Psikologi Orang Kaya

Thursday, April 7th, 2016 - Opini Publik, Rumor

Selain ngoceh dan nulis, saya juga senang mendengar cerita orang. Setiap hari saya melakukan itu. Siapa saja, dari kalangan mana saja, saya senang dengar cerita mereka. Setiap orang itu punya keunikan, tak peduli siapapun dia. Karenanya dari setiap cerita, ada hal yang bisa dijadikan ilmu baru buat saya.

Nah, tadi siang saya dengar cerita dari beberapa eksekutif perusahaan swasta tentang Panama Papers. Dari apa yang saya tangkap, mereka itu tidak “tertarik” berbicara tentang siapa-siapa saja nama pesohor yang tertera dalam dokumen itu. Mungkin sudah hal yang lazim di kalangan pengusaha soal membuat perusahaan offshore semacam di BVI itu. Ini berbeda dengan yang ramai di media pers dan medsos, yang senang sekali mengungkapkan rasa penasaran tentang siapa lagi yang namanya tercantum di situ.

Ada yang menarik. Ternyata, Panama Papers itu menjadi sarana bagi sejumlah pihak di kalangan pemerintahan dan penegak hukum (atau mungkin ada juga dari kalangan pers) untuk menjalin “silaturahmi” dengan para pengusaha. Ada bahasa kalbu yang ditangkap sebagai kesan untuk “menakut-nakuti”. Misalnya bahasa model begini: “Udah lihat Panama Papers, bos? Semoga gak tercantum. Soalnya PPATK dan Kuningan bakal follow up nih. Di media udah rame lho.” (Kuningan maksudnya KPK).

Dari sanalah peluang “bisnis” (mungkin) terbuka. Sudahlah, tak perlu munafik. Itu kan kode supaya merapat. Si pengirim pesan menganggap bahwa kalau pengusaha itu pasti kaya dan ada lah uang buat dibagi.

***
Dari situ saya punya pikiran, punya pertanyaan, bagaimana definisi orang kaya di negara ini. Apa maksudnya sebutan kaya? Siapa yang masuk kategori orang kaya? Benarkah anggapan orang selama ini tentang sosok-sosok orang kaya itu? Lantas siapa pula orang-orang kaya yang saat ini sedang dikejar pajaknya oleh pemerintah itu? Apa pula arti dari ungkapan “dari sananya memang sudah kaya”?

Bagi saya unik dan penting juga nih untuk meletakkan pemahaman tentang definisi orang kaya di Indonesia.

Ada situasi begini. Anda mengintip isi dompet orang ketika akan membayar di kasir dan Anda lihat dompet orang itu tebal sekali dengan duit pecahan Rp100 ribu. Apakah ini orang kaya? Kalau pandangan saya pribadi, tidak. Orang kaya tidak seperti itu. Menaruh duit tebal di dompet bukan tindakan yang mencerminkan orang kaya.

Saya juga punya “teori” yang berdasarkan pengalaman. Kalau ada orang yang terlalu ribet memilih-milih tempat makan di tempat yang terkesan berkelas, lalu menawari macam-macam makanan, seolah-olah saya baru pertama kali datang dan makan ke tempat semewah itu, untuk berbicara bisnis, naluri saya bilang, deal sulit terjadi. Biasanya bakal kosong-kosong aja setelahnya. Tapi kalau misalnya cuma dijamu wajar, bahkan cuma air putih, tetapi pembicaraan fokus, nah ini biasanya yang jadi barang. Apakah orang yang mengajak makan/bertemu dengan menonjolkan kemewahan itu adalah orang kaya? Belum tentu.

Lalu, apakah orang-orang yang tercantum di media massa sebagai 100 orang terkaya, 50 orang terkaya, dsb, adalah benar-benar orang kaya? Belum tentu juga. Saya pernah dengar pengakuan orang yang diminta untuk membantu supaya menyelipkan nama bosnya sebagai salah satu dari 100-an orang terkaya di Indonesia di dalam liputan satu majalah/terbitan. Mengapa dia ngotot supaya namanya masuk, supaya dipercaya kalau mau ngutang. Orang kaya berutang lebih dipercaya ketimbang orang miskin berutang.

Tapi ada juga orang/pengusaha yang mengaku gelisah kalau namanya terus-terusan masuk sebagai daftar orang terkaya. Alasannya, pajak. Orang pajak akan mengejar orang kaya. Makanya si orang yang dianggap terkaya itu lalu akan “merendah-rendahkan” dengan mengatakan kalau saya dianggap kaya karena saya laporkan semua, nah kalau tetangga sebelah kan tidak.

Apakah mereka yang naik mobil mewah itu kaya? Belum tentu. Bisa saja itu sewa harian. Banyak penyedia jasanya. Apakah punya banyak perusahaan itu (Apalagi di Cayman Island, BVI) kaya? Belum tentu juga. Bikin perusahaan di sana cuma 1 USD. Banyak yang pinjam nama pula. Apakah punya saham di mana-mana itu kaya? Belum tentu. Beli saja anda 1 lot-1 lot saham di bursa, sudah jadi owner perusahaan-perusahaan ternama juga Anda.

Kalau di dalam mobil dan lewat kawasan perumahan elite, saya suka melamun dan bikin sinetron di kepala. Apa iya Tuhan kasih kehidupan orang sempurna sekali, rumah mewah dan hidup bahagia tanpa persoalan? Sampai ada saja pengalaman hidup saya bertemu dan kenal dengan beberapa orang yang dianggap kaya-raya, tetapi ya kalau dengar curhatnya, masalahnya lebih berat dari yang saya dan keluarga alami. Dia malah bilang hidup saya jauh lebih beruntung dari dia, lebih tenang. Alhasil saya selalu bersyukur sama Tuhan apapun yang Dia kasih dan ambil dari saya.

Jadi, kaya itu di satu sisi adalah soal persepsi juga. Persepsi kita tentang kaya menentukan bagaimana cara pandang dan keputusan hidup yang kita ambil. Banyak orang sukses dalam bisnis dengan memanfaatkan kejelian dia mengelola persepsi orang Indonesia tentang apa itu hidup enak dan kaya raya itu.

Pernah dengar iklan sebuah lembaga pendidikan yang berbunyi “lulus langsung kerja”? Sedikit yang akan kritis merenung, kerja apa dulu, berapa gajinya, jenjang kariernya bagaimana, dsb. Yah, bayangkan saja berbondong-bondong orang sekolah di situ, 1-2 tahun, langsung setelah lulus disalurkan ke perusahaan mitra lembaga pendidikan itu, jadi apa kek yang penting kan kerja, persoalan seminggu kemudian dipecat itu urusan lain, yang penting kan langsung kerja setelah lulus, dan akan ada murid baru lagi mendaftar. Begitu terus. Jadilah bisnis pendidikan itu membesar. Nasib siswa? Ya bagaimana hidup mengalirlah, yang penting kan lulus langsung kerja.

Atau “beli rumah tanpa utang”. Silakan renungkan sendiri.

Atau pernah ditelepon marketing bank/asuransi yang membuka percakapan dengan kalimat “kabar baik buat bapak/ibu nih”? Kalimat itu membuka persepsi awal bahwa kita bakal dapat rezeki. Padahal ujungnya adalah penawaran paket/program. Kalau mau kabar baik ya dia telepon, bilang ada duit Rp1 miliar, silakan tinggal diambil tunai, terus kita tidak perlu ada ikatan apa-apa. Tidak perlu kerja apa-apa.

Mungkin Anda pernah punya urusan bisnis dengan grup/perusahaan/orang kaya dan Anda mengeluh, “Katanya masuk daftar orang kaya, tapi tagihan Rp5 juta aja lama banget cairnya.”

Atau saya jadi ingat beberapa tahun lalu ada partai politik baru dibentuk oleh salah satu orang yang dianggap konglomerat Indonesia dan menjanjikan Rp5 miliar untuk 1 calegnya. Artinya kalau ada 300 caleg berarti dana yang harus disiapkan adalah Rp1,5 triliun. Berbondong-bondonglah orang se-Indonesia mendaftar partai itu, lalu membuat kepengurusan provinsi, kabupaten/kota, dengan pikiran terfokus ke Rp5 miliar/caleg itu. Hasilnya adalah syarat pembentukan partai di Kemenkumham dan KPU terpenuhi, jadilah partai lolos verifikasi, dan ikut pemilu. Lalu, kapan cairnya tuh Rp5 miliar? Ya tidak terjadi sampai sekarang. Solusi singkat: pecah kongsi para pendirinya dan buat partai baru. Arus bawah pun bergolak dan bakar kartu anggota. Ini strategi marketing politik yang canggih sekali. Lagi-lagi karena persepsi tentang orang kaya tadi.

***
Jangan pernah persepsi tentang kaya itu menipu Anda. Jangan panik dan serakah. Tetaplah dingin menilai segala sesuatunya. Bersyukur pada Tuhan adalah hal yang terpenting.

Ilmu akuntansi tak mengajarkan tentang apa itu “kaya”, apa itu “bebas finansial”, apa itu “orang berada dan sejahtera”, apa itu “hidup enak”, apa itu “sukses”, apa itu “tajir”…Sederhana saja ajarannya: aset (aktiva).

Ada aset berarti ada kewajiban (utang) dan ekuitas. Ada aset lancar dan aset tidak lancar. Aset lancar bisa berupa kas, investasi jangka pendek, piutang usaha, dsb. Aset tidak lancar bisa berupa aset tetap, aset tidak berwujud, investasi jangka panjang.

Kalau mau jelas, silakan Anda baca-baca pelajaran akuntansi waktu kita SMA dulu.

Tapi, yang saya mau bilang, ada aset tak berwujud yang namanya goodwill. Nama baik. Reputasi. Jauh di atas soal angka-angka tadi, pada akhirnya hidup adalah soal menjadi pribadi yang terbaik, melakoni sesuatu yang baik dan bermanfaat buat sesama, berniat baik dan berkomitmen yang dilaksanakan dengan tulus, dsb.

Jadi, saya rasa, kalau semua pihak (rakyat dan pemerintahan) negeri ini berpikir tentang pentingnya nilai yang baik-baik itu untuk kepentingan bersama, rasanya mudah menarik ribuan triliun yang ada di luar negeri masuk ke Indonesia untuk kemajuan bangsa kita bersama.

Bahagia tak semata soal uang.

Ayo, Tuan dan Puan yang memarkir uangnya di negeri orang, kembali ke sini, putar lagi duitnya di sini, bangun negara ini, supaya lapangan kerja makin luas pengangguran berkurang, pengusaha yang kecil bisa maju, ekonomi cerah lagi, orang miskin berkurang dan hilang. Jika ada pejabat yang masih korup, kita kerangkeng sama-sama.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Psikologi Orang Kaya | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: