Perang Aplikasi vs Regulasi

Tuesday, March 15th, 2016 - Opini Publik, Rumor

Dulu, mungkin tak pernah terbayang, pesatnya perkembangan teknologi informasi berbasis digital bakal memukul pemain kuat seperti Blue Bird (PT Blue Bird Tbk) dan Express (PT Express Transindo Utama Tbk), dua perusahaan Tbk yang asetnya masing-masing Rp6,7 triliun dan Rp2,9 triliun. Penyebabnya adalah maraknya aplikasi pemesanan online yang dilakoni pemain anyar seperti Grab Car, Uber Taxi, Gojek dkk.

Kemarin sore saya naik taksi Blue Bird dan sang supir berteori: Uber dan Grab memukul taksi. Gojek dkk memukul angkot, bajaj, dan sejenisnya. Teori lain dari supir taksi yang baru dua tahun manggung di Jakarta itu adalah jarang-jarang Blue Bird dan Express demo barengan. Kenapa? “Karena pimpinan organda sekarang orang Blue Bird, makanya diajak juga supir-supir Blue Bird. Saya sih ikut aja,” kata dia. (Saya belum verifikasi benar-tidaknya soal “orang Blue Bird” itu).

Tapi, sebagai pelaku media massa, naluri saya bilang maraknya berita demonstrasi yang disusul dengan berita tentang desakan penutupan aplikasi Uber dan Grab, ada “apa-apanya”. Wajar sih, namanya juga mempertahankan bisnis yang melibatkan duit triliunan dan ribuan (bahkan mungkin jutaan karyawan), serta berdampak langsung pada masyarakat pengguna jasa transportasi. Serunya, segala macam spekulasi tentang nasib industri taksi “regulasi” vs taksi “aplikasi” ini membuka peluang spekulasi di bursa juga. Saham Express (TAXI) siang ini turun 7 poin menjadi Rp201 (ini lumayan daripada mandek di km 100 mulu). Sementara saham Blue Bird (BIRD) gas pol 50 poin mencapai Rp6.175.

Namun, pernyataan Jokowi bahwa tranportasi berbasis aplikasi tak bisa serta merta ditutup karena telah memudahkan masyarakat berpotensi membuyarkan semua spekulasi ini. Beberapa waktu lalu, juga ramai desakan dari para tukang ojek pangkalan supaya aplikasi Gojek ditutup, tapi desakan itu tidak kuat, dan aplikasi tetap berjalan seperti biasa. Ada bisik-bisik ke saya, lobi Gojek ketika itu sampai ke Wapres JK.

Pembaca sekalian, ini semua menyangkut putaran uang yang sangat besar, menurut saya. Persoalan aplikasi vs regulasi ini tak bisa dilihat secara sederhana karena menyangkut banyak dimensi. Aplikasi telah memukul laporan keuangan perusahaan transportasi besar. FYI. Revenue (TTM) BIRD Rp5,3 triliun, TAXI Rp971 miliar. Net income (TTM) BIRD Rp823 miliar, TAXI “cuma” Rp20 miliar. TAXI yang lumayan babak belur. Peringkat utangnya turun jadi A- karena arus kas operasional perusahaan jauh panggang dari api dengan proyeksinya. Ada kabar investor dari Spanyol akan masuk untuk kasih suntikan ke TAXI tapi sudah ditepis perusahaan. TAXI juga sempat dilirik Saratoga (Sandiaga Uno) tahun lalu, tapi batal.

Sebenarnya problem utamanya bukan pada aplikasi teknologi pemesanan yang memudahkan konsumen. Kenapa? Sebab perusahaan seperti TAXI juga punya aplikasi My Trip untuk pemesanan yang sama canggihnya dengan Uber dan Grab. Persoalannya adalah perusahaan seperti TAXI dan BIRD adalah perusahaan transportasi yang harus mengeluarkan duit untuk tetek bengek seperti pajak, pemeliharaan armada, leasing, KIR dan segala macam uji, dsb; sementara perusahaan aplikasi seperti Gojek, Uber, dan Grab adalah perusahaan IT yang tak perlu membayar itu semua. Artinya, bisnis dengan model kemitraan ala TAXI dan BIRD sudah ketinggalan zaman dengan model kemitraan Gojek, Grab, dkk. Kalau begini situasinya, terang saja BIRD dan TAXI kewalahan.

Belum lagi perusahaan seperti BIRD dan TAXI juga harus pontang-panting melayani gugatan hukum. BIRD, misalnya, baru saja memenangkan gugatan Rp5,6 triliun (materiil) dan Rp1 triliun (immateriil) yang diajukan oleh penggugat Mintarsih Abdul Latief dalam perkara merek. Saat ini Mintarsih proses kasasi. BIRD juga baru saja digugat di Pengadilan Negeri Medan terkait sengketa tanah milik PT Pusaka Bumi Mutiara di Medan. Nilai gugatan Rp2 miliar (ganti rugi) dan Rp15 miliar (moril).

Bahasa kerennya level playing field-nya timpang. Ini mengandaikan bahwa semua pelaku usaha harusnya memiliki kesempatan untuk meraih sukses yang sama, diatur oleh aturan main yang sama berikut penegakan hukumnya yang sama dan adil juga.

***
Tentunya naif untuk berpikiran bahwa bisnis aplikasi transportasi hanya akan bermain di aplikasi an sich. Tidak. Dari dulu saya sudah menduga-duga, mereka-reka peluang bisnis lanjutan apa yang akan digarap dan siapa saja yang diuntungkan.

(Baca: Antara Gojek, Hujan, dan Reshuffle Kabinet. ).

Ini bukan sekadar persoalan tutup aplikasi atau tidak. Ini persoalan perkembangan zaman yang kata Kompas ada faktor Generasi Y yang mengubah wajah korporasi. Tak hanya di industri transportasi, di industri media massa ini juga tengah berlangsung. Generasi Y mengubah wajah industri dan memukul kaum tua. Lihat saja, pemilik dan pimpinan media massa saat ini tak hanya didominasi konglomerat tua tetapi anak muda 20-30-an tahun yang mempekerjakan karyawan yang usianya bisa 10-20 tahun di atas mereka. Generasi Y memanfaatkan teknologi untuk mengubah peta industri dan bikin orang-orang tua pemain lama kadang beranggapan anak-anak muda ini ngelunjak. Tapi mau bagaimana lagi. Setiap masa ada orangnya. Setiap orang ada zamannya.

Kalau saya beranggapan, dalam dunia yang kapitalistik semacam ini, ujung-ujungnya modal adalah yang berkuasa. Siapa yang kuat modal akan menyingkirkan yang lemah. Jangan dikira Gojek itu perusahaan mini yang modalnya dengkul, Northstar adalah perusahaan investasi besar yang menjadi back up-nya. BIRD dan TAXI saya kira akan terus bergerak untuk meneror bisnis aplikasi Grab dan Uber dengan argumen kepatuhan regulasi. Grab dan Uber sebagai perusahaan asing yang berinvestasi di sini juga tidak akan tinggal diam melobi pejabat untuk “menyelaraskan” diri antara margin dan regulasi.

Ujungnya sama saja ada di tangan pengambil kebijakan. Sebijaksana apa untuk tidak ikut menggoreng situasi dan mudah disogok sana-sini. Kalau konsumen sederhana saja: mana yang murah, cepat, aman, pelayanan bagus, itu yang dipilih.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Perang Aplikasi vs Regulasi | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: