Paskah untuk Persaudaraan Dunia

Saturday, March 26th, 2016 - Opini Publik, Rumor

Saya teringat 14 atau 15 tahun lalu, saat mahasiswa. Selepas Misa Jumat Agung di Gereja STPDN, Jatinangor, saya pernah seorang diri membagikan selebaran yang isinya kira-kira menyatakan ketidakpercayaan dan kritik terhadap segala macam ritual Pekan Suci Gereja Katolik. Saya nyatakan bahwa Gereja dan segala ajarannya sudah kehabisan energi untuk membuat dunia ini jadi lebih adil, lebih baik. Ritual mencium kaki Yesus di salib dan tabur bunga dalam peti cuma selubung untuk menutupi ketidakmampuan Gereja memerangi ketidakadilan sosial. Paskah hanya menjadi alat bagi para elite Gereja untuk mempertahankan “kedudukan suci”. Gereja telah menjadi institusi yang elitis. Jauh dari kenyataan sosial, karenanya layak dipertanyakan lagi kontribusinya untuk keadilan dan kemanusiaan. Janji keselamatan dari Gereja adalah omong kosong, jika keadilan dan kemanusiaan tidak terwujud di bumi.

Kalau dipikir lagi sekarang, sinting juga kelakuan saya waktu itu. Tapi, maklumlah, kata Rhoma Irama: Darah muda.

Waktu terus berjalan dan mengubah banyak hal. Darah muda perlahan-lahan berkurang didihannya. Sekarang, saya tidak lagi dipusingkan dengan aneka teori dan kritik sosial. Saya justru “pusing” dengan segala taktik dan strategi untuk menuruti dan menjelaskan permintaan Aruna, putri saya, agar memutar ulang berkali-kali “Ave Maria“-nya Schubert versi Andre Rieu dan Mirusia Louwerse (penyanyi sopran Australia); dan “Ajarilah Kami Bahasa Cinta-Mu” di Youtube. Saya justru heran, kenapa Aruna bisa menyebut Mirusia dengan panggilan “Tante”.

Begitulah. Hidup ini ajaib. Bersyukur sajalah atas semua yang terjadi.

Namun, saya menaruh kekaguman terhadap sikap dan “garis politik” yang dipegang oleh Paus Fransiskus saat ini. Pilihannya pada Kamis Putih lalu, di Roma, untuk membasuh kaki para imigran dan pengungsi adalah luar biasa. Saya baca liputan National Catholic Register (NCR) bahwa mereka yang dibasuh kakinya itu terdiri dari 11 orang imigran dan satu relawan. Empat orang adalah Katolik dari Nigeria, tiga adalah perempuan Koptik dari Eritrea, tiga orang Muslim, dan seorang remaja Hindu dari India.

Hampir 900 imigran dan lebih dari 100 relawan hadir di Roma saat itu. Sebagian besar adalah imigran yang ditampung di Reception Center for Asylum Seekers (CARA) di Castelnuovo di Porto, 18 mil dari Roma. Sebagian besar imigran itu adalah Muslim, beberapa lainnya Kristen (Koptik atau Protestan).

All of us are making the same gesture of brotherhood,” kata Paus dikutip NCR.

“Actions speak more than images and words.”

“Muslims, Hindus, Catholics, Copt, evangelicals, but brothers. Children of the same God who want to live in peace, integrated.”

Aksi lebih penting dari gambar dan kata-kata. Dan saya pikir, salah satu ujian “kontemporer” Gereja Katolik dalam kancah politik global adalah diplomasinya terhadap China, negara yang sejak 1951 telah memutuskan hubungan diplomatik resminya dengan Vatikan, yang memicu kemelut Vatikan vs Komunis. Konstitusi China 1982 melarang aktivitas keagamaan. Gereja, biara, dsb musti terdaftar dan dikontrol oleh negara. Vatikan menyebut pastur dan uskup yang “mengikuti” kepatuhan patriotik terhadap pemerintah Komunis China sebagai “false shepherds” dan “illicit bishops“. Saat ini penganut Nasrani di China mencapai 70 juta orang, bandingkan dengan pada tahun 1949 yang berjumlah hanya 4 juta orang.

Kebetulan ada laporan terbaru dari Victor Gaetan di Foreign Affairs yang berjudul The Pope and the Politburo. Victor adalah koresponden senior NCR. Dalam tulisan itu diceritakan tentang pasang surut dan perkembangan diplomasi Vatikan terhadap pemerintah China yang saat ini dipimpin oleh Presiden Xi Jinping. Tahun lalu, koran Italia, Corriere della Sera, mengutip Paus yang berkata, “We are close to China. The relationships are there. They are a great people whom I love.”

Menurut Victor, awal tahun ini Paus Fransiskus juga melontarkan pernyataan: “I would very much like to go to China. I love the Chinese people. I love them very much.”

Situasi berhadapan dengan pemerintahan komunis semacam ini bukan pertama kali dialami Vatikan. Di Hungaria, Romania, Bulgaria, Kuba, Ceko, Polandia, dsb, juga pernah terjadi diplomasi semacam ini. Diplomasi dengan pemerintahan komunis yang dicibir oleh sebagian orang dengan tudingan bahwa Vatikan tengah berkompromi dengan setan.

Moral dari ini semua adalah harapan bahwa semoga di kemudian hari, agama benar-benar menjadi energi positif yang bukan memecah belah manusia melainkan menjadi pengikat kemanusiaan. Persaudaraan harus dijunjung tinggi oleh penganut agama apapun juga. Politik yang rakus dan busuk harus dilawan oleh semua orang dari agama apapun.

Saya pikir sudah tidak zamannya lagi perbedaan agama, keyakinan, ideologi menjadi sebab peperangan yang menyengsarakan manusia di medan apapun.

Selamat Paskah 2016.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Paskah untuk Persaudaraan Dunia | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: