Bom Sarinah, Freeport, Dana Tambang?

Friday, January 15th, 2016 - Opini Publik, Rumor

Mungkin karena waktunya yang berhimpitan, sama-sama 14 Januari 2016 (unlucky day menurut kalender Cina), peristiwa bom Sarinah dikait-kaitkan oleh sebagian pihak sebagai upaya pengalihan isu divestasi saham Freeport Indonesia. Rasanya, setiap orang bebas mengemukakan analisa dan pendapat. Jadi boleh-boleh saja berpikiran begitu. Kita boleh berbeda pendapat, tapi tidak boleh memberangus hak orang untuk berpendapat, kan?

Betul bahwa Freeport Indonesia kemarin (deadline) telah mengeluarkan penawaran harga 10,64% sahamnya sebesar US$1,7 miliar (sekitar Rp23,5 triliun) kepada pemerintah. Angka itu dihitung berdasarkan 10,64% dari total aset Freeport Indonesia yang nilainya US$16,2 miliar. Dasar hukumnya sesuai dengan PP 77/2014 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara dan UU 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

Pada tulisan sebelumnya (Baca: Rp13 Triliun=10,64% Freeport Indonesia) saya memprediksi bahwa kesepakatan antara pihak Freeport Indonesia dan pihak Indonesia akan terjadi di angka US$1 miliar (Rp13 triliun) untuk 10,64% itu. Aturannya begini: jika dalam 60 hari sejak penawaran Freeport Indonesia itu, pemerintah pusat/provinis/kabupaten/kota tidak memberikan respons maka saham itu akan ditawarkan kepada BUMN/BUMD secara lelang. Jika tidak ada yang mau juga maka akan dilepas ke swasta nasional. Namun, tampaknya konsorsium perusahaan BUMN tambang yang dibentuk pemerintah akan mengambil 10,64% ini. Di angka US$1 miliar.

Saya belum punya ide maupun informasi yang kuat bagaimana (jika betul) pengalihan isu ini berlangsung. Soal teror bom Sarinah, rangkaian serangan sebetulnya sudah terjadi sejak Desember 2015 dalam operasi bersandi Konser Akhir Tahun. Polisi menduga kuat ISIS adalah pelakunya. IPW menduga kuat kelompok Solo pimpinan Sigit Qurdowi (alm) pelakunya, yang sekarang digawangi Bahrun Naim. Kelompok ini kerap mempertontonkan serangan terbuka, meski hanya dilakukan satu dua orang. Misalnya tahun 2007, geng ini melakukan bom bunuh diri di mesjid Polres Cirebon atau menyerang sejumlah polisi di pospam Lebaran 2012 di Solo.

Apakah ada permainan intelijen Amerika dalam kasus Sarinah dan Freeport? Bisa iya, bisa tidak. Namun, hari ini saya lihat isu berkembang luas di media-media massa nasional yang membahas tentang bagaimana pendanaan ISIS yang diperoleh dari perusahaan-perusahaan tambang multinasional. Lihat juga bagaimana Terror Track (lembaga pemantau aktivitas digital terkait terorisme yang berbasis di Belgia) sedang memantau pergerakan isu ini.

Namun, rupanya Menteri ESDM Sudirman Said adalah orang yang tipis hati terhadap isu Freeport. Hari ini dia membantah keterkaitan isu bom Sarinah dengan divestasi saham Freeport Indonesia. Alasannya: surat penawaran dari Freeport Indonesia sudah diterima pemerintah sejak 12 Januari 2016 alias dua hari sebelum peristiwa bom Sarinah.

***
Menurut saya, jika dalam kasus bom Sarinah muncul tagar #kamitidaktakut, dalam kasus Freeport harus juga dimunculkan tagar yang bunyinya #kamitidakbodoh.

Mari lihat fakta keuangan Freeport McMoran (FCX). Per 14 Januari 2016, saat harga 10,64% saham Freeport Indonesia dilansir, saham FCX menguat 0,46 (12,3%) menjadi US$4,20 per lembar. Hari sebelumnya saham FCX berantakan di harga US$3,74. Saat ini, kapitalisasi pasar FCX adalah US$5 miliar.

Awal tahun ini, banyak analis yang bilang bahwa performa Freeport pada 2016 akan dipengaruhi sejumlah faktor antara lain: pergerakan harga komoditas tembaga, kesepakatan kontrak dengan pemerintah Indonesia, penanganan terhadap rasio utang, dan strategi baru untuk sektor energi (lini bisnis Freeport yang lain).

Jadi secara langsung bisa kita lihat bahwa keputusan pemerintah Indonesia sangatlah penting bagi Freeport. Jika Freeport mendapatkan kepastian perpanjangan kontrak pasca-2021, perpanjangan izin ekspor, underground mining, dsb, maka bisa dipastikan performa barang ini akan naik. Sebab, Freeport bisa memasukkan cadangan tambang Grasberg yang masih bejibun itu dalam laporan keuangan mereka. Ini tentu akan meroketkan nilai saham Freeport yang saat ini terpuruk. Saya dengar batas atasnya adalah di harga US$14 per lembar saham.

Kalau saya pikir situasinya sederhana saja. Urusan Freeport ini bukan soal nasionalisme saja alasannya. Tengak-tengok kanan-kiri, siapa yang akan dapat untung banyak dengan memanfaatkan “keluguan” pejabat Indonesia.

Jika saja hitungan ini benar. Pemegang saham terbesar Freeport yakni Carl Icahn saat ini menguasai 8,5% (100 juta lembar). Dia membeli di harga US$6 per lembar. Jika terus terpuruk sampai di harga US$3, kelihatannya dia akan menambah lembar kepemilikannya lagi bahkan bisa sampai 20%. Ketika seluruh kepastian kontrak dsb itu didapat oleh Freeport dari Indonesia, sudah bisa dipastikan nilai akan melejit. Hitung saja untungnya: US$14-US$6=US$8 per lembar. Kalikan 100 juta lembar. Dengan kurs saat ini, Rp11,1 triliun!

Jadi siapa yang untung?

So, dari semua isu yang ramai hari ini ada dua kesimpulannya:
1. Bongkar dan tangkap semua jaringan teroris yang membunuh masyarakat ini. Kita harus bersatu padu sebagai bangsa untuk mencegah dan menanggulangi terorisme.

2. Pejabat Indonesia jangan mudah dibujuk dan ditakut-takuti oleh model “terorisme keuangan” dalam kasus Freeport ini. Mereka yang untung, kita yang buntung karena saling berkelahi.

3. Mari kita terus bersatu untuk menjadi bangsa yang besar. Tidak penakut. Tidak bodoh!

May God guide our step.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Bom Sarinah, Freeport, Dana Tambang? | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: