Bom Sarinah: “KONSER AKHIR TAHUN” dan Orang Istana

Thursday, January 14th, 2016 - Dapur Berita, Opini Publik, Rumor

Saya berduka atas teror bom Jakarta. Simpati saya untuk semua korban tragedi ini. Sekarang saatnya negara hadir dan melawan semua teror. Tuhan melindungi kita semua.

Saya tak mau berspekulasi dulu tentang siapa pelaku teror Sarinah. Nanti menambah ruwet dan kecemasan masyarakat. Saya justru rindu saat-saat kecil dulu ketika satu sama lain di antara anggota masyarakat sangat guyub, saling peduli, saling menjaga wilayah masing-masing, penuh rasa persatuan dan kehangatan. Saya rasa teror apapun bisa dilawan kalau kita semua bersatu padu.

Namun, saya mencoba mencermati dari alur informasi yang melatari peristiwa bom Sarinah hari ini. Saya termasuk orang yang meyakini, politik informasi adalah bagian dari agenda besar terorisme maupun kontraterorisme dimana pun juga.

Mari kita cermati. Hakikat teror adalah menebar kecemasan untuk menyampaikan pesan. Pesan disampaikan untuk melakukan negosiasi kepentingan dan pengaruh. Misalnya, teror bom yang terjadi di Kolombia beberapa tahun lalu terkait perburuan terhadap pemimpin kartel narkoba Pablo Escobar, dilakukan sebagai bentuk pesan perlawanan kartel terhadap kebijakan pemerintah Kolombia yang meneken perjanjian ekstradisi. Escobar menyebutkan, teror bom dilakukan bukan untuk perang melainkan negosiasi, mencabut kebijakan ekstradisi itu.

Oleh sebab itu, kita tak bisa sembarangan berspekulasi soal motif, kelompok pelaku, apalagi melabelkan satu kelompok dari keyakinan tertentu sebagai pelaku bom Sarinah. Tetap harus dingin dan hati-hati membaca informasi. Jangan biarkan kemarahan, dendam, mempengaruhi rasionalitas kita. Jangan memperkeruh situasi dengan berita palsu yang makin meresahkan.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) siang ini merilis, “Berdasarkan pemantauan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, kami menemukan sejumlah pemberitaan yang tidak patut, tidak akurat bahkan dilebih-lebihkan sehingga menimbulkan kepanikan terkait tragedi ini. Hal tersebut mencakup:

1. Lokasi kejadian. Beberapa televisi dan radio memberitakan adanya teror susulan di Cikini, Slipi, Kuningan, Palmerah dan Tangerang. Padahal pihak kepolisian menyampaikan bahwa informasi tersebut tidak akurat dan berasal dari sumber yang tidak bertanggung jawab.

2. Pengambilan gambar korban dalam keadaan luka dan darah sehingga menimbulkan kengerian.

“Lembaga penyiaran baik televisi maupun radio seharusnya memahami prinsip-prinsip jurnalistik dalam menyajikan berita yakni akurat, tidak membuat berita bohong, tidak mengeksploitasi korban dan tidak mencampuradukkan fakta dan opini pribadi.”

Patut dipertanyakan juga, dikritisi, didalami, apa motif pejabat teras Istana Negara sekelas Sekretaris Kabinet Pramono Anung yang pada 2 Januari 2016, pukul 07.10 pagi, dengan “lugunya” membuat kicauan di Twitter yang berbunyi: “Pemain konsernya tertangkap, batal konsernya, alhamdulillah perayaan maulid nabi, natal, dan akhir tahun berjalan dengan aman #kode.” @pramonoanung.

Apa-apaan ini. Macam mana pejabat tinggi di negara ini menebarkan #kode di media sosial, di akun pribadi, tentang sesuatu yang sangat penting bagi stabilitas negara. 14 hari kemudian, setelah tweet itu tayang, terjadi bom Sarinah.

Ini betul-betul model komunikasi yang sangat buruk. Jika ini dianggap sebagai bagian dari strategi intelijen, betapa bodohnya itu dilakukan. Faktanya, Jakarta terbakar sekarang. Korban tewas. Masyarakat cemas dan takut!

Saya pun mendapatkan informasi terbatas tentang itu. Dari sumber di aparat keamanan negeri ini. Saya lihat, informasi itu berupa laporan tertanggal 2 Januari 2016, sama dan tepat waktunya dengan Tweet Seskab.

Ada disebut dalam laporan tersebut, pada tengah Desember 2015 sampai akhir tahun, ada instruksi dari ISIS untuk melakukan operasi dengan kode sandi “Konser Akhir Tahun” di seluruh Indonesia. Sepanjang Desember 2015, Densus 88 Antiteror telah melakukan antisipasi dengan menangkap 22 tersangka teroris, ditangkap di 8-10 tempat (Poso, Solo, Jatim, Bekasi, Tasikmalaya, Tanjung Priok, Bandung, Jakarta, dll). Selain itu dicegah/stop 15 target serangan pengeboman di 7 kota yaitu: Jakarta, Bogor, Cisarua, Pekanbaru, Bandung, Solo, Pekalongan, dll.

Pada 14 Januari 2016, pukul 06.51 pagi, Kedubes AS di Indonesia sudah tahu akan ada bom Sarinah. Mereka mengeluarkan pengumuman berjudul Emergency Message for US Citizens: Avoid Area Around Sari Pan Pacific Hotel and Sarinah Plaza. (Catatan: pada bagian ini saya memperoleh informasi klarifikasi bahwa pukul 06.51 pagi adalah waktu GMT. Untuk WIB ditambahkan 7 jam menjadi pukul 13.51 WIB, sehingga konteks yang benar adalah bukan “sudah tahu sebelumnya” melainkan “tahu setelah kejadian”).

Saya dengar informasi juga bahwa satu orang staf UNDP menjadi satu dari sekian korban dalam ledakan Sarinah.

Hari ini Wakapolri Budi Gunawan menyebut bahwa diduga ISIS adalah pelakunya. Benar tidaknya kita monitor saja perkembangannya.

INGAT dan MOHON MAAF, ini bukan untuk menebar kecemasan dan ketakutan. Hanya sebagai informasi latar. Kita apresiasi aparat keamanan yang telah bekerja keras. Kita apresiasi semua pihak yang telah melakukan pencegahan. Kita jaga hati dan pikiran juga untuk tidak menuduh satu sama lain. Semoga kasus bom Sarinah bisa terungkap. Tak jatuh lagi banyak korban.

Untuk pejabat negeri ini, hentikan pamer #kode di media sosial. Lebih baik bekerja, bekerja, bekerja dalam diam. Lindungi rakyat. Anda salah cari panggung jika menebar #kode semacam itu. Korbannya adalah rakyat kita sendiri.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Bom Sarinah: “KONSER AKHIR TAHUN” dan Orang Istana | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: