Ahok dan Cuaca yang Cepat Berubah

Tuesday, April 12th, 2016 - Opini Publik, Rumor

Sindiran Voltaire ini tepat sekali. When it is a question of money, everybody is of the same religion. Sederhananya, kalau urusan uang, agama setiap orang sama. Uang tak mengenal SARA. Korupsi bisa dilakukan oleh siapa saja.

Gairah pemberantasan korupsi di masyarakat Indonesia semakin memanas akhir-akhir ini. Kasus-kasus besar yang melibatkan pengusaha dan pejabat tingkat atas negeri ini terungkap. Itu bagus sekali. Langkah awal untuk menciptakan ekosistem negara yang semakin berkeadilan. Asalkan pengungkapan kasus jangan dipakai sebagai alat politik semata.

Banyak permainan logika politik yang membikin kabur makna dari pemberantasan korupsi itu sendiri di masyarakat. Media menayangkan logika politik yang sesat itu berulang-ulang sehingga ditangkap sebagai kebenaran oleh publik.

– “Lebih baik pemimpin non-muslim yang tidak korup ketimbang pemimpin muslim yang korup”. Ini logika yang paling sesat yang saya lihat. Membandingkan dua hal yang tidak sebanding. Jika ditilik secara sederhana saja, harusnya perbandingan yang tepat adalah “pemimpin non-muslim yang tidak korup” dan “pemimpin muslim yang tidak korup” juga. Logika seperti tersebut di atas menyebabkan orang menarik kesimpulan yang salah bahwa semua pemimpin non-muslim pasti tidak korup sedangkan semua pemimpin muslim korup. Padahal kenyataannya tidak begitu. Korup atau tidak korup tidak ada kaitannya sama agama.

– “Mengembalikan uang hasil korupsi berarti tidak dihukum”. Orang hukum mana pun pasti bisa menjelaskan soal ini bahwa pengembalian uang tidak menghapus tindak pidana.

Logika salah ini malah jadi sarana penegak hukum untuk “bermain”. Lihat kasus yang baru diungkap KPK yaitu tertangkapnya jaksa di Kejati Jawa Barat dalam kaitan dengan kasus bupati Subang. Pengembalian uang oleh sang bupati ternyata diduga “disikat” oleh jaksa. Kasus serupa juga pernah terjadi di Jabar, ketika mantan Walikota Bandung mengembalikan uang ke jaksa juga, namun akhirnya si walikota divonis bersalah juga. Kasusnya tetap jalan.

– “Tidak terima uang berarti tidak korupsi”. Ini juga salah. Korupsi bukan berarti terima uang saja. Ada janji, hadiah, dsb. Korupsi juga bukan berarti sifatnya aktif, tapi juga pasif. Pejabat yang dalam jabatannya melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang menyebabkan terjadinya korupsi. Korupsi juga bukan berarti adanya kerugian negara saja. Setelah ada putusan MK, asalkan perbuatan formalnya terbukti tanpa perlu ada kerugian negara, juga bisa dikategorikan korupsi.

Banyak contoh kasus dalam hal ini. Mantan Dewan Gubernur BI yang divonis bersalah dalam kasus suap kepada DPR dahulu, terbukti tidak terima uang tapi tetap dihukum korupsi. Logika ini juga yang bisa menjelaskan ucapan Ahok yang sering diulang-ulang soal gratifikasi. Korupsi tak semata urusan gratifikasi. Pejabat yang melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang menyebabkan terpenuhinya unsur korupsi yang lain, juga tergolong korupsi. Ahok harus hati-hati soal ini.

Soal ini para ahli hukum akan bisa menjelaskan dengan lebih rinci.

***
Saya pikir Ahok dan tim sukses + konsultan-konsultannya musti mengubah strategi dan taktik politiknya. Kasus Sumber Waras yang berawal dari rumor di media massa mulai beranjak naik ke tahap penyelidikan di KPK. Kasus suap reklamasi yang awalnya menggebuk Sanusi dan DPRD semata kini merembet ke kalangan eksekutif (Sunny bolehlah kita kategorikan sayap eksekutif). IndoBarometer merilis bahwa sikap orang terhadap Ahok yang awalnya adalah hitam-putih kini mulai memasuki wilayah abu-abu.

Dari dua kasus itu (reklamasi dan Sumber Waras) terlihat betul bahwa politik hukum pemberantasan korupsi dipengaruhi oleh perkembangan wacana dan opini publik melalui pers dan media sosial. Inilah yang menjelaskan juga mengapa sekarang-sekarang ini banyak kantor hukum yang memiliki divisi khusus yang mengurusi opini publik ini dalam penanganan perkara.

Jadi, bagi pejabat (dan calon pejabat), ada dua jenis pengadilan yang harus dihadapi: pengadilan dalam arti hukum dan pengadilan opini publik. Dua-duanya penting. Ahok harus betul-betul introspeksi dan mengubah gayanya.

Cuaca cepat berubah.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Ahok dan Cuaca yang Cepat Berubah | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: