Senjakala Media Massa Katanya

Sunday, January 3rd, 2016 - Bisnis Media

Lagi ramai soal senjakala surat kabar gegara tulisan Bre Redana di Kompas beberapa hari lalu. Sedikit sumbang pandangan, boleh dong. Saya tak bela siapa-siapa, meskipun aset saya sudah kejebur selama hampir tujuh tahun di bisnis media online yang memakan biaya miliaran rupiah itu.

Sayangnya, sampai hari ini, dari semua perdebatan artikel yang saya ikuti, sedikit yang bicara soal angka. Duit. Padahal idealisme jurnalistik tak bisa hidup tanpa asupan duit (yang halal tentunya).

Menurut saya, istilah senjakala perlu diluruskan. Dalam arti, istilah itu tidak melulu milik media cetak. Di semua bisnis ada senjakalanya. Tentu kita tahu, bisnis batubara yang pernah moncer beberapa tahun lalu saja kena senjakala; bisnis migas senjakala. Bahkan media online juga banyak yang senjakala lalu tutup.

Hukumnya sederhana saja: pendapatan lebih sedikit dari beban. Pendapatan yang mana? Pendapatan dalam arti operasional (income from operations). Bukan pendapatan non operasional (non-operating income). Dalam perusahaan media, pendapatan operasional misalnya dari iklan. Pendapatan non-operasional adalah pendapatan dari luar usaha pokok misalnya bunga, komisi, jual aset, dsb.

Saya ambil contoh MNC berdasarkan laporan keuangan triwulan III 2015. Net income (TTM) Rp1,02 triliun. Terdiri dari Rp2,5 triliun pendapatan operasional dan -Rp767 miliar pendapatan non-operasional; Tempo (TMPO) net income (TTM) Rp13 miliar terdiri dari Rp21 miliar pendapatan operasional dan -Rp9 miliar pendapatan nonoperasional; Mahaka (ABBA) net income (TTM) -Rp7 miliar terdiri dari pendapatan operasional -Rp33 miliar dan pendapatan non operasional Rp19 miliar; VIVA lumayan bleeding. Net income (TTM) -Rp190 miliar; Kalau SCTV (SCMA) agak kekar, net income Rp1,4 triliun.

Jadi bisnis media itu dinamis. Bisa naik, bisa bapuk. Berlaku baik bagi media cetak, online, elektronik. Dan ingat, karena ini bisnis, maka tidak ada itu istilah kalau punya media kan berpengaruh, bisa lobi sana-sini, bisa bikin orang dicopot dari jabatannya, bisa bikin orang jadi pejabat, dsb. Tetap saja pengaruh harus dinilai berdasarkan angka. Goodwill ada hitungan akuntansinya. Orang tak bisa kenyang makan pengaruh. Mesti ada hitung-hitungannya.

Ini kadang yang tidak dipahami oleh para wartawan yang berpikir perusahaan media itu seperti perusahaan tempe. Bikin satu tempe, modal berapa, dijual berapa plus margin. Di dunia media, berita tak bisa dihitung “matematik” seperti itu. Bahkan Propublica saja yang concern pada jurnalisme investigatif ada hitungan angkanya. Kalau tidak ada, mampus dia.

Begitu pula traffic dalam media online tak bisa serta merta dikonversi menjadi pendapatan. Adsense Google dan agensi online lainnya punya algoritma sendiri untuk itu mulai dari CPM, CPC, dsb.

Sekarang hitung beban. Mulai dari beban pokok penjualan (iklan), beban usaha, beban pajak, dsb. Terbesar adalah beban gaji. Pukul rata semua wartawan dibayar seperti kata AJI yakni Rp4 juta/orang/bulan. Taruhlah 30 orang wartawan sudah Rp120 juta/bulan alias Rp1,4 miliar/tahun.

Kalau semua media seperti Kompas enak. Bidang cetak Kompas 7 kolom (325 mm x 540 mm) = 3.780 mmk. Tarif per mmk=Rp188 ribu. Iklan satu halaman Kompas berarti Rp710 juta. Dua kali saja ada yang pasang iklan satu halaman sudah menutup itu gaji wartawan setahun. Tapi ingat, beban Kompas kan besar juga. Jadi tidak apple to apple.

***
Saya memahami cara berpikir para wartawan yang idealis. Menghasilkan konten jurnalistik yang berkepentingan publik, patuh pada kode etik, menghormati hak atas kekayaan intelektual, antiamplop nan independen. Logikanya adalah konten jurnalistik yang semacam itu akan menghasilkan pembaca yang membludak dan tertarget sehingga menghasilkan pembaca/traffic yang banyak. Traffic dikonversi menjadi pasar untuk pengiklan.

Masalahnya, di Indonesia tidak begitu. Berita yang viral sebagian besar adalah yang bombastis bahkan jauh dari koridor jurnalistik. Berita esek-esek, hantu, gosip, agregasi sana-sini. Sekali-sekali saya mau minta duit ke Dewan Pers untuk menyubsidi media-media yang menghasilkan karya jurnalistik sesuai pakem yang benar tapi kalah pendapatan iklannya dari situs abal-abal, tukang palak, agregator yang menghasilkan konten negatif.

Segala perdebatan tentang senjakala media cetak itu kan intinya begini: pendapatan operasional media cetak menurun karena pengaruh media digital. Pengiklan beralih ke media digital untuk placement.

Karena pengiklan beralih, pendapatan media cetak menurun (kisarannya 10-15% per tahun) sementara media online meningkat.

Tapi di media online sendiri tidak semua menikmati kenaikan kue iklan itu. Ingat, dunia digital media juga punya hukum dan logika pasarnya sendiri.

Ambil contoh begini: sebagus apapun media online tidak akan maksimal pendapatannya jika tidak ada promosi. Untuk berpromosi di dunia digital diperlukan investasi yang cukup lumayan. Pernah pasang Google Ads, Facebook Ads, Twitter Ads yang memakai sistem lelang? Tahu sendiri kan biayanya. Tentu tak semua perusahaan memiliki bujet iklan sebesar Tokopedia, Bukalapak, Lazada, dsb. Ini tentu merupakan beban dalam keuangan perusahaan media online.

Jadi poinnya begini. Tak ada gunanya berseteru antara wartawan cetak dan online. Tantangan ke depan lebih besar. Idealisme saja tidak cukup. Karatan bin senior di dunia wartawan saja tidak cukup. Kenal banyak narsum saja tidak cukup. Banyak selfie sama pejabat saja tidak cukup. Jago menulis saja tidak cukup. Jago lobi saja tidak cukup. Antiamplop saja tidak cukup. Gelar pendidikan berenteng saja tidak cukup. Semuanya serba tidak cukup dan kita semua harus rendah hati untuk terus belajar di ekosistem bisnis media yang perubahannya cepat sekali ini. Wartawan yang baik akan merespons perubahan situasi ini dengan semakin keras belajar, semakin merunduk seperti padi, supaya karyanya makin bagus dan berkontribusi positif bagi bisnis perseroan.

Tapi, jika ingin merasakan lebih kerasnya bisnis media massa, silakan resign dari media tempat anda bekerja, lalu buat rencana dan model bisnis, rencana income-expense, beauty contest sana-sini mencari investor, mengurus legalisasi badan hukum, set-up kantor, membuat kurikulum redaksi, merekrut wartawan, merancang struktur sistem IT, membuat company profile, menghitung target iklan, promosi, melobi agensi dan pengiklan, perhitungkan komisi dan beban penjualan, merancang struktur pajak, mengurus ke Dewan Pers, dimaki-maki pembaca, mengembangkan pasar, menghitung dividens, mencari pinjaman, menghadapi gugatan ketenagakerjaan di PPHI, menjawab Dewan Pers, mengikuti pemeriksaan pidana pencemaran nama baik, gugat menggugat kepemilikan saham, dan sebagainya, dan sebagainya.

Tapi bagi saya, di situlah nikmat dan menggairahkannya dunia media massa.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Senjakala Media Massa Katanya | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: