Jenis-Jenis Pers Menyambut Hari Pers

Tuesday, February 9th, 2016 - Bisnis Media, Dapur Berita, Hukum Pers

Momen Hari Pers 2016 terasa istimewa. Katanya, pers nasional tengah mengarungi ombak perubahan masyarakat yang mengalami tsunami informasi. Namun, sependek pengamatan saya, berikut ini adalah beberapa jenis kecenderungan pers yang terjadi saat ini:

1. Pers Tak Berbadan Hukum
Untuk kali pertama, istilah pers tak berbadan hukum “diakui”. Lihat Tajuk Rencana Kompas edisi hari ini. Pers berbadan hukum dan pers tak berbadan hukum benar adanya. Benar-benar ada. Pertanyaannya, mau apa?

2. Pers Paketan
Ini terkait dengan model bisnis perusahaan pers. Mirip dengan jika Anda membuka room karaoke maka anda akan ditawari paket-paket. Misal, paket 2 botol dan 4 free LC. Bisnis media juga begitu sekarang. Bayar 1 paket iklan, bisa tayang di versi cetak, TV, online, bahkan menyelip di berita dan di-share oleh akun medsos media tersebut maupun akun pimpinan medianya. Paket hemat namun lengkap. Belum termasuk paket konsultasi jika ada “serangan” terhadap institusi pemasang iklan.

3. Pers Unus Testis Nullus Testis
Mungkin ini ada kaitan dengan pers tak berbadan hukum. Karena tak perlu mengurus administrasi legal perseroan, asal punya domain dan utak-atik template wordpress/joomla, langsung bisa jadi pers. Pers jenis ini kelihatannya percaya bahwa satu pers bukanlah pers (mirip dengan satu saksi bukan saksi). Makanya dia bikin domain yang banyak sekali dengan isi yang sama untuk meyakinkan bahwa informasi ini bukan “satu saksi” saja.

4. Pers Undangan
Ini tipikal beberapa pelaku media. Mereka menganggap medianya baru diakui sebagai betul-betul media, jika sudah mendapat undangan dari pejabat negara dan instansi pemerintah. Kalau belum dapat kesempatan diundang, bersedihlah mereka. Lalu “memukul” terus pemerintah biar mendapat atensi. Pers jenis ini semakin mendapat pembenaran ketika pemerintah semakin senang mengundang pimpinan media. Semakin membuat pembeda yang jelas mana pers mana bukan.

Jika ukurannya adalah diundang oleh pemerintah baru diakui sebagai pers, sebaiknya cabut saja UU Pers. Biar pers negara ini diatur oleh presiden saja. Tuannya bukan publik melainkan penguasa.

5. Pers Semi Humas
Ini jenis yang ada tapi hanya sedikit yang tahu. Sekarang, proses editing dan penayangan konten mulai bergeser dari yang awalnya di bawah redaktur menjadi di bawah orang agensi Humas (PR). Sering kali keputusan naik atau tidaknya harus konsultasi dulu dengan orang agensi. Begitu pun penentuan angle dan konten badan berita.

Dominasi lembaga PR terhadap newsroom ini harus diakhiri. Jika tidak, pers kita akan menjadi bagian dari divisi usaha perseroan humas dimaksud.

6. Pers “Ada Bayangmu”
Ini jenis pers yang berpikir bahwa untuk sukses dalam bisnis media tirulah yang sudah sukses. Jadi, jika ingin moncer di media online, bikinlah yang seperti Detikcom (suatu hal yang oleh pendiri Detikcom sendiri dilarang). Makanya banyak media online yang mirip desain maupun isinya dengan Detikcom kan.

7. Pers yang Menghantui
Ini tipikal pers yang ngotot, ada di mana saja sasaran membuka mata. Tak cukup hanya straight news di website, dibuat pula kultwitnya, tayangkan pula di Facebook Fans Page (diiklankan pula oleh Google), bahkan ada juga link-nya di kolom komentar media lain. Ada pula petugas khusus untuk me-mention naskah/link ke sasaran.

Jika sudah menghantui sedemikian rupa, tinggal tunggu panggilan “bisnis”

8. Pers Komentator
Pers ini unik. Paragraf 1-5 adalah berita, paragraf 6 dan seterusnya komentar atas berita itu tanpa kita tahu ini siapa yang komentar. Pokoknya judul dan isi berita disesuaikan dengan arahan opini yang mau dibentuk. Lalu dimainkan SEO-nya biar nangkring di halaman 1 Google.

9. Pers dalam Pantauan BIN dan BAIS
Untuk bagian ini, silakan tanya resmi ke BIN dan BAIS saja.

10. Pers Teknologi Informasi
Ini pers yang lebih menonjolkan aspek IT daripada berita. Kesibukan utamanya adalah membuat konten dengan kata yang mengandung istilah ramah SEO, sharing konten melalui medsos, menyesuaikan dengan Google Trends, mendongkrak pencapaian di Alexa, sebanyak-banyaknya follower di medsos, hingga memodifikasi robot yang bisa menentukan topik yang lagi trend dan keyword-nya. Wartawan bisa pakai sistem tuyul atau outsourcing.

11. Pers “Franchise”
Sekarang banyak kantor berita asing yang ada “franchise” Indonesianya. Sampai kita bingung, mana yang beneran mana yang palsu. Silakan cari sendiri di Google Search.

12. Pers Bocoran
Pers yang kerap diidentikkan dengan institusi negara tertentu. Kalau berita teroris, lihatnya TV itu. Kalau berita kriminal, lihatnya di situs itu. Kalau isu itu bacanya di media itu. Karena apa? Karena banyak bocorannya. Eksklusif katanya. Sekarang istilah eksklusif membingungkan. Eksklusif karena benar-benar melakukan praktik investigasi atau hanya karena di-feeding bocoran oleh oknum tertentu.

13. Pers 2019
Pers yang bau-baunya sudah tercium untuk mendukung capres tertentu pada 2019 dan menjadikan Pilkada DKI 2017 sebagai ajang pemanasan.

14. Pers Gambar Tempel
Medianya tidak ada tapi gambar tempelnya ada. Di kaca mobil, berdampingan dengan stiker Taman Safari dan Jungleland.

15. Pers Stress
Jenis terakhir ini adalah pers yang stress, tertekan, bingung melihat semua praktik pers saat ini. Pers yang menjelang disorientasi dan menghadapi senjakala. Pers yang kehilangan posisi. Bingung mau ngapain. Dibuang sayang. Terancam degradasi menjadi blog semata, layaknya Aston Villa dan Sunderland di Liga Inggris.

Selamat Hari Pers

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Jenis-Jenis Pers Menyambut Hari Pers | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: