Perkara JIS yang Perlu Diperhatikan

Thursday, February 25th, 2016 - Opini Publik, Rumor

Di tengah semaraknya berita-berita tentang LGBT dan Saipul Jamil, saya angkat perkembangan terbaru dari perkara kekerasan seksual anak di Jakarta Intercultural School (JIS), yang per artikel ini dibuat, belum banyak dimuat oleh media massa. Ternyata, kemarin (Rabu, 24 Februari 2016), Mahkamah Agung (MA) mengabulkan kasasi jaksa dalam perkara dengan terdakwa dua guru JIS yakni Ferdinant Tjiong (warga negara Indonesia) dan Neil Bantleman (warga negara Kanada). Informasi itu bisa dilihat di laman Putusan MA. Belum diunggah salinan putusannya di laman itu sehingga saat ini belum bisa dipastikan apakah putusan kabul itu berarti kembali ke putusan PN Jakarta Selatan atau mengadili sendiri, dll. Belum diketahui juga bagaimana pertimbangan majelis hakim.

Ini putusan penting dalam perkara kekerasan seksual terhadap anak (Pasal yang dijeratkan kepada terdakwa kasus JIS ini sama dengan yang disangkakan kepada Saipul Jamil saat ini yakni Pasal 82 UU Perlindungan Anak dengan ancaman penjara 15 tahun). Putusan kasasi berarti berkekuatan hukum tetap (inkracht). Di tingkat pertama, Neil dan Ferdinant divonis 10 tahun penjara, lalu di tingkat banding keduanya divonis bebas oleh Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Nah, sekarang di tingkat kasasi, jaksa “menang”.

Menariknya, putusan terhadap Neil dan Ferdinant itu diketok tepat sehari sebelum masa pencegahan ke luar negeri yang disematkan kepada Neil dan Ferdinant berakhir (Kamis, 25 Februari 2016) — meskipun ada informasi juga bahwa masa cegah keduanya sudah berakhir sejak 21 Februari 2016. Tapi, kemungkinan besar, saat ini Neil dan Ferdinant tidak kabur ke luar negeri.

Artinya apa? Kemungkinan besar sepanjang hari nanti pihak Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta akan “sibuk” melakukan eksekusi terhadap dua terpidana itu, berbekal petikan putusan. Semua ini seolah menjawab “kekhawatiran” Kejati DKI Jakarta yang disampaikan pada Senin, 22 Februari 2016, bahwa ada kemungkinan besar Neil dan Ferdinant akan kabur ke luar negeri jika putusan kasasi belum keluar hingga masa cegah keduanya berakhir hari ini. Namun, jaksa kini bisa bernafas agak lega dengan sudah keluarnya putusan kasasi itu.

Satu lagi yang menarik adalah komposisi majelis hakim yang memutus perkara kasasi Neil dan Ferdinant itu yakni Artidjo Alkostar, Suhadi, dan Salman Luthan. Dua hakim nonkarier jebolan UII Yogyakarta yakni Artidjo dan Salman, serta satu hakim karier mantan panitera MA yang kini juga menjabat juru bicara MA Suhadi. Artidjo terkenal karena reputasinya yang “kejam” terhadap koruptor, Salman terkenal karena keputusannya untuk mundur sewaktu menjadi hakim PK untuk perkara dr. Ayu (karena anak Salman juga dokter), sedangkan Suhadi terkenal salah satunya karena pengakuannya ketika pernah hendak disuap oleh pengacara ternama dalam satu kasus narkoba. Meragukan putusan kasasi ini berarti siap berhadapan dengan reputasi Artidjo dkk itu.

Sementara komposisi agak berbeda terjadi pada majelis hakim yang memutus perkara kekerasan seksual terhadap murid JIS dengan terdakwa lima pekerja kebersihan JIS (salah satunya wanita), yakni komposisi dua hakim karier (Sumardijatmo dan Margono) dan satu hakim nonkarier (Salman Luthan). Sumardijatmo sebelumnya adalah hakim tinggi di Pengadilan Tinggi Bandung, sementara Margono hakim tinggi di Pengadilan Tinggi Makassar.

Jadi nun di penjara sana, ada lima mantan pekerja kebersihan JIS (semuanya WNI) yang mendekam untuk jalani hukuman 7-8 tahun penjara: Syahrial, Virgiawan Amin, Agun Iskandar, Zainal Abidin, dan Afrischa Setyani. Satu orang lagi, Azwar, tewas di toilet Polda Metro Jaya waktu statusnya masih tersangka, yang kata polisi adalah karena menenggak Porstex (Benar-tidaknya, belum pernah ada tim pencari fakta untuk mengungkap ini).

Pelapor kasus ini, seorang ibu berinisial Th, sudah berdiam tinggal di Belgia. Sedangkan pengacara OC Kaligis, yang dulu menggugat JIS Rp1,6 triliun — mewakili ibu Th tadi — di PN Jaksel atas kasus ini juga, kini sudah jadi terpidana korupsi suap bansos Medan. Sementara gugatan perdata Rp1,6 triliun diputus tidak diterima (NO) pertengahan tahun lalu oleh PN Jaksel.

Dramatis sekali perjalanan kasus ini. Mengharu-biru. Mungkin juga intrik-intrik.

Ujungnya kasus ini macam apa, kita lihat saja. Masih ada upaya PK meskipun tak menunda eksekusi.

+++

Kisah kasus JIS banyak pelajarannya. Pelajaran penting bahwa keadilan dan kebenaran adalah kesimpulan yang tak pernah selesai dari sebuah proses panjang dan melelahkan. Pelajaran juga bahwa kebenaran dan keadilan tak sesederhana asumsi dan teori-teori yang kita yakini secara pribadi. Ini ujian juga bagi sistem dan penegakan hukum di Indonesia untuk menunjukkan apa itu keadilan dan kebenaran dan menghukum pelaku yang sesungguhnya.

Dalam kasus Saipul Jamil, misalnya, banyak orang yang mempunyai kesan bahwa tidak heran jika pada akhirnya dia terjerat pencabulan sesama jenis. Padahal pengadilan belum memutuskan dia bersalah, baru tersangka. Lantas bagaimana dengan lima petugas kebersihan JIS itu yang oleh pengadilan sudah dihukum bersalah melakukan pencabulan (sodomi) terhadap anak? Banyak juga orang yang tidak yakin bahwa kelimanya bersalah. Padahal sudah ada putusan pengadilannya. Bagaimana pula dengan Neil dan Ferdinant yang sudah diputus bersalah oleh pengadilan?

Pencabulan terhadap anak memang perilaku biadab. Tapi betulkah pengadilan di negara ini sudah memutus dengan sebenar-benarnya dan seadil-adilnya terhadap pelaku yang sesungguhnya? Apakah anak-anak yang menjadi korban terpulihkan juga segala sesuatu (raga maupun jiwa) karena putusan itu? Semoga hakim-hakim dalam perkara ini adil dan jernih dalam memutus.

Mungkin, sekaranglah saatnya bangsa ini beranjak betul-betul menjadi dewasa dan objektif. Ciri-cirinya adalah dengan tidak mudah mencap seseorang/kalangan sebelum buktinya jelas; tak mudah menghakimi; selalu kritis terhadap situasi dan kondisi yang konkrit; menggali dan terus menggali fakta; tidak menilai hanya berdasarkan perasaan, kesan, dan sejenisnya.

Namun tetap saja. Untuk semua penegak hukum (hakim, jaksa, pengacara, polisi) yang tengah terlibat dalam tugas peradilan kasus-kasus kekerasan seksual anak di seluruh Indonesia, tetap harus dihormati. Jika ada bukti penyimpangan — termasuk coba-coba memanfaatkan penanganan kasus untuk aksi unjuk gigi — dalam seluruh proses dan putusan, publik akan berteriak untuk mengoreksi dan penegak hukum pun bisa dijatuhi sanksi.

Allah Maha Tahu.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Perkara JIS yang Perlu Diperhatikan | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: