Path dan Wiji Thukul

Saturday, March 19th, 2016 - Dapur Berita, Opini Publik, Rumor

Saya baru saja membaca berbagai berita yang sedang ramai sejak kemarin, yaitu tentang Wicaksono (pemilik akun Path Ndorokakung) yang menulis bahwa Wiji Widodo (Wiji Thukul) terlibat dalam gerakan mendukung Timor Leste, merakit bom untuk Timor Leste, dan tewas dibom di perbatasan RI-Timor Leste. Ndoro bilang dia dapat informasi itu dari teman yang tak bisa disebutkan. Dia juga menulis bahwa informasi itu masih butuh konfirmasi.

Terang saja ini seperti menyiram bensin ke dalam kobaran api. Panas. Saya baca transkrip rekaman wawancara wartawan gresnews.com dengan Ketua Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI) Wanmayeti bahwa pernyataan Ndoro itu telah melukai hati keluarga, sahabat, dan komunitas yang tengah memperjuangkan pertanggungjawaban negara terhadap kasus orang hilang.

Ndoro pun meminta maaf.

Dari kejadian ini semua, banyak pelajarannya. Jelas bahwa Ndoro tidak sensitif terhadap konteks permasalahan dan nilai yang tengah diperjuangkan oleh keluarga, sahabat, komunitas, bahkan saya pikir seluruh bangsa ini. Apa itu? Pertanggungjawaban negara. Kepastian hukum. Keadilan. Faktanya, meskipun Jokowi sudah berkuasa saat ini, rekomendasi Pansus Orang Hilang 2009 tetap saja jadi berkas dalam laci. Mana Pengadilan HAM Ad Hoc? Mana langkah presiden untuk total memerintahkan jajaran pemerintah dan pihak terkait untuk mencari 13 orang hilang? Mana rehabilitasi dan kompensasi terhadap keluarga korban? Mana kebijakan konkrit untuk mencegah kasus penghilangan paksa tak terjadi lagi? Mana Kejaksaan Agung? Lagi sibuk “ngerjain” para konglomeratkah sehingga lupa usut kasus orang hilang?

Agaknya Ndoro kurang peka terhadap persoalan ini. Persoalan yang tak sekadar bisa dialibikan dengan bilang bahwa Path adalah komunitas terbatas atau berungkap simplistis bahwa kalimat di Path-nya itu adalah bentuk provokasi kepada wartawan supaya mengejar fakta-fakta lebih lanjut. FYI. Ndoro adalah pemimpin redaksi sebuah situs kurasi informasi yang katanya menggunakan asistensi robot untuk mencari dan mengolah informasi dari beragam sumber.

Supaya masyarakat tidak salah mengerti, ada baiknya diluruskan bahwa tak ada urusan dengan Path atau non-Path. Ada aturan hukum teknologi informasi di negara ini (UU ITE) yang mengatur tentang “setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransimisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik…” Clear, ini bukan urusan Path atau non-Path. Faktanya, inti informasi sudah diakses masyarakat luas.

Lalu soal provokasi wartawan. Tak ada “alas hak” yang kuat juga, atas dasar apa yang bersangkutan merasa perlu untuk memprovokasi wartawan menggali fakta lebih lanjut, hanya berdasarkan informasi dari teman yang bersangkutan. Sumber anonim ada kualifikasinya dan tak bisa sembarangan diterapkan. Teman yang mana, apa kapasitasnya, punya otoritas atau tidak untuk menyuarakan informasi dalam konteks itu, dan apa urgensi publiknya mengejar kepingan informasi bahwa Wiji adalah perakit bom untuk Timor Leste dan pemasok amunisi untuk melawan ABRI? Lebih penting mana untuk mempertanyakan mengapa Pengadilan HAM Ad Hoc belum terbentuk dan pihak-pihak yang diduga terlibat belum diseret ke muka hukum, ketimbang mengurus perakitan bom, pemasok amunisi, dsb Itu?

Anggapan orang bahwa Ndoro adalah wartawan kawakan dan selebritas media sosial tidak serta merta merupakan alasan yang kuat bagi kita semua untuk meyakini informasi yang diberikan dan melakoni provokasinya toh.

Saya baca klarifikasi resmi dari ABCN (Associacao Dos Combatentes Da Brigada Negra) bahwa ketua organisasi itu yakni Kay Rala Xanana Gusmao ternyata juga tidak pernah berbicara tentang hal-hal yang Ndoro ungkapkan di Path.

Sayang berjuta-juta sayang. Sebuah isu yang sangat sensitif, menyangkut kehilangan besar bangsa ini terhadap sosok pejuang macam Wiji dkk, menjadi perbincangan massal yang tidak substantif hanya karena keluar dari tuturan seorang selebritas media sosial, disampaikan melalui akun medsos pribadi yang sama sekali sulit diverifikasi kebenarannya karena hanya mengandalkan informasi dari teman, dan celakanya lagi, karena ini bukan produk jurnalistik, tidak ada otoritas semacam Dewan Pers untuk mengadilinya secara kode etik; dan jika pun melangkah jauh ke ranah pidana, akan disibukkanlah jagat maya dengan segala macam argumen tentang kebebasan berpendapat dan berekspresi meskipun ada KUHP dan UU ITE yang mengatur unsur dan pemidanaannya.

Kita pun justru semakin jauh dari upaya untuk mengejar masalah sebenarnya yakni pengungkapan kebenaran dan keadilan dalam kasus orang hilang.

Ndoro oh Ndoro.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Path dan Wiji Thukul | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: