Poin-Poin di Acara ILC TV One

Wednesday, February 24th, 2016 - Dapur Berita, Opini Publik

Ini adalah catatan yang saya persiapkan sebagai narasumber di acara Indonesia Lawyers Club (ILC) TV One. Semoga bermanfaat.

CATATAN UNTUK ILC TV ONE, SELASA 23 FEBRUARI 2016
Topik: “Aduh, Saipul Jamil”

1. KEKERASAN ANAK. Di tengah heboh perkara Ipul, kita semua patut juga untuk bersimpati dan menaruh perhatian kepada ribuan bahkan jutaan anak Indonesia yang diduga mengalami apa yang secara umum kita sebut sebagai kekerasan terhadap anak. DS mewakil kasus-kasus itu.

Saya ringkas: Data Komnas PA selama 2010-2014 terdapat 21 juta kasus pelanggaran hak anak; Data LPSK selama Januari-Juni 2015 terdapat 37 laporan kekerasan seksual atas anak; Data KPAI, selama 2010-2014 terdapat total 15 ribuan kasus kekerasan terhadap anak. Dari semua data itu, kekerasan seksual, pelecehan terhadap anak adalah kasus yang eskalasinya meningkat. Ini bom waktu buat bangsa Indonesia yang patut mendapatkan atensi semua pihak, termasuk media massa.

2. POKOK PERKARA IPUL. Perkara yang tengah menimpa Ipul ini adalah perkara pidana. Ipul menghadapi sangkaan Pasal 82 UU Perlindungan Anak yang ancaman penjaranya maksimal 15 tahun. Jika dilihat rumusan pasalnya, ini bukan persoalan sepele yang bisa dianggap main-main. “Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukannya perbuatan cabul.”

Sebagai sebuah peristiwa/fakta yang memiliki nilai berita, dalam isu ini, media massa telah memberikan porsi yang cukup untuk berita tentang proses hukum: laporan korban, penangkapan, rekonstruksi, hingga penetapan tersangka, dan serangkaian proses penyidikan lainnya.

Masalahnya, seperti yang biasa terjadi di Indonesia, topik-topik pemberitaan dalam kasus yang serius seperti ini, potensial diputarbalikkan menjadi berita “sensasional” yang melebar dari topik perkara. Padahal, topik semacam ini, bagi media massa, merupakan momentum yang sangat tepat untuk melakukan edukasi terhadap publik terkait kasus-kasus seksual anak. Sekaligus memberikan pendidikan hukum. Porsi yang besar terhadap berita-berita yang sifatnya gosip, heboh-hebohan, eksploitasi terhadap rasa kasihan, dan sejenisnya adalah hal-hal yang kontraproduktif dalam kaitannya dengan tujuan media massa untuk membuka diskursus publik yang mendidik.

Semoga media massa di Indonesia semakin bergerak naik kelas untuk menuju tujuan tersebut. Dalam kasus Ipul, tujuan utamanya adalah mengawasi, mengawal, supaya proses hukum berjalan transparan dan adil. Baik bagi tersangka maupun korban.

3. INDUSTRI PENYIARAN. Faktanya, suka atau tidak suka, Ipul telah menjadi orang yang populer di masyarakat, bahkan konon memiliki fans juga. Mengapa dia populer? Ada kontribusi yang sangat besar dari media massa, terutama televisi. Televisi telah “membaptis” dia menjadi “artis”. Ini yang membuat berita kasus kekerasan anak yang bisa terjadi dimana saja oleh siapa saja menjadi headline media massa. Karena faktor “artis” tadi.

Hal yang amat disayangkan adalah televisi free to air yang menggunakan frekuensi publik (yang menurut UU Penyiaran disebut sebagai sumber daya alam terbatas dan merupakan kekayaan nasional yang harus dijaga dan dilindungi oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sesuai dengan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945) menghasilkan topik berita tentang sosok dalam perkara kejahatan semacam ini. Bukankah ini melenceng dari tujuan penyiaran itu sendiri yang antara lain, “Terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum.”

Kita patut miris dan introspeksi. Saat ini, di televisi, yang kita bicarakan bukan soal karya intelektual dan seni seseorang. Bukan sedang membahas masalah untuk mencari solusi bagaimana industri penyiaran bisa mendorong tumbuhnya kesenian nasional. Misalnya masalah pembajakan, yang menurut data ASIRI, menguasai 95,7% pasar musik Indonesia sejak 2007.

Ipul bukan Joey Alexander yang masuk 2 nominasi Grammy, bukan Sari Simorangkir dan Sydney Mohede yang karyanya masuk album yang menyabet Grammy, bukan Irwansyah Harahap yang karya musik tradisionalnya mendunia. Sebagai orang yang katanya seniman dangdut, kita juga sedang tidak bicara tentang sosok musisi dangdut serius dan bermutu macam Mansyur S, A. Rafiq, Muchsin Alatas, bahkan Rhoma Irama. Kita sedang tidak bicara karya seperti “Kereta Malam” dan “Begadang” yang masuk album kompilasi World Music Network.

Intinya, bangsa ini rugi. Ingat, frekuensi publik bukan ditujukan untuk “seru-seruan”. Frekuensi publik yang terbatas itu menipis slotnya karena dihabiskan untuk menayangkan hal-hal yang tak sesuai tujuan penyiaran itu sendiri. Karena itu, kasus ini merupakan tamparan keras untuk pelaku media massa, terutama televisi, untuk lebih berpikir dan terus berpikir ulang jika ingin menampilkan sosok dalam layar kaca. Kita menginginkan mereka yang menyandang predikat sebagai artis itu adalah mereka yang telah membuktikan mutu, integritas, karakter, dan kerja keras sebagai yang terbaik di bidangnya masing-masing, sehingga layak dijadikan sebagai teladan dan inspirasi bagi anak-anak kita.

Terima kasih.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Poin-Poin di Acara ILC TV One | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: