak bisa dibantah adalah pengakuan dari Sunny bahwa dia mengenal Sanusi dan sejumlah anggota DPRD. Sunny juga mengakui bahwa dia kerap mengatur jadwal pertemuan gubernur dengan pengusaha. Pendeknya saya ingin menyebut bahwa Sunny adalah poin pemersatu. Strategis.

Saya tidak menuduh Sunny terlibat suap sebelum proses hukum membuktikan itu. Tapi saya menduga kuat perannya besar untuk urusan jaringan pengusaha dan eksekutif. Selain urusan reklamasi, saya menduga ada urusan lain juga yang hampir pasti melewati channel Sunny.

Apakah Sunny akan menjadi tersangka dan ditahan? Saya tidak tahu. Tapi, hemat saya, jika pun ingin dijadikan tersangka, janganlah dalam waktu dekat ini. Sebab, jika sudah dijadikan tersangka dan ditahan, akan ada batas waktu masa penahanan. Sebaiknya KPK mendalami saja dulu banyak tentakel melalui Sunny ini agar makin terkuak semua dana dan persoalan yang membelit di dalamnya. Ini bukan cuma persoalan dana Rp2 miliar yang sudah disita KPK. Lebih banyak lagi rupiah yang akan terbongkar, termasuk untuk kick back, uang liburan, beli mobil SUV, akuisisi properti, dsb.

Saya berharap KPK bisa mengungkap berapa banyak dana para pengusaha yang sudah dikeluarkan untuk membiayai tetek bengek urusan dengan pemerintahan (eksekutif dan legislatif), berapa pula yang mengalir untuk membiayai aktivitas politik.

Kuningan tahu tapi menunggu…

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Kampret, Harco, Pluit Dkk | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: