Sianida Paini dan Jessica

Monday, February 1st, 2016 - Opini Publik, Rumor

Sejauh ini, dalam kasus kopi sianida yang menewaskan Mirna Salihin, keterangan polisi menjadi referensi yang dominan dalam pemberitaan. Ada juga sedikit-sedikit bantahan dan penjelasan dari pihak tersangka Jessica Wongso. Pengamat di media sosial, jangan didengarkan, kata polisi. Orang medsos mana lihat CCTV dan tahu kronologi sih.

Ya, sudah. Karena kita “dimarahi” polisi, kita bahas kasus ini dari sudut lain saja, yang tidak menyinggung-nyinggung penyidikan polisi. Biarkan Pak Ganteng dkk bekerja saja. Sekarang, ada baiknya, kita melihat lebih jauh, kira-kira apa yang hakim pikirkan dan pertimbangkan dalam kasus dugaan pembunuhan berencana melalui medium racun sianida ini.

Kebetulan saya baca salinan putusan perkara Nomor 261/Pid.B/2013/PN.Kdi (Pengadilan Negeri Kediri). Saya tidak mengatakan putusan ini sebagai yurisprudensi, tetapi hanya sebagai referensi kita saja untuk melihat penerapan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana yang ancaman pidana maksimalnya adalah hukuman mati. Pasal yang sama dengan yang disangkakan kepada Jessica. Saya juga tak bermaksud membela Jessica, biarkan saja penyidik bekerja dulu sampai nanti hakim memutus. Ini cuma pandangan pribadi bukan sebagai pelaku hukum melainkan pelaku media massa.

Peristiwa dalam kasus ini terjadi pada 2013. Terdakwanya bernama Paini Binti Pardi, seorang ibu berusia 50 tahun, yang diputus bersalah melakukan pembunuhan berencana. Dia dijatuhi hukuman penjara selama 4 tahun dan 6 bulan. Majelis hakim: Basuki Wiyono (ketua), Bambang Trenggono, dan Yunizar Kilat Daya. Korban yang dibunuh adalah anaknya sendiri, Surani.

Surani tewas karena minum kopi yang disajikan sang ibu. Kopi itu dicampur putas. Hasil pemeriksaan toksikologi menunjukkan ada racun sianida dalam kopi itu yang menyebabkan Surani mati lemas. Putas itu dibeli di sebuah toko bangunan seharga Rp3.500. Dalam persidangan, Paini mengakui semua perbuatannya. Motifnya jengkel, karena sang anak kerap memukuli dan mengusir dirinya dari rumah. Juga karena Surani membawa perempuan “tidak jelas” ke dalam rumah.

Saksi dalam perkara ini antara lain pemilik toko penjual putas, adik korban, Pak RT, petugas Polsek, perangkat desa, dsb. Barang bukti adalah gelas kaca warna bening, 1(satu) buah sisa sabun colek (bu krim), 1 (satu) buah panci (ompreng), 1 (satu) buah putas, 1(satu) potong baju lengan panjang warna merah maroon motif bunga kombinasi putih, 1(satu) potong kain bekas lap, 1(satu) potong kaos warna hitam, 1(satu) potong celana jeans warna hitam dirampas untuk dimusnahkan ; • Uang sejumlah Rp.10.000,– dikembalikan kepada saksi Sidik Bin Abdul Baser ; • 1(satu) unit sepeda pancal.

+++

Penting bagi kita untuk mengetahui pertimbangan hakim terhadap unsur-unsur Pasal 340 KUHP: “Barang siapa”, “Dengan Sengaja”, “Dan Direncanakan Terlebih Dahulu”, “Menghilangkan Nyawa Orang Lain”.

“Barang siapa” adalah subjek hukum manusia sebagai pendukung hak dan kewajiban yang secara hukum kepadanya dapat dimintai pertanggungjawaban pidana. Kemudian selama pemeriksaan di persidangan terdakwa menunjukkan sikap dan ucapan selayaknya sebagaimana orang yang sehat akal dan pikirannya sehingga terdakwa termasuk sebagai orang yang mampu bertanggung jawab secara hukum atas perbuatannya.

“Dengan Sengaja” pada umumnya mempunyai hubungan kejiwaan yang lebih erat terhadap suatu tindakan. Menurut Memorie Van Toelichting, yang dimaksud dengan sengaja adalah menghendaki dan menginsyafi terjadinya suatu tindakan beserta akibatnya. Namun dalam perkembangannya, dalam hal seseorang melakukan suatu tindak pidana cukuplah jika hanya menghendaki tindakannya itu, artinya ada suatu hubungan yang erat antara kejiwaannya (batinnya) dengan tindakannya sehingga tidak disyaratkan apakah ia menginsyafi bahwa tindakannya itu dilarang atau diancam pidana oleh undang-undang.

“Dengan direncanakan terlebih dahulu” mensyaratkan adanya tenggang waktu yang bisa dipergunakan untuk berpikir secara tenang tentang perencanaan perbuatan sampai adanya pelaksanaan perbuatan.

“Menghilangkan nyawa orang lain”. Pasal 340 KUHP adalah termasuk delik materiil yaitu selain dari perbuatan yang dilarang menurut undang-undang maka harus timbul akibat perbuatan tersebut sehingga baru bisa dikatakan tindak pidana telah terjadi sepenuhnya (voltooid). Dalam pengertian yang terkandung dalam unsur ini, matinya korban atau hilangnya jiwa korban adalah dikehendaki dan menjadi tujuan sebagai akibat dari perbuatannya.

++++
Pembaca, semua penjelasan dan pertimbangan unsur-unsur itu bukan kata saya. Itu hakim yang bilang dalam putusannya. Kalau tidak setuju, protesnya ke sana.

Namun, pelajaran penting bagi wartawan adalah, kreatiflah menggali fakta. Lihat unsur-unsur pidananya. Cari keterangan dari saksi. Jangan cuma tanya CCTV terus ke polisi. Jangan cari dari omongan polisi terus. Polisi bukan pemutus, mereka hanya penyidik. Ada jaksa yang akan mendakwa dan menuntut dan hakim yang memutus nanti. Saya pikir salah satu kesalahan mendasar wartawan adalah menerima begitu saja keterangan penyidik yang sebenarnya bisa salah, bisa benar juga.

Polisi yang kerja penyidikannya “ganteng” atau tidak akan dibuktikan di pengadilan. Bukan pada banyaknya masuk TV.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Sianida Paini dan Jessica | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: