Lika-Liku Ekonomi Berbagi

Tuesday, March 29th, 2016 - Opini Publik, Rumor

Banyak kali belakangan ini orang bilang tentang ekonomi berbagi (sharing economy). Istilah ini makin populer seiring maraknya fenomena aplikasi Gojek dkk. Dari aplikasi tercipta banyak peluang dan kue ekonomi bagi rakyat banyak. Bisa jadi supir, ngojek, lalu bisnis-bisnis lain yang bisa dipermudah layanan antar-jemputnya dengan moda transportasi yang berbasis pemesanan online.

Saya juga selalu ingat dan pegang filosofi berbagi ini. Dulu, ada pengusaha senior yang mengajarkan ke saya begitu. “Jangan takut berbagi. Takutlah kalau tidak ada yang bisa dibagi, Gus,” begitu katanya. Nasihat itu membekas sekali. Saya tidak persoalkan “takut atau tidak takut berbagi” dalam pikiran saya. Yang saya fokus adalah pada “apa yang bisa dibagi”. Sejak itulah saya selalu berpikir untuk membuka peluang-peluang baru supaya ada tercipta apa “yang bisa dibagi” tersebut. Biar selalu ada rezeki yang bisa dibelah sama-sama, begitu. Semua senang. Hujan merata.

Oya, selain prinsip jangan takut berbagi tadi, saya punya satu pengalaman lagi. Suatu kali saya punya seorang kawan yang mungkin kalau orang lihat dari luarnya, orang akan dengan mudah bilang dia adalah seorang pemain. Pemain kasus, pemain proyek, tukang gocek, dsb. Tapi, pada suatu malam ketika kami sedang minum anggur, dia bilang, “Kalau mau kaya, hati kita harus bersih.” Wih, canggih juga ucapan itu. Dan sampai sekarang saya selalu teringat-ingat ucapan itu.

Tak mudah menanamkan mental dan kebiasaan untuk saling berbagi dalam kenyataan di lapangan. Banyak kisah, pengalaman dari orang-orang yang situasinya seperti ini: ketika masih hitung-hitungan di kertas, semua damai. Nah, ketika duit mulai cair, berantem sendiri. Saling tikam. Sampai ada sindiran bahwa persahabatan menguat saat masih miskin saja. Ketika duit sudah cair, mulailah hitung-hitungan lagi. Hitung-hitungan siapa paling besar jasanya dan karenanya layak dapat bagian lebih banyak.

Orang hukum bilang tuangkan saja dalam perjanjian. Bawa ke notaris. Biar fair dan tidak ada dusta di antara kita. Ya, secara formal begitu, tapi tentu kita tahu sendiri, ada perjanjian tertulis saja masih bisa digocek-gocek. Masih bisa dipersoalkan. Malah kadang perjanjian tertulis itu jadi bagian dari strategi untuk menipu orang. Tapi ada juga yang tidak pakai perjanjian tertulis apapun tapi komitmennya nyata. My word is my bond. Yang begini biasanya langgeng hubungan bisnisnya. Jadi saudara karena bisnis.

Macam-macam jenis watak dan karakter orang. Dan untuk mengerti apa itu saling berbagi, tidak gampang. Betul, hati harus bersih. Komitmen harus dipegang kuat dan dilaksanakan.

Poin kedua adalah hargailah nilai dan proses. Saat anda sudah kaya dan berlimpah uang dari bisnis anda, tentu misalnya duit Rp1 juta tidak akan ada artinya. Untuk karaoke saja tidak cukup bukan? Tapi pikirkan ketika anda baru mulai berbisnis, modal dengkul, dan ada orang yang memberikan Rp1 juta itu untuk mulai. Tanpa duit Rp1 juta itu, anda tak akan bisa seperti sekarang. Nilai Rp1 juta saat itu dan sekarang tentulah berbeda. Begitulah saya juga terus bercita-cita untuk bisa membalas jasa kepada orang-orang yang memberikan Rp1 juta itu dahulu. Makanya kita harus bekerja keras untuk itu. Sekarang mungkin belum bisa membalas jasa itu, tapi kelak pasti terjadi.

Semoga banyak-sedikitnya uang di kantong dan rekening, tidak mengubah kita sebagai pribadi.

Lalu soal perkembangan teknologi. Kita memang harus mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Tetapi, jangan karena perkembangan teknologi itu membuat kita jadi lupa akan kontribusi para pionir yang sekarang mungkin disebut konvensional.

Saya misalnya sangatlah salut dan respek pada pendiri Detikcom, Tempointeraktif, dsb yang memulai industri media online. Kenapa? Karena merekalah yang membentuk ekosistem bisnis ini sehingga sekarang para pebisnis media online bisa ikut cari rezeki di ekosistem itu. Merekalah yang membuka peluang, membuka pasar, membentuk kultur dan kebiasaan, membentuk hukum ekonomi media online, dsb. Karena semua sudah dibukakan, banyak orang bisa masuk dan mengembangkan bisnisnya di arena tersebut. Mereka rela berbagi lapak dengan pemain lain dalam ekosistem yang mereka bentuk.

Begitulah, berbagi itu banyak liku-likunya. Dan ingat bahwa bukan suka, senang, cuan saja yang dibagi, risiko dan rugi juga harus berbagi. Itu yang sering dilupakan orang. Kedua belah pihak harus sadar bahwa dalam bisnis bukan cuma untung melainkan ada juga risiko rugi.

Selamat malam dan semoga bisnis anda semua makin lancar. Jangan lupa saling kontak dan silaturahmi supaya kita bisa saling bertanya, “Ada yang bisa diolah sama-sama?”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Lika-Liku Ekonomi Berbagi | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: