Teknologi Berubah, Mental Calo Tetap

Wednesday, March 23rd, 2016 - Opini Publik, Rumor

Saya pikir betul pendapat orang yang menyebutkan bahwa menutup aplikasi pemesanan moda transportasi online adalah kesia-siaan belaka. Alasannya, satu ditutup akan muncul aplikasi lain yang mungkin lebih canggih lagi. Lagipula istilah menutup aplikasi tidak tepat, lebih pas adalah memblokir akses via provider telekomunikasi di perangkat gawai. Kewenangan Kemenkominfo adalah pada sisi provider telekomunikasi.

Sebaiknya kita lupakan sejenak isu tutup/blokir tersebut. Pikirkan hal yang lebih penting mengenai regulasi yang adil bagi semua pelaku bisnis transportasi. Perkembangan teknologi begitu cepatnya. Triliunan duit diinvestasikan pada bisnis IT di seluruh dunia. Judulnya kapitalisme juga. Siapa bermodal kuat, dia pemenang. Pemenang ditafsirkan siapa meraih cuan. Dengan modal sedikit-dikitnya, untung sebanyak-banyaknya. Begitulah hukumnya.

Tengok-tengoklah perkembangan global. Saya baca di Bloomberg, Parlemen Inggris, Selasa lalu, mengajukan rancangan undang-undang yang mengatur tentang transportasi online ini. Yang mengajukan adalah politisi oposisi (Partai Buruh) Wes Streeting. RUU-nya dinamakan Ten Minute Rule Bill. Inti aturan itu adalah mewajibkan syarat tambahan bagi seluruh pengemudi dan operator taksi online. Di Inggris, seorang pengemudi angkutan umum musti menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengikuti tes mulai dari memahami rute kota, rambu-rambu, mengemudikan taksi simulator, memahami navigasi satelit, dsb.

Belum selesai urusan pengaturan orang, saya baca lagi di Techtimes dan Mashable bahwa Uber sudah bersiap untuk tak lagi menggunakan supir untuk mengoperasikan mobil. Disebutkan bahwa, pada 2020 nanti taksi tanpa supir akan dioperasikan penuh. Uber telah memesan 100 ribu Mercedes Benz S-Class Limousine yang pada uji coba di Jerman bisa melaju 103 km (64 mil) dari Mannheim-Pforzheim tanpa supir. Harga estimasi 100 ribu unit itu adalah US$9,6 juta.

Selain soal perubahan peta per-cuan-an, ini juga soal perubahan budaya. Bisnis transportasi online tak sekadar hidup untuk bisnis transportasi itu sendiri. Dia sudah menjadi label, menjadi gaya hidup modern, cara berpikir. Lihat situs blameet.com yang menggunakan istilah Uberization untuk menyebut wartawan dan penulisnya. Istilah itu mengacu pada sudut pandang bahwa setiap orang bisa jadi penulis/wartawan, bisa mendapatkan income dari kegiatan itu yang menjadikannya lahan mencari nafkah. Istilah Uberization bagi penulis/wartawan ini menggeser “popularitas” istilah citizen journalism nantinya.

Betul analisis yang bilang aplikasi transportasi bukan sesuatu yang dijalankan untuk bisnis transportasi semata. Lihat Grab yang menggandeng ecommerce MatahariMall. Lihat pula Go-jek yang investornya, NSI Ventures, juga getol menanam duitnya di bisnis penjualan online dengan melalui Redmart, Crayon, Chope, Jualo, dsb. Kehadiran Gojek sendiri saya lihat diakui atau tidak mendorong penjualan sepeda motor di Indonesia. Sales, sales, dan sales. Bukankah ini jantung semua bisnis?

Lalu bagaimana pemerintah akan menyikapi semua perkembangan teknologi global ini, yang nyatanya berdampak pada kehidupan masyarakat Indonesia secara langsung?

Tentunya orang-orang pemerintahan harusnya lebih cerdas dari saya dan kita semua orang biasa kan. Mereka harus bisa mewujudkan satu ekosistem ekonomi yang membuat rakyat Indonesia aman dan nyaman mencari nafkah. Jangan ada lagi demo-demo yang merusak hanya karena ada yang merasa diperlakukan tidak adil dalam hal regulasi.

Perubahan adalah keniscayaan. Dan saya yakin perusahaan seperti BIRD dan TAXI akan segera merespons perubahan ekosistem ini. Toh mereka juga punya dana yang cukup besar kok untuk ini semua.

Saya justru khawatir dengan pemerintah yang terkesan kikuk menghadapi semuanya ini. Ketika masyarakat dan pelaku usaha sebenarnya justru paling siap menghadapi perubahan, pemerintah justru bingung mau apa dan berkelahi sendiri. Ada saya baca di media bahwa politisi memanfaatkan situasi kisruh transportasi online ini dengan menyediakan jasa lobi ke regulator.

Lah, ternyata, perubahan teknologi tidak mengubah kelakuan dan mental. Sekali calo tetap calo.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Teknologi Berubah, Mental Calo Tetap | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: