Rp13 Triliun = 10,64% Freeport Indonesia

Friday, January 8th, 2016 - Opini Publik, Rumor

Selain heboh berita penyelidikan kasus papa minta saham di Kejaksaan Agung, jangan lupa juga inti masalahnya yakni Freeport Indonesia. Ada berita hari ini bahwa Freeport Indonesia mengajukan permohonan izin ekspor konsentrat tembaga sebanyak 700 ribu ton kepada pemerintah untuk periode Januari-Juli 2016 (6 bulan). Jika dikabulkan, inilah keempat kalinya Freeport Indonesia dapat perpanjangan izin ekspor dari pemerintah. (Catatan saja, ini kita bicara izin ekspor bukan perpanjangan kontrak karya yang akan berakhir 2021 dan akan mulai dibahas 2019).

Sembari mengajukan perpanjangan izin ekspor itu, yang akan berakhir 28 Januari 2016, Freeport Indonesia melampirkan perkembangan pembangunan smelter di Gresik. Detailnya apa, apa benar sudah dibangun, apa benar Freeport Indonesia keluar uang untuk itu, saya belum dapat informasi yang detail.

Tapi begini logikanya. Soal Freeport Indonesia ini kita memang harus sorot dalam-dalam. Karena, dengan Freeport Indonesialah negara ini akan berbisnis, menyerahkan tambang Grasberg di Papua, di dalam wilayah kedaulatan NKRI, yang tambang itu juga menyumbang 93% pemasukan produksi dalam laporan keuangan Freeport McMoran (FCX).

Negara ini sedang berjudi dengan orang yang tengah terdesak. Orang yang sedang terdesak akan lakukan apa pun untuk menyelamatkan diri. Harga saham FCX di Bursa New York anjlok 9,08% ke angka 5,61. Kapitalisasi pasarnya menyusut ke angka US$6,68 miliar. Peringkat utangnya sebentar lagi masuk kategori “Junk”. Harga komoditas tembaga turun US$2, untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir. Dan di negara kita, mereka menghadapi pengetatan kebijakan terkait gonjang-ganjing isu perpanjangan kontrak karya pasca-2021. “Ora sudi,” kata sumber saya menirukan ucapan Jokowi ketika dalam kunjungan ke Amerika Serikat beberapa waktu lalu ada yang coba main-main mempertemukan Jokowi dengan eksekutif Freeport.

Dengan Freeport, kita seolah dalam posisi terpojok (dipojokkan) terus. Mereka menuntut perpanjangan izin ekspor tetapi tidak pernah jelas kewajiban mereka membangun smelter. Soal divestasi saham tahun ini, 10,64%, mereka tak kunjung kasih harga berapa. Padahal 3 hari lagi batas waktunya.

Menurut saya ini keterlaluan. Divestasi adalah kewajiban bagi Freeport menurut hukum formal negara kita. Ada peraturan pemerintahnya. Saya dengar informasi bahwa pemerintah akan membentuk konsorsium BUMN tambang bernama Indonesia Resources Company (IRC) untuk ambil saham Freeport Indonesia dari divestasi tahun ini. IRC ini isinya macam-macam: Antam, Inalum, Bukit Asam, dsb.

Tuan Freeport Indonesia yang terhormat, berapa Anda mau buka harga 10,64% itu? Saya harap Anda jangan aneh-aneh menghitungnya.

Prediksi saya, perundingan bakal alot mengenai angka ini, meskipun bisa saja pihak kita tidak usah membayar apa-apa untuk 10,64% ini. Tapi informasi yang saya dengar, angkanya adalah: US$1 miliar (Rp13 triliun).

Kita lihat saja perkembangannya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Rp13 Triliun = 10,64% Freeport Indonesia | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: