Rumor Newmont: Berita sebagai Mesin Uang

Friday, April 1st, 2016 - Opini Publik, Rumor

Sampai jam segini, saya tengok masih sedikit media yang mencaplok rumor terkini dari Bloomberg soal rencana akuisisi saham Newmont Nusa Tenggara (NNT). Sekira pukul 10 WIB tadi, Bloomberg menurunkan berita berjudul Indonesian Investors Said to Prepare US$2 Billion Newmont Mine Bid. Bisnis.com sudah mengutip.

Mengutip sumber anonim, disebutkan bahwa konsorsium yang dipimpin Agus Projosasmito menyiapkan penawaran US$2 miliar (Rp26 triliun) untuk menjadi pengendali di NNT. Konsorsium dimaksud ingin menguasai 80% saham di NNT. Proposal akan dikirimkan pekan depan. Dinyatakan pula bahwa konsorsium itu akan dapat pinjaman US$1 miliar (Rp13 triliun) dari sejumlah bank seperti BNP Paribas SA, Malayan Banking Bhd, dan Societe Generale. Dari dalam negeri, pinjaman diberikan oleh PT Bank Mandiri dan PT Bank Negara Indonesia (BNI).

(Salah satu artikel yang menjelaskan siapa Agus Projosasmito dan hubungannya dengan Mandiri Sekuritas bisa diakses di tautan ini: Niat Mandiri Menjadi Raksasa)

(Mengenai isu akuisisi Newmont pernah ditulis di blog ini berjudul: Newmont dan Ujung Permainan Opini Publik)

PT Medco Energi Internasional, Tbk (MEDC) yang digawangi pengusaha Arifin Panigoro akan masuk sebagai pemegang saham NNT bersama Projosasmito. Sebagai bagian dari kesepakatan, investor baru juga akan mengakuisisi 24% NNT yang saat ini dipegang oleh Bakrie Group melalui PT Bumi Resources Minerals, Tbk (BRMS).

(Pada 18 Maret 2016, Bloomberg juga meluncurkan rumor lewat berita berjudul Indonesian Group Seeks $1 Billion Debt for Newmont Mine DealPenting dicatat bahwa narasumber berita tersebut adalah Shiv Dave, pendiri firma konsultan keuangan Emindobiz (Indonesia-Singapura), yang kantornya di Plaza Sentral Jakarta.

“We have managed more than US$10 billion (Rp131 triliun) of transactions related to capital raising, IPO, M&A advisory, private equity and Project Finance.”

Portofolio sang pendiri: Prior to setting up Emindobiz, Mr. Shiv Kumar Dave was a Partner (Head transaction Services, Indonesia) with KPMG Indonesia. During his 4 years with KPMG Indonesia, he was involved in several land mark transactions including US$14 billion (Rp184 triliun) Asia Pulp and Paper restructuring, acquisition of Excelcomindo by Telkom Malaysia, acquisition of Satelindo by and advising Mitsui on Tangguh project).

Komposisi pemegang saham NNT per hari ini sesuai informasi yang dilansir laman PT NNT: 56% milik Nusa Tenggara Partnership B.V (Besloten Vennootschap, privat Belanda); 17,8% PT Pukuafu Indah (PTPI); 24% PT Multi Daerah Bersaing (PT MDB); 2,2% PT Indonesia Masbaga Investama (PT IMI).

Dari 56% milik Nusa Tenggara Partnership BV itu, sebanyak 31,5%-nya milik Newmont Mining Corp, sisanya punya Sumitomo Corp dll. Sementara dari 24% milik PT MDB, sebanyak 18% adalah milik BRMS melalui anak usahanya Multi Capital dan sisanya 6% punya BUMN Pemda NTB yakni PT Daerah Maju Bersaing.

Jadi contoh sederhananya begini. Jika benar terjadi transaksi itu maka BRMS (Bakrie Group) akan memperoleh dana sebesar 18/80 x USD$2 miliar = US$450 juta (Rp5,9 triliun).

Hukum jual-beli mensyaratkan empat hal: ada pembeli, penjual, objek transaksi, dan kesepakatan. Semua syarat harus terpenuhi. Tapi bagi para “penjudi” hukumnya berbeda: beli berdasarkan rumor, jual berdasarkan news (berita). Itulah sebab mengapa beberapa waktu belakangan ini, rumor bahwa Medco akan mengakuisisi Newmont santer dihembuskan supaya menarik minat orang akan prospek usaha entitas dimaksud. Tercatat, misalnya, pada akhir tahun lalu isu ini dihembuskan oleh Menko Maritim Rizal Ramli, lantas berhembus lagi via Bloomberg pada 18 Maret 2016, menguat lagi kemarin saat Arifin dan M. Luthfi (komisaris Medco) ke Istana dan dibenarkan oleh Seskab bahwa Medco akan akuisisi Newmont, dan dikuatkan lagi oleh Bloomberg hari ini.

Rumor berkembang jauh sebelum proses formal dilakukan. Nyatanya sampai hari ini proposal akuisisi belum diterima oleh Kementerian ESDM. Belum lagi soal izin ekspor, kontrak karya, smelter, pajak, royalti, dll yang masih perlu proses panjang.

Penutupan kemarin saham Medco naik sampai 140-an poin. Meskipun siang ini melorot lagi -45 poin pada harga Rp1.450. Sebenarnya saham publik di Medco ini tak banyak, cuma 18%. Terbesar 50,92% dimiliki oleh Encore Energy Pte Ltd, 20,82% punyanya Credit Suisse AG SG Trust Account Client, 9,94% milik PT Prudential Life Assurance, 0,25% milik PT Medco Duta, dan 0,06% milik PT Multifabrindo Gemilang. Total jumlah lembar saham beredar emiten ini ada 3 miliaran lembar. Kapitalisasi pasarnya sekitar Rp4,8 triliun.

Fundamental keuangannya juga tidak terlalu bagus:

Laba bersih Q3 2015: (Rp393 miliar) artinya rugi
Laba bersih Q3 2014: Rp24 miliar

Beban penghasilan/lain-lain Q3 2015: Rp642 miliar
————————— Q3 2014: Rp67 miliar

Beban pajak penghasilan Q3 2015: Rp227 miliar
————————- Q3 2014: Rp304 miliar

Kalau ditengok LK Q3 2015, posisi kewajiban jangka pendeknya adalah US$452 juta (Rp5,9 triliun) dan kewajiban jangka panjangnya US$1,7 miliar (Rp22,3 triliun). Kreditur bank terbesar Medco adalah Bank Mandiri (US$345 juta/Rp4,5 triliun)), BNI (US$185 juta/Rp2,4 triliun)), Bank ICBC Indonesia (US$50 juta/Rp657 miliar), The Hongkong and Shanghai Banking Corp (US$20 juta/Rp263 miliar), dan Bank of Tokyo (US$30 juta/Rp394 miliar). Jika benar berita Bloomberg di atas maka Medco akan mendapat pinjaman lagi US$1 miliar (Rp13 triliun) dari BNP Paribas dkk.

Artinya adalah utang akan makin besar.

Ada anggapan orang bahwa antara grup Medco dan Bakrie adalah seteru abadi. Contoh kasus PSSI. Tapi film koboi mengajarkan kita semua bahwa kalau belum tembak-tembakan satu lawan satu di padang gurun, belumlah bisa dikatakan musuh. Buktinya antara keduanya kini saling (akan) bertransaksi.

Bukankah Bakrie juga perlu dana untuk membayar utang jatuh temponya? Berdasarkan LK Q3 2015 BRMS, total kewajiban (jangka pendek maupun panjang) adalah US$ 811 juta (Rp10,6 triliun). Tercatat laba bersih Rp77 miliar tapi itu karena ada pajak yang ditangguhkan sebesar Rp255 miliar.

Dan lagi perlu diingat, kepemilikan saham BRMS di PT MDB sudah dijadikan jaminan utang ke Credit Suisse AG cabang Singapura yang jumlah totalnya mencapai US$300 juta (Rp3,9 triliun). Per April 2015, BRMS dan Credit Suisse sedang berunding untuk perpanjangan masa pembayaran utang.

Induknya BRMS yakni Bumi Resources (BUMI) juga lagi loyo. BUMI adalah pemilik 87,09% saham BRMS. Pemegang saham BUMI adalah publik (70,57%), Credit Suisse AG SG qq Longhaul Holdings Ltd (23,15%), dan PT Damar Reka Energi (6,28%). BUMI rugi terus: Q3 2015 (Rp1,8 triliun) dan Q3 2014 (Rp2,2 triliun).

Jadi kelihatannya, serumit apapun hitungan angkanya, ini persoalan simpel: sama-sama butuh uang dan uangnya muter di situ-situ aja.

Ya, begitulah rumor dan berita bekerja sebagai mesin keuangan.

Catatan: Artikel ini ditulis berdasarkan sudut pandang praktisi media massa, bukan pelaku bursa, bukan pula praktisi keuangan. Penulis tidak berkepentingan terhadap segala jenis perdagangan saham tersebut di atas.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Rumor Newmont: Berita sebagai Mesin Uang | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: