Sunny Tanuwidjaja dan Teori Bunga Citra Lestari

Friday, April 8th, 2016 - Opini Publik, Rumor

Penyanyi Bunga Citra Lestari kelihatannya punya bakat jadi penyidik. Jauh sebelum Sunny Tanuwidjaja terendus perannya dalam kasus suap reklamasi, dia sudah bilang: Sunny, Sunny, mengapa ada yang kurang saat kau tak ada.

Ya, saya harus mulai dengan bercandaan dulu artikel ini. Meniru framing yang saya lihat dibuat oleh salah satu kubu yang berkepentingan. Saya baca di media beberapa berita tentang Sunny ini kok nadanya mau dibuat lucu-lucuan ya. Ahok bilang dia sudah Whatsapp Sunny dan tanyakan soal pencekalan. Sunny senyum-senyum aja, kata Ahok.

Saya baca berita lain yang isinya pendapat dari Direktur Eksekutif Cyrus Network Hasan Nasbi yang mengutip akun twitter @datuakrajoangek yang menyebutkan, “Sunny saya hubungi barusan ketawa-ketawa aja…” Cyrus memiliki kedekatan dengan Ahok.

Saya menganggap framing seperti itu tidak tepat konteks dan momentumnya. Ingat, kasus suap ini adalah kasus yang sangat serius. Saya pikir, siapapun juga — termasuk Ahok — tidak boleh bersikap takabur. Jalan nasib siapa yang tahu. Apalagi terhadap Sunny, yang telah dicegah oleh KPK. Itu artinya, KPK tidak main-main untuk mendalami peran yang bersangkutan dalam kasus suap ini. Sama seperti Aguan dan pihak lain yang sudah dicegah, pintu untuk menjadi tersangka terbuka lebar.

Uraian saya di bawah ini semuanya jauh dari tendensi politik. Saya tak peduli isu Ahok vs Non-Ahok. Saya bukan fans maupun haters pihak mana pun.

***
Saya skip dulu rumor-rumor yang beredar soal status kekeluargaan Sunny-Veronica Tan, istri Ahok, Sunny sepupu siapa, Sanusi karyawan APL, hingga mungkin saja dugaan bahwa Sunny juga yang memfasilitasi pendanaan awal Teman Ahok yang bisa saja berasal dari salah satu bos pengembang juga. Rumor-rumor itu belum terkonfirmasi. Bisa benar, bisa salah.

Soal CDT 31 juga begitu. CDT 31 adalah kependekan dari Center for Democracy and Transparency (CDT). Belakangan kita dikabarkan oleh media bahwa Sunny masih menjabat sebagai direktur eksekutif di LSM itu. Meskipun jejak digital masih mencantumkan bahwa Ketua/Direktur Eksekutif CDT adalah Basuki T. Purnama (Ahok).

“Dalam upaya mempromosikan calon-calon pemimpin tersebut, kami akan berpartisipasi aktif mempengaruhi opini publik melalui cara-cara yang sehat, etis dan memberikan politik kepada publik. Kami juga membantu mereka dalam proses penggalangan dana, terutama jika calon-calon yang bersangkutan tidak didukung oleh kemampuan finansial yang memadai,” demikian tertulis dalam laman CDT.

Saya justru ingin mendalami konstruksi pidana kasus ini dan hal-hal unik yang mungkin luput dari perhatian publik. Pesan yang ingin saya sampaikan adalah bahwa kasus suap ini adalah gunung es, masih banyak yang belum terungkap ke publik dan hal itu bisa saja menyangkut high level politic dan high level business. Mengerikan.

***
Mari kita bernostalgia sejenak ke Februari 2016, tepatnya 22 Februari 2016. Waktu itu ada berita ramai tentang adanya tiga pria yang diamankan oleh polisi dari dalam mobil Kijang Innova abu-abu bernopol B1968ZF di sekitar Mall Mangga Dua dan Kantor Samsat Jakarta Utara. Waktu itu kita masih hangat-hangatnya kekhawatiran dan kewaspadaan pasca-bom Thamrin. Alhasil ketiga lelaki itu diamankan karena disangka teroris.

Ternyata tiga pria itu adalah petugas KPK yang sedang menjalankan misi/tugas, yang dalam berita mana pun tidak disebutkan apa misi mereka di sekitar Harco Mangga Dua itu. Yang kita tahu, ketiganya langsung dibawa ke Polres Jakarta Utara. Sementara kita tahu bahwa Harco Mangga Dua adalah proyek monumental bikinan pengembang yang saat ini bosnya sudah dicegah. Kantor pengembang itu juga ada di sana.

Alhasil dilansirlah oleh polisi maupun KPK, bahwa ketiga orang itu memang penyidik KPK yang lagi bertugas, dan bukan merupakan teroris atau pelaku narkoba. Kemudian berita itu hilang begitu saja. Tak pernah diketahui mengapa si petugas KPK hilir-mudik memantau kawasan sekitar kantor pengembang di Harco Mangga Dua itu.

Barulah akhir Maret 2016 – awal April 2016 kita dihebohkan dengan penangkapan Dirut Agung Podomoro dalam kasus suap. Jadi sekitar 2-3 bulan setelah kejadian intai-mengintai di Harco Mangga Dua itu. Sang pemilik grup pengembang yang kantornya diintai itu pun dicegah KPK 1 April 2016. Berturut-turut kemudian Sunny dkk dicegah juga.

Saya menduga ada hal besar dan penting dari sejak peristiwa Harco Mangga Dua hingga terungkapnya suap Sanusi itu. Hal besar dan penting yang terjadi jauh sebelum semuanya ramai sekarang. Hal besar dan penting mengapa polisi begitu sigap mengamankan penyidik KPK saat itu. Hal besar dan penting siapa sosok kuat yang bisa mengetahui dan membuyarkan operasi besar Kuningan.

Kita simak saja apa yang akan terjadi berikutnya. Sambil menguji dugaan saya ini.

Kembali ke soal Sunny. Saya pikir dia tak senaif untuk bisa dipandang hanya sebagai anak magang, mahasiswa doktoral politik kampus luar negeri, dan sejenisnya. Dia bukan seperti kita pada umumnya yang orang biasa-biasa saja, lahir dari keluarga biasa-biasa saja. Sunny penting didalami perannya karena dia punya akses. Akses ke kiri-kanan, atas-bawah. Persoalan dia termasuk anak muda yang berbakat, pintar atau tidak, itu tidak berpengaruh terhadap status hukum seseorang. Memangnya kalau dengar si anak kuliah doktoral di luar negeri sudah pasti tidak bisa bersalah secara hukum, kan tidak juga.

Korupsi bukan cuma soal terima uang. Korupsi juga soal akses. Tanpa akses, aksi korupsi tidak akan mulus. Ahli hukum pidana bisa menjelaskan hal itu dengan rinci. Ada aturannya dalam KUHP maupun UU korupsi.

Dalam posisinya, Sunny sangat berpotensi menjembatani pihak-pihak yang memiliki wewenang dan kepentingan dalam proses Raperda. Dia bisa akses pihak eksekutif (sebagai anak magang di Ahok), bisa akses ke DPRD juga (sudah ada pengakuan dari Ahok memang Sunny dilibatkan dalam pembahasan Raperda dengan DPRD), bisa akses ke para pengusaha/pengembang (melalui jalur kekerabatan atau jalur lain). Korupsi sama seperti kejahatan lainnya, ada niat, ada kesempatan. Tak bisa dengan mudah berkilah tidak tahu apa-apa bagi seseorang dalam posisi yang memiliki akses ke semua pihak dalam skala yang begitu strategis.

Ya, jangan dibuat bahan bercandaan, dibuat ringan, dibuat senyum-senyum dan ketawa-ketawa soal ini. KPK pasti akan mendalami dan membongkar hal yang besar dan penting dari semuanya ini. Lihat saja nanti.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Sunny Tanuwidjaja dan Teori Bunga Citra Lestari | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: