Menpora Bersabda Jadilah Juara

Thursday, March 3rd, 2016 - Opini Publik, Rumor

Pada mulanya adalah pidato Pak Jokowi pada peringatan Hari Pers lalu. Beliau meminta bangsa ini menjadi optimis. Itu anjuran yang sangat mulia dari seorang pemimpin. Bangsa ini tak boleh loyo. Musti semangat.

Masalahnya, alih-alih jadi optimis, rakyat banyak yang bingung. Media massa juga begitu. Tak banyak lho yang bisa membedakan antara optimis, optimistis, dan optimisme. Optimis yang mengacu pada kata benda sering tertukar dengan optimistis yang sifatnya adjektif. Optimisme yang kata benda (paham, keyakinan) tertukar dengan optimistis. Bingung kan?

Tapi okelah, ini bukan salah Pak Jokowi. Juga bukan salah Ahok dan kabel-kabelnya. Mungkin, ini salah Menpora.

Tadi malam saya dapat pesan berantai. Isinya copas berita tentang sembilan syarat dari Menpora agar pembekuan PSSI bisa dicabut. Yang mengirim pesan berantai minta saya langsung lihat butir 8 yang bunyinya: “Menjamin bagi tercapainya prestasi tim nasional sebagai juara satu dalam event : 1) Piala AFF tahun 2016; 2) SEA Games tahun 2017 ; 3) Lolos Kualifikasi Piala Dunia tahun 2018; dan 4) Asian Games XVIII tahun 2018.”

Saya jawab: OK!

Dalam perseteruan PSSI vs Menpora, saya tidak fanatik kepada salah satu pihak. Makanya saya tidak baper. Saya coba dingin membaca berita itu. Setelah kelar membaca, saya langsung lihat situs Mahkamah Agung (MA). Oh, ternyata perkara SK Pembekuan PSSI baru masuk kasasinya pada 2 Februari 2016. Nomornya 36 K/TUN/2016. Majelis hakimnya terdiri dari: Hary Djatmiko, Irfan Fachruddin, dan H. Yulius. Perkaranya masih diperiksa oleh tim C, belum putus.

Okelah. Posisi terakhir berarti masih putusan banding PT TUN Jakarta yang menolak bandingnya Kemenpora. PSSI masih di atas angin. Dari sisi hukum, perkara belum berkekuatan hukum tetap (inkracht).

Berarti sembilan syarat itu merupakan “manuver” Menpora. Suatu langkah yang diambil untuk menindaklanjuti perintah Jokowi agar pembekuan PSSI dikaji kembali. Dikaji lebih jauh seperti kata Ebiet G. Ade. Lebih dulu mana hasilnya antara hasil kajian itu dengan putusan MA, cuma Tuhan dan Medan Merdeka Utara yang tahu. Kita lihat saja.

Tapi benar juga bahwa sembilan syarat itu perlu juga kita kaji. Saya skip dulu syarat lain kecuali butir 8 ini. Ketujuh syarat yang lainnya itu kurang lucu untuk dikaji. Butir 8 lucu, karena merupakan perpaduan antara halusinasi, birokratisasi, dan pemaksaan kehendak. Ketiga hal ini sudah usang dan bahkan sudah ditinggalkan oleh keturunan biologis dan ideologis Hitler dan Himmler Heinrich sekalipun.

Saya lihat ada dua kekeliruan mendasar dari syarat kedelapan itu. Kekeliruan pertama adalah kekeliruan semantik. Istilah “juara satu” keliru. Juara pasti satu. Yang betul pemenang pertama. Kalau juara artinya orang (regu) yang mendapatkan kemenangan dalam pertandingan terakhir. Makanya betul itu Dewi Lestari bernyanyi, “Malaikat juga tahu aku yang jadi juaranya.”

Kekeliruan kedua adalah kekeliruan faktual. Indonesia tak mungkin lagi lolos kualifikasi Piala Dunia 2018 karena sudah dicoret sejak tahun lalu gara-gara sanksi FIFA. Kalau sudah dicoret bagaimana mau lolos. Ini soal logika juga.

Hal yang ketiga bukan kekeliruan, tetapi pemaksaan. Terutama disuruh juara satu eh pemenang pertama sepakbola Asian Games 2018. Perhelatan yang tinggal dua tahun lagi itu. Ini sama saja dengan meminta saya jago-jagoan melodi dengan John Paul Ivan. Bukannya saya tidak optimistis terhadap prestasi timnas, tapi itu syarat yang keterlaluan. Bisa dicapai tapi harus ada prakondisi.

Setahu saya, “pemaksaan terakhir” dalam sepakbola yang relatif sukses terjadi pada 1934, ketika pemimpin fasis Benito Mussolini masuk ke kamar ganti pemain dan mengancam jika Italia tidak juara Piala Dunia, semua akan mati. Terima kasih untuk Schiavio.

Kita bukan seperti Jepang yang ketika Restorasi Meiji (menutup diri) benar-benar tekun, kerja keras, dan belajar. Ketika sepakbola dibekukan, kita berkelahi, tidak belajar. Ketika ingin menutup diri, kita tidak membangun, tapi memukul orang. Ketika kita dikucilkan oleh komunitas sepakbola global, kita tidak bangkit segera tetapi saling menyalahkan. Alhasil, ketika masa menutup diri sudah berakhir dan kita keluar dari gua, kita bingung kenapa sekarang sudah tidak ada lagi yang pakai Nokia pisang. Kita ketinggalan zaman dalam pikiran, perbuatan, dan perkataan. Bahkan untuk sekadar berdiskusi di televisi pun, kita masih harus menenteng massa dan bikin rusuh di hotelnya Tomy Winata.

Percayalah, yang namanya prestasi olahraga tidak akan betah tinggal di tengah-tengah bangsa yang berkepribadian kekanak-kanakan. Juara hanya lahir di tengah bangsa yang kuat dan berkarakter. Sulitnya adalah, di sini, karakter diterjemahkan sebagai banyak-banyakan kultwit.

Ya, sudahlah saudara-saudara. Hari sudah pagi. Jika timnas kita masih jauh menjadi juara di segala ajang, minimal kita berusaha saja untuk menjadi juara di hati orang yang kita sayangi. Jangan sampai di persoalan hati itu pun kita menjadi pesimistis. Parah sekali kalau begitu.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Menpora Bersabda Jadilah Juara | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: