Mentalitas Fans Saat Menelan Berita

Monday, January 18th, 2016 - Opini Publik, Rumor

Sekarang-sekarang ini memang semakin banyak informasi beredar melalui media sosial maupun pers yang harus diteliti akurasi dan kebenarannya. Hal ini memang menguras energi dan menjengkelkan. Kadangkala kita tergesa-gesa untuk meyakini begitu saja isi informasi dimaksud. Padahal ternyata belakangan hari diketahui bahwa informasi itu hoax.

Saya pun kadang mengalami hal itu. Informasi tentang surat dari Kedubes AS pukul 06.51 Kamis, 14 Januari 2016, yang segera ditafsirkan sebagai bukti bahwa pihak AS mengetahui akan ada aksi bom di Thamrin, ternyata keliru-tafsir. Pukul 06.51 itu adalah waktu GMT (seperti tertera dalam email yang beredar), sehingga dalam WIB ditambahkan 7 jam. Artinya sekitar pukul 13 WIB atau setelah terjadi bom Thamrin.

Begitu juga soal satpam Sarinah yang tewas. Sebelumnya beredar narasi melalui salah satu akun Facebook bahwa pahlawan yang sebenarnya adalah satpam Sarinah yang tewas itu. Belakangan pihak Direksi Sarinah membantah ada satpamnya yang tewas.

Belum lagi tentang teguran KPI terhadap sejumlah media televisi yang ternyata keliru memberitakan terjadinya ledakan bom di lokasi lain selain Thamrin. Ada juga polemik tentang berapa jumlah yang tewas dalam peristiwa Thamrin.

Artinya memang kita semua harus hati-hati menelan informasi. Bukan hanya wartawan, pembaca pun harus membanding-bandingkan fakta satu dengan fakta lain sebelum mengambil keputusan dan keyakinan dalam diri masing-masing.

++++

Persoalan lain yang menurut saya perlu dikurangi sedikit demi sedikit adalah mentalitas fans. Penggemar The Beatles, misalnya, akan cenderung melihat apa yang dilakukan oleh John Lennon, Paul McCartney dkk adalah yang terbaik, paling betul, dibandingkan dengan personel band lain. Bila mentalitas fans ini sudah merasuk lebih jauh ke dalam sendi-sendi SARA, politik, akan berbahaya sekali. Rasionalitas dan kejernihan berpikir akan dikalahkan oleh emosi dan persepsi fans.

Contohnya dalam kasus KPK, Fahri Hamzah, dan Brimob. Jika dalam kepala kita sudah terdapat pembelahan antara KPK sebagai pembela kebenaran dan Fahri Hamzah sebagai pembela koruptor, sulitlah kita menjadi bangsa yang cerdas dan besar. Betul bahwa korupsi harus dilawan, namun apakah KPK tidak boleh dikritisi (supaya lebih baik tujuannya)? Dan saya pikir ahli-ahli hukum yang banyak jumlahnya di negeri ini adalah mereka yang memiliki kompetensi dan kredibilitas untuk menafsirkan ketentuan-ketentuan peraturan. Meskipun tafsiran bisa saja berbeda-beda di antara para ahli, ya tidak apa, asalkan tidak argumentum ad hominem (menyerang personal). Argumen bahwa si A pernah begini-pernah begitu pada masa lalu, jangan dipakai sebagai argumen untuk mematahkan orang. Fokuslah pada isinya.

Kita memahami fungsi dan wewenang KPK. Pun, telah membaca juga apa argumen KPK mengerahkan Brimob bersenjata untuk menggeledah ruang anggota DPR: penyidik sudah menunjukkan surat tugas dsb; surat penggeledahan atas nama tersangka Damayanti dkk; Brimob untuk mengamankan (sesuai Pasal 127 KUHP); ada pendampingan dari Biro Hukum DPR; dan alasan bahwa dalam Pasal 47 Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara RI aturannya adalah tentang “larangan penggunaan senjata api” bukan tentang “membawa senjata api”.

Sementara Fahri menganggap hal itu semua sebagai penghinaan terhadap parlemen (contempt of parliament); cacat prosedural (dengan banyaknya kekeliruan dalam surat penggeledahan); dsb.

Sebetulnya sederhana saja: jika tidak puas dengan aksi tersebut, gugat saja. Daripada situasi opini publik dan perdebatannya seperti sekarang ini yang dengan mudah melabel-labelkan orang seenaknya saja. Penyidik KPK diisukan macam-macam, dicari-cari kelemahannya; sementara Fahri juga dilabelkan, dicap semakin kuat sebagai pembela koruptor.

Saya kira itu situasi yang tidak fair, baik bagi penyidik KPK maupun Fahri Hamzah.

++++

Soal berikutnya adalah bahwa informasi/berita yang beredar secara luas tidak membantu masyarakat untuk menetapkan ukuran-ukuran yang tepat dan benar untuk menilai sesuatu. Yang ada cuma bising, gaduh, kacau-balau, keruh. Dalam situasi keruh, bagaimana caranya orang bisa mengukur dengan jernih?

Mentalitas fans, sentimen kelompok, ego sektoral dan sejenisnya adalah “orang tua kandung” dari kekacauan berpikir. Kalau kita membenci orang yang berjenggot maka kita akan menilai merekalah teroris; kalau kita berpikir Fahri adalah temannya koruptor maka kita akan menilai bahwa dia pasti korup juga; kalau kita berpikir dulu waktu penggeledahan kasus Payment Gateway di ruangan Denny Indrayana, polisi juga tidak benar surat penggeledahannya, maka kita akan berpikir yang dilakukan KPK dengan surat penggeledahan yang salah-salah ketik itu sebagai tidak apa-apa; kalau kita berpikir AS adalah root of all evils today maka berapapun harga yang ditawarkan Freeport akan kita nilai kemahalan (coba saya tanya, adakah di antara kita semua pernah melihat akta PT Freeport Indonesia yang domisili resminya adalah di  GD. PLAZA 89 LT.5-12 RUANG 501-1201, JL. HR. RASUNA SAID KAV.X-7 NO.6 Kota Administrasi Jakarta Selatan? Sehingga kita bisa lihat berapa modal dasar, peningkatan modal, lembar saham, nilai satuan, pemegang saham, tujuan perusahaan, dsb).

Bangsa yang besar adalah bangsa yang cerdas mengukur dan menilai. Bangsa yang bisa cerdas menilai adalah bangsa yang wawasan dan pendidikannya baik. Bangsa yang tidak emosional. Bangsa yang tahu bagaimana suasana kebatinan suatu aturan dibuat, tahu apa tujuan aturan dibuat, tahu teknis aturannya; bangsa yang tahu bagaimana membuat valuasi yang fair dan wajar, tahu apa konsekuensi dari pilihan membeli/tidak membeli saham, tahu risiko-risikonya; dan yang paling penting adalah bangsa yang pemimpinnya tidak korup pikiran, hati, dan kantongnya sehingga telinganya bisa sangat dekat berada di jantung rakyat. Bisa mendengar dengan jernih dan tepat frekuensinya.

Poin dari ini semua adalah bagaimana mulai sekarang kita semakin kritis terhadap informasi, pelan-pelan melepaskan mentalitas fans, dan banyak belajar supaya semakin cerdas menetapkan ukuran-ukuran untuk menilai.

Begitulah cara yang menurut saya layak dan tepat ketika membaca berita-berita.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Mentalitas Fans Saat Menelan Berita | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: