Ahok-Heru vs Yusril-Mr X

Thursday, March 10th, 2016 - Opini Publik, Rumor

Naluri dan kalkulasi saya bilang Pak Yusril Ihza Mahendra adalah lawan yang sepadan untuk Pak Ahok. Pertandingan akan berlangsung menarik jika terjadi duel (head to head). Keduanya punya karakter yang kuat dan hanya berbeda pada penampilan. Ahok adalah ombak, Yusril gunung berapi. Ahok bergulung-gulung melumat tanpa tedeng aling-aling, Yusril diam tapi menyimpan bara api. Keduanya mematikan. Keduanya siap perang otak. Keduanya seimbang dalam perang darat, laut, dan udara.

Perhitungan saya begini. Jika mengacu Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pilpres 2014 untuk DKI Jakarta sebanyak 7.070.475 pemilih dikurangi perkiraan pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya nanti pada Pilkada 2017 sebesar 30% maka total jumlah pemilih pada Pilkada 2017 sebanyak kira-kira 4,9 juta suara. Siapa mencapai > 2,5 juta suara adalah juara satu putaran (Aturan main Pilkada DKI Jakarta adalah calon yang meraih lebih dari 50% suara pada putaran pertama adalah juaranya. Jika tidak melebihi 50% dilakukan putaran kedua).

Menurut CSIS, elektabilitas Ahok 43%. Artinya masih ada 57% “pasar” suara yang belum menentukan pilihan. Di sinilah potensi yang bisa digarap oleh Yusril. Tentu secara gampang strateginya adalah menahan agar elektabilitas Ahok tidak beranjak naik dari 43% itu dengan asumsi 43% ini adalah orang yang sudah hidup-mati pilih Ahok dan akan datang ke TPS. Jaringan Teman Ahok dan (taruhlah) komunitas Tionghoa di Jakarta kemungkinan besar termasuk dalam 43% ini.

Pertarungan duel Ahok vs Yusril juga menarik sebab akan menyajikan bentuk pertarungan antara perseorangan vs parpol. Meskipun Nasdem bisa dikecualikan. Deparpolisasi atau parpolisasi yang menang, kita saksikan saja.

***
Saya cenderung mendorong supaya pasangan Ahok-Heru vs Yusril-Mr. X yang bertarung dalam Pilkada DKI 2017. Ini pertandingan yang akan semenarik Brazil vs Belanda di Piala Dunia 1994 atau Indonesia vs Bahrain di Piala Asia 2007. Semuanya berakhir menang tipis (3-2) dan (2-1). Tapi pertandingan berlangsung seru dan fair.

Saya juga yakin Yusril adalah seorang yang sangat cakap dan intelek untuk tidak memanfaatkan isu SARA untuk menyerang Ahok. Ada cerita yang pernah saya baca tentang Yusril yang dalam perjalanan hidupnya “berutang budi” pada orang non-Muslim. Salah satunya adalah kenyataan bahwa Prof. Charles Himawan (Guru Besar Fakultas Hukum UI), seorang Kristen-Tionghoa, adalah orang yang mengajukan Yusril untuk menjadi guru besar. Sementara Kamal Hasan, teman dekatnya Yusril, justru adalah orang yang menolak disertasi Yusril ketika proses meraih gelar doktor di Universitas Sains Malaysia untuk spesialisasi Perbandingan Politik Masyarakat Muslim.

Sebagai ahli hukum, saya prediksi Yusril akan menggunakan senjata hukum untuk bertarung. Dalam akun Twitter-nya Yusril menyindir dengan menyebut “kalau calon klien ada” ketika ada akun yang menyerang Yusril dengan menyebut Yusril pengacara para koruptor. Tentu secara singkat kita bisa merasakan bahwa sindiran Yusril itu mengarah ke Ahok dan merujuk pada kasus Sumber Waras (diselidiki KPK) dan kasus UPS (pemeriksaan di sidang Pengadilan Tipikor).

Yusril kelihatannya menyimpan senjata untuk mendorong kedua kasus itu menyerempet Ahok. Informasi yang menyebut bahwa kasus Sumber Waras dihentikan oleh KPK saya rasa tidak valid. Yang betul mungkin KPK lagi mencari peristiwa pidananya dulu dalam kasus pembelian Sumber Waras. Lagipula bagaimana caranya KPK menghentikan kasus, wong dia tidak boleh SP-3. Paling juga yang mungkin adalah kasus dilimpahkan ke Kejaksaan dan KPK melakukan supervisi.

Dalam kasus UPS ada kemungkinan Ahok juga bakal diserbu. Pasalnya, ada keterangan di pengadilan berkaitan dengan Perda Nomor 19 Tahun 2014 tentang APBD DKI Jakarta yang diakui Ahok ditandatanganinya. Dalam perda tersebut ada tercantum mengenai pengadaan UPS. Kita perlu tahu bahwa yang namanya korupsi tidak selalu berarti “perbuatan aktif” seperti menerima uang. Korupsi bisa juga melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya. Bukankah ini yang terjadi ketika Aulia Pohan dkk dikerangkeng dalam kasus Bank Indonesia?

Yusril juga saya rasa bakal melontarkan serangan terhadap perangkat aturan hukum Pilkada. Sama seperti yang dia lakukan terhadap UU Pilpres dahulu. Bakal ada celah hukum calon perseorangan dalam peraturan perundang-undangan yang dipermasalahkan oleh ahli hukum tata negara yang juga pengacara ini. Bisa mengajukan gugatan uji materiil ke MK (bila undang-undang) atau ke MA (bila di bawah undang-undang).

Serangan hukum semacam ini menurut saya wajar dalam politik. Yang tidak wajar dan keterlaluan adalah caci-maki SARA dan merusak. Merusak website misalnya, mengirimkan DDOS. Ini seharusnya dihindari supaya pertandingan berjalan menarik (saya lihat website temanahok.com sudah up lagi setelah DDOS kemarin. Ya, mustahillah kalau kru Teman Ahok tidak tahu cara menangkalnya, dengan Cloudflare paket Enterprise, misalnya). Website temanahok.com adalah salah satu lengan utama pengumpulan dukungan calon perseorangan karena dari sana bisa diunduh formulir dukungan berikut mekanisme pencatatannya.

Sementara Ahok saya lihat punya modal sosial yang bagus selama menjabat. Kata Kompas, gaya koboinya disukai anak-anak muda. Program-programnya pun mulai dirasakan warga Jakarta. Warga Jakarta banyak yang mengenal Ahok sebagai pemimpin tegas, jujur, antikorupsi, dan pendobrak mafia di segala lini. Ahok telah “berkampanye” melalui gebrakan-gebrakan kerja nyatanya meskipun masih ada juga kalangan yang melontarkan kritik keras.

Terlebih dari itu semua, kita juga perlu menyadari bahwa Pilkada DKI Jakarta adalah miniatur Pilpres 2019. Yusril sudah dari beberapa tahun lalu berhasrat maju menjadi Capres 2019. Makanya dia menjadi ketua umum Partai Bulan Bintang (PBB), menguji UU Pilpres agar membuka peluang PBB bisa mengajukan capres sendiri, dsb. Yusril bukan takut kalah dalam pilpres nanti, dia cuma takut kalau dia menang dan jadi presiden akan dipersoalkan konstitusionalitasnya, makanya ia menguji ke MK aturan UU Pilpres itu. Sementara Ahok berpeluang mencalonkan diri/dicalonkan menjadi calon wakil presiden dalam Pilpres 2019. Atau mungkin presiden? Siapa tahu.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Ahok-Heru vs Yusril-Mr X | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: