Membongkar Fakta dan Akta Freeport Indonesia

Tuesday, January 19th, 2016 - Opini Publik, Rumor

Marsekal Muda TNI (Purn) Maroef Sjamsoeddin malam tadi mundur dari jabatannya sebagai Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (FI). Posisinya untuk sementara digantikan oleh Robert C. Schroeder, yang sebelumnya memegang jabatan Direktur PT FI. Desember lalu, James R. Moffet mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Chairman of the Board Freeport-McMoran (FCX).

Indonesia heboh. Bagaimana nasib Papa Minta Saham dan divestasi? Ada apa ini?

Sama seperti ketika menghadapi bom Thamrin, sebaiknya kita tenang saja. Tidak usah panik. Tidak usah terpancing isu-isu tidak jelas. Toh kita semua mahfum, selama ini, Freeport menggunakan pembentukan opini publik di media sebagai bagian dari strategi bisnis perseroan. Saya jadi ingat ketika tahun 2004, PT FI menempatkan Noke Kiroyan sebagai salah satu komisaris. Beliau adalah Chief Consultant di Kiroyan Partners Strategic Communications. Jebolan sarjana komunikasi Unpad Bandung yang juga pernah menjabat sebagai Presdir Rio Tinto dan Newmont Pacific Nusantara. Jagolah kalau soal komunikasi strategis, isu sosial-politik, humas, manajemen krisis, dan sejenisnya.

Bagi orang biasa seperti kebanyakan kita, tetap lihatlah fakta dan akta! Biar kita semua tahu latar belakang undur-mengundurkan diri ini.

Pertama, tak peduli siapa pun yang mundur, pengendalinya itu-itu saja. Tak banyak yang bahas, hingga saat ini, James Robert Moffett (berdomisili di 1615 Poydras Street, New Orleans, Louisiana 70112) tetap menjabat sebagai Presiden Komisaris PT FI, berdasarkan akta perubahan terakhir tanggal 23 November 2015. So, beliau bukan sekadar konsultan seperti ramai diberitakan pascapengunduran dirinya. Atau, memang dalam surat Menteri ESDM Sudirman Said tertanggal 7 Oktober 2015 perihal permohonan perpanjangan operasi, disebut bahwa James R. Moffett dalam kapasitas sebagai Chairman of the Board Freeport McMoran Inc. Tapi, pada saat yang bersamaan, Moffet juga menjabat sebagai Presiden Komisaris PT FI.

Asal tahu saja, PT FI adalah badan hukum Indonesia yang berdomisili di Gd. Plaza 89 LT 5-12 Ruang 501-1201, Jl. HR. Rasuna Said Kav X-7 No.6, Jakarta Selatan. Ada 15 komisaris dalam perseroan (berdasarkan akta perubahan terakhir): James R. Moffett (Presiden Komisaris), John Gerard Amato, Thom Beanal, Lynne Mura Cooney, Dean Thomas Falgoust, Hoediatmo Hoed, Gabrielle Kirk McDonald, Kathleen Lynne Quirk, James Taylor Wharton, William Russel King, Titus Octavianus Potereyauw, Andi Mattalatta, Marzuki Darusman, Robert Douglas Atkinson, dan Nabiel Makarim; jajaran direksi: Clementino Lamury, Richard Karl Adkerson, Brian David Clark, Sonny Eko Sulaksono Prasetyo, Richard Nielsen Mohr, Brian Lloyd Esser, Maroef Sjamsoeddin (mundur), dan Robert Charles Schroeder.

Andi Mattalatta adalah mantan Menteri Hukum dan HAM. Marzuki Darusman mantan Jaksa Agung. Nabiel Makarim adalah mantan Menteri Lingkungan Hidup. Sementara dari sekian nama asing dalam jajaran pengurus perseroan itu, James R. Moffett tercatat sebagai pemegang 300 ribu lembar saham Freeport-McMoran (FCX), Richard Adkerson memegang 2,350,458 lembar, Kathleen Quirk memegang 444,563 lembar.

+++

Kedua, bagaimana penguasaan atas kepemilikan PT FI ini berdasarkan data terakhir? Asal tahu saja, sejak didirikan pada 7 April 1967, PT FI telah melakukan perubahan akta sebanyak 16 kali (terakhir 23 November 2015).

Ini yang penting. Patut kita tahu semua berapa modal PT FI yang sebenarnya. Menurut akta, modal dasar PT FI adalah Rp59,7 miliar dengan jumlah lembar saham sebanyak 300 ribu yang nilai nominalnya adalah Rp199 ribu/lembar. Modal ditempatkan sebesar Rp45.270.510.000 dengan jumlah lembar saham 227.490 yang nilai nominalnya Rp199 ribu/lembar. Modal disetor berupa uang sebesar Rp45.270.510.000. (Mengenai perbedaan modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor, silakan anda baca UU 40/2007 tentang Perseroan terbatas).

Nah, sekarang jadi terang, ketahuan modalnya. Sehingga kita bisa menilai. Selama ini media hanya menulis persentase kepemilikan belaka (9,36%, 10,64%, dsb). Tanpa tahu jumlah lembar dan nominalnya. Apalagi PT FI statusnya adalah perusahaan tertutup.

Begini struktur kepemilikan saham PT FI yang sebenarnya, sampai detik ini:
– Freeport McMoran & Gold Inc menguasai 184.890 lembar saham senilai Rp36.793.110.000
– Negara Republik Indonesia menguasai 21.300 lembar saham senilai Rp4.238.700.000
– PT Indocopper Investama menguasai 21.300 lembar saham senilai Rp4.238.700.000. (100% saham PT Indocopper Investama dikuasai oleh Freeport-McMoran/FCX, tapi kantor PT ini sama-sama dengan PT FI di Plaza 89)

Dari sinilah muncul persentase. 184.890/227.490 x 100% = 81,28%; 21.300/227.490 x 100% = 9,36%. Jadi sebenarnya pihak Freeport menguasai 81,28% + 9,36% = 90,64%! Negara tercinta kita: 9,36%.

Selama ini digembar-gemborkan bahwa orang Indonesia tidak akan mampu melakukan penambangan di Grasberg, tidak punya alat dan teknologi, SDM-nya belum mampu, dsb. Freeport-lah yang membuka ekonomi di sana, membuka jalan, dengan investasi yang sangat besar. Karena itu pula, ekonomi Papua bisa tumbuh.

Oke bos. Tidak usah banyak bicara. Silakan dihitung saja semuanya sekarang.

Modal disetor sebesar Rp45.270.510.000 itu adalah pada tahun 1967. Nilai uang sekarang dengan dulu tentu beda. Mari kita pakai perbandingan yang umum yaitu harga emas. Harga emas tahun 1967 adalah Rp270/gram. Berarti, dengan uang Rp45.270.510.000 saat itu setara dengan 167,67 juta gram emas atau 167,7 ribu kilogram emas atau 167,7 ton emas.

Harga emas hari ini adalah Rp488.023/gram. Berarti nilai modal disetor PT FI saat ini setara dengan Rp81,8 triliun. Jika total lembar sahamnya adalah 227.490 lembar, maka hari ini harga per lembar saham PT FI adalah Rp359,6 juta. Berarti: Freeport-McMoran memiliki Rp66,4 triliun (81,28%), Negara RI Rp7,65 triliun (9,36%), dan PT Indocopper Rp7,65 triliun (9,36%).

+++

Ketiga, fakta bahwa Freeport mengajukan penawaran 10,64% saham PT FI (berarti 10,64% x 227.490 = 24.205 lembar saham) pada harga US$1,7 miliar atau setara Rp23 triliun. Penawaran itu berdasarkan perhitungan aset PT FI yang menurut perseroan sebesar US$16,2 miliar atau Rp225,5 triliun. (Dengan model perbandingan harga emas tadi kita melihat bahwa modalnya sebesar Rp81,8 triliun. Berarti kira-kira 2,75 kali. Jadi selama 49 tahun beroperasi, pengalinya segitu).

Tutup mata saja untuk semua perhitungan ekonomi yang rumit bin ajaib. Lihat saja fakta yang tertulis di laporan Freeport-McMoran sendiri. Ini laporannya per 2014:

“FCX’s direct ownership in PT-FI totals 81.28 percent. PT Indocopper Investama, an Indonesian company, owns 9.36 percent of PT-FI, and FCX owns 100 percent of PT Indocopper Investama. Refer to “Joint Ventures — Rio Tinto“ for discussion of the unincorporated joint ventures. At December 31, 2014, PT-FI’s net assets totaled $5.4 billion and its retained earnings totaled $5.2 billion. FCX had $213 million in intercompany loans outstanding to PT-FI at December 31, 2014. (From ‘FCX_AR_2014’, page 98)”

Berarti, per 31 Desember 2014, aset PT FI “hanya” US$5,4 miliar atau Rp75,1 triliun. Kenapa sekarang (setahun kemudian) mereka bisa nilai aset mereka sampai Rp225,5 triliun? Anggaplah pemasukan operasional mereka dari tambang Grasberg sama dengan tahun 2014 yakni US$709 juta (belum dikurangi pajak dll) setara Rp9,8 triliun, maka sulit dimengerti bila penambahan asetnya sampai puluhan triliun begitu dalam setahun. Taruhlah dimasukkan proyeksi sampai 5 tahun ke depan (sampai 2021), Rp9,8 triliun x 5 = Rp49 triliun. Rp75,1 triiliun + Rp49 triliiun = Rp124,1 triliun.

Jadi sekarang sederhana saja:
1. Kalau mau wajar, ya harga 10,64% saham PT FI adalah US$1 miliar atau Rp11-13 triliunan.

2. Kalau mau keren lagi, pakai analogi developer properti. Modal utama bisnis properti adalah tanah. Kalau ada orang sejago apapun membangun rumah, namun tidak ada tanahnya atau pemiliknya tidak mengizinkan membangun, apa artinya. Sama saja dengan Freeport, kalau kita tidak kasih izin untuk dia usaha di sini, mau apa? Selesai semua cerita triliunan itu. Negara ini sebagai pemilik “lahan” bisa membangun dan mengusahakannya sendiri. Toh selama ini 90% pekerja dan profesional di Freeport adalah bangsa kita sendiri.

Pakai tagar dong biar kekinian: #kamibisakelolasendiri

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Membongkar Fakta dan Akta Freeport Indonesia | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: