Cicero dan Pilkada DKI Jakarta

Monday, March 21st, 2016 - Opini Publik, Rumor

Saya masih yakin bahwa Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam yang situasinya masih bersahabat untuk dihidupi oleh warga non-Muslim. Dasar negara adalah Pancasila, yang mengakui keberadaan minoritas. Persoalan masih ada segelintir aksi teror mengatasnamakan agama, itu adalah persoalan kasuistis yang saya juga yakin tidak merepresentasikan mayoritas Muslim di negeri ini.

Jika akhir-akhir ini — seiring panasnya suhu politik jelang Pilkada DKI Jakarta 2017 — muncul isu dan berita yang menyinggung agama Ahok yang non-Muslim, saya berpikir taktis saja bahwa itu semua bukan mewakili identitas “politik-agama” warga Jakarta, yang menjadi bagian paling prinsip dalam memandang persoalan SARA di ranah politik. Sederhananya begini. Saya kenal banyak kawan yang tak setuju bahwa orang non-Muslim seperti Ahok dan saya jadi gubernur (pemimpin) karena alasan agama yang diyakininya berkata begitu, namun dalam hubungan sehari-hari, mereka adalah orang yang tidak membenci keseluruhan orang non-Muslim, dan mengakui keberadaan kalangan minoritas serta toleran juga.

Kesimpulan sederhana saya: ini masalah politik saja. Perbedaan preferensi untuk memilih pemimpin.

Salah satu pengalaman saya sehingga saya berkata demikian adalah statistik politik yang berbasis survei. Terutama pada poin pembedaan antara kalangan pemilih rasional dan pemilih tradisional. Memang kita tidak bisa hitam-putih dalam membuat pembedaan antara dua karakter pemilih itu. Bisa saja ada persinggungan di antara keduanya untuk beberapa kasus. Dan yang perlu diingat, preferensi tradisional — pendeknya yang mendasarkan pilihan berdasarkan identifikasi primordial — tidak hanya berlaku bagi isu Muslim-Non Muslim saja, tetapi juga berdasarkan etnis. Bukankah banyak juga yang mendukung Ahok karena sesama etnis Tionghoa, misalnya? Bukankah ini preferensi berdasarkan ikatan tradisional juga?

Jadi, ikatan primordialisme itu, suka atau tidak suka, masih diyakini oleh beberapa konsultan dan praktisi politik di kota semetropolitan Jakarta ini sebagai faktor yang penting untuk mendulang pemilih.

Hitungannya begini. Jika menurut CSIS, elektabilitas Ahok mencapai 43%, berapa yang karakternya rasional dan berapa yang tradisional? Lantas, 57% lainnya adalah potensi suara yang bisa digarap oleh calon lain. Berapa yang berkarakter rasional, berapa yang tradisional? Seorang kawan saya yang Polster menganalisis bahwa pemilih tradisional di Jakarta masih banyak, kisarannya bahkan bisa lebih banyak dari yang pemilih rasional (yang biasanya dianggap sebagai kalangan menengah, melek teknologi, berpendidikan, menilai berdasar kinerja an sich, dsb). Namun, sayang, angka persentasenya tidak dikasih tahu ke saya. Mungkin itu rahasia untuk analisis internal tim sukses.

Sebab itulah, wajar jika di media massa dan medsos saat ini muncul beragam isu Muslim-Non-Muslim dalam memilih pemimpin Jakarta. Ya, ini saya pandang sebagai strategi kampanye politik, yang tak perlu dikhawatirkan akan meluas menjadi kerusuhan SARA di Jakarta, apapun hasil Pilkada DKI Jakarta 2017 nanti.

Selain isu SARA, muncul pula isu skandal korupsi. Akan dibedah di media massa tentang cacat masing-masing kandidat. Entah itu korupsi dan skandal pidana lainnya, skandal seks mungkin saja, dan sejenisnya. Ini juga politik, model yang sudah ada sejak zaman purba.

Siapa saja yang pernah membaca The Commentariolum Petitionis atau Handbook on Electioneering karya Quintus Tullius Cicero tentu paham bahwa situasi kampanye SARA dan aneka skandal itu sudah terjadi sejak zaman 2000-an tahun lalu. Buku itu sendiri merupakan catatan dan saran Quintus kepada saudaranya yang seorang pengacara, Marcus Tullius Cicero, yang sedang bertarung untuk memperebutkan jabatan konsul di Roma pada tahun 64 BC.

Segala jenis kampanye politik akan berawal dari proses membangun kepercayaan diri (confidence building). Meyakinkan orang lain bahwa dialah yang paling layak memimpin. Lalu menjadikan diri sang kandidat sebagai “a dealer in hope” dan melakukan “retails politics“.

Pada zaman itu, Quintus sudah “menyarankan” pentingnya melakukan serangan kepada lawan dengan memakai tiga isu utama: kejahatan (crimes), skandal seks (sex scandals), dan korupsi (corruption).

Kandidat pun wajib untuk mengidentifikasi siapa teman sejati dan lawan sejati. Kata Quintus, ada tiga jenis orang yang akan berdiri untuk melawanmu. Pertama, mereka yang pernah kau sakiti (those you have harmed). Kedua, orang yang memang tak suka kepadamu (those who are dislike you for no good reason). Ketiga, teman dekat musuhmu (those who are close friends of your opponents). Dijelaskan juga cara menangani ketiga jenis manusia ini dalam sebuah pertarungan politik. Bisa anda baca sendiri bukunya.

Poin yang ingin saya katakan adalah politik itu dinamis. Politik itu seni juga untuk merebut kekuasaan. Saya pikir perbedaan preferensi memilih pemimpin di antara kita janganlah terlalu dimasukkan ke dalam hati, dibuat terlalu serius, sehingga friksi terjadi di dalam hubungan antarpersonal. Santai saja. Toh, apapun pilihannya, hubungan teman, kerabat, dan persaudaraan harus tetap yang paling penting.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Cicero dan Pilkada DKI Jakarta | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: