Apa Salah Ipul?

Saturday, February 20th, 2016 - Opini Publik, Rumor

Sebenarnya memuakkan berbicara tentang Saipul Jamil (Ipul), lelaki yang saat ini menjadi tersangka tindak pidana pencabulan terhadap anak di bawah umur yang ancaman hukumannya 15 tahun penjara itu. Beritanya sudah terlalu banyak di media massa. Tapi mau bagaimana lagi. Orang ini sudah terlanjur dipopulerkan oleh media massa, terutama televisi. Terlanjur mendapat cap sebagai “artis” dan punya fans. Terlanjur menikmati keuntungan material akibat popularitasnya itu. Jika saja waktu itu dia berhasil menjadi Wakil Walikota, bukan tidak mungkin hari ini dia bisa seenaknya bilang ke wartawan, “Saya kan pejabat, anda cuma kontributor berita.”

Di sisi lain, mungkin banyak orang tua yang mengalami seperti saya. Perlu mengeluarkan dana lebih untuk berlangganan TV berbayar demi menghindari anak-anak kami melihat, menyaksikan, meniru perilaku-perilaku orang macam dia di televisi. Saya tidak bermasalah dengan pribadi (termasuk orientasi seksual) dia. Masalah saya adalah dia muncul terus di televisi free-to-air yang menggunakan frekuensi publik dan menerpa masyarakat Indonesia termasuk anak-anak. Di Indonesia, solusi masalah ini tak sesederhana ungkapan, “Jika tidak suka, kekuasaan remote TV ada di tangan anda. Silakan pindah channel.” Persoalannya, channel lain juga belum tentu lebih bermutu. Ya, ini soal debat panjanglah tentang kualitas media massa kita. Skip dulu.

Saya juga tidak persoalkan musik dangdutnya. Itu genre musik yang sejarahnya panjang dalam membentuk karakter masyarakat Indonesia. Masalahnya adalah Ipul ini belum membuktikan diri juga sebagai praktisi dangdut yang serius. Rhoma Irama (terlepas dari segala kontroversinya) masih mending banget. “Kereta Malam” dan “Begadang” yang ditulisnya masuk kompilasi World Music Network, bersama dengan “Bengawan Solo” versi Waljinah dan favorit saya “Los Quin Tallu-Tallu” (Grup Bamba Puang). “Begadang” bahkan masuk 150 lagu Indonesia terbaik sepanjang masa versi Rolling Stones.

Rhoma masih bisa ditelusuri karyanya dari zaman dia bikin Gayhand, Orkes Chandra Leka sampai Soneta yang pernah duel dengan God Bless. Cabikan gitarnya dulu masih bau-bau Ritchie Blackmore-nya Deep Purple. Dulu, musisi macam Said Effendi (“Seroja“), P. Ramlee karya-karyanya masih keren. “Seroja” misalnya adalah satu dari sedikit lagu dangdut yang biramanya 3/4. Musisi lain seperti Mansyur S, A. Rafiq, Muchsin Alatas, oke sekali. Bahkan tahun 2000-an, grup seperti Pemuda Harapan Bangsa (PHB) masih bisa diapresiasi sekali karyanya dari sudut musikalitas.

Tapi, lebih dari itu semua, mereka yang namanya saya sebut di atas masih bisa kita bicarakan dari sudut karyanya an sich. Bukan soal perceraiannya, video ciuman di Youtube-nya, narkobanya, apalagi pencabulan anaknya. Mereka dibicarakan karena karakter dan karyanya. Bukan cuma sensasi rumah tangga.

Benar juga kata Sudjiwo Tedjo dalam acara ILC, TvOne, Selasa lalu. Kritik dari dia, ada yang bermasalah dalam desain besar industri hiburan saat ini. Dia membandingkan zaman dulu ketika media massa menampilkan sosok artis yang “lelaki sekali” seperti Frank Sinatra, Acil Bimbo, Broery Marantika. Beda dengan sekarang yang menye-menye. Ada apa?

Saya masih yakin banyak pengelola media (terutama televisi) yang cerdas. Banyak juga kawan saya yang tergolong kategori cerdas itu. Tentu, ketika mendaulat seseorang untuk tampil di televisi, apalagi sebagai juri, kualitas intelektual dan seninya yang ditonjolkan dong.

Contoh dalam kasus tersangka pencabulan ini. Perlu diakui dulu reputasinya dalam hal kepakaran dangdut. Apakah dia mengkaji betul sejarah dangdut dari zaman Gujarat dulu? Dari zaman tabla, gambus, gendang? Apakah dia mengetahui juga bagaimana dangdut mempengaruhi perubahan sosial-politik Indonesia? Atau, mungkin kita pernah melihat orang itu meneliti, menciptakan karya yang kualitasnya mendekati Sabah Habas Mustapha yang bule itu? Bisakah secara teknis dia menjelaskan komposisi musik yang namanya dangdut itu? Bagaimana membedakan struktur A-A-B-A dan sejenisnya? Mana kiprah dia dalam hal penulisan lagu, tarik-suara, produser, kurator, dsb?

Kayaknya nol ya. Saya ragu juga dia bisa menjelaskan “Kopi Dangdut” dan kaitannya dengan lagu Venezuela, “Moliendo Cafe”.

Sekarang kita semua terima akibatnya. Akibat dari mengotori layar kaca dengan penampilan orang-orang yang sebetulnya tak layak “dibesar-besarkan”.

Dengan semangat memperingati Hari Anti Sampah, selain sampah-sampah rumah tangga, pabrik, dan sebagainya, patut juga kita menyuarakan anti terhadap “sampah-sampah” yang ada dalam acara televisi kita.

Sesekali Ipul perlu dengar “Puber Kedua” dari band AKA.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Apa Salah Ipul? | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: