Halo Trump-Icahn, Mau Main Apa di Indonesia?

Wednesday, December 30th, 2015 - Opini Publik, Rumor

Jujur saja mengapa saya senang menulis tentang isu Freeport adalah sebagai sarana melatih otak, taktik, dan kalkulator. Musuhnya jelas dan lumayan titan. Apalagi setelah ramai berita sejak kemarin malam bahwa James R. Moffet (Jim Bob) mundur dari jabatannya selaku pucuk eksekutif Freeport-McMoran (FCX). Muncullah lagi satu nama yang selama ini ngumpet di balik berita Freeport yaitu Carl Icahn, manusia yang dinobatkan oleh Jerusalem Post, Times of Israel, dan Forbes sebagai 50 pebisnis Yahudi papan atas dengan kekayaan mencapai US$23,5 miliar (Rp324 triliun)!

Icahn ini terkenal sebagai investor-aktivis yang pandai memainkan opini publik nan provokatif. Kalau dilihat dari gelagat isu yang berkembang di media massa nasional belakangan ini soal Freeport, saya menduga sejak lama bahwa Icahn inilah pemain wataknya. Laporan resmi FCX menunjukkan Icahn adalah pemegang 100 juta lembar saham FCX setara 8,65% di FCX per 30 September 2015. Dia adalah mayoritas yang bisa mengendalikan kebijakan perseroan. Shareholders institusional semacam Vanguard, ClearBridge, State Street, Capital Research, Blackrock, Northern Cross, Franklin Resources, dsb kalah banyak porsinya dari Icahn.

Pada penutupan kemarin harga saham FCX US$6,91.

Asal tahu saja, sebagai investor-aktivis, orang seperti Icahn ini tugasnya adalah cari untung sebanyak-banyaknya. Dia beli saham di suatu perusahaan, lalu melakukan agitasi/provokasi untuk melakukan perubahan-perubahan strategis misalnya merger, buy backs, dan termasuk mencopot jajaran eksekutif, dsb supaya nilai saham perusahaan meroket. Orang semacam ini tidak akan pernah peduli sama apa yang namanya investasi pada kualitas produk dan kesejahteraan pekerja (boro-boro mikir HAM dan keadilan publik). Yang dia pikir cuma dividens, goreng saham, ambil untung sebanyak-banyaknya.

Kendaraan utama para investor-aktivis ini adalah opini publik di semua saluran media massa. Mereka tahu dan merancang momentum untuk menaikturunkan sentimen publik terhadap suatu isu. Mereka beroperasi global sebagai sayap kapitalisme sejati. Di Indonesia, mereka juga mengobrak-abrik sekaligus mengendalikan bangunan isu dan opini publik yang hendak dibangun melalui media massa.

Celakanya, Jumat kemarin, Icahn ini mengubah 180 derajat langkah politiknya dengan mendukung Donald Trump, calon presiden AS dari Partai Republik. Icahn menerima tawaran Trump yang menyiapkan jabatan sebagai Secretary of the Treasury of the USA (semacam Menteri Keuangan) jika ia terpilih. Ini jabatan sangat strategis di bidang keuangan dan moneter yang merupakan bagian dari kabinet. Memainkan peran penting dalam pembentukan kebijakan pemerintah AS.

Selain Icahn, Trump sempat juga menawarkan jabatan penting itu buat begawan private equity Henry Kravis dan bekas CEO General Electric Jack Welch.

Jika Trump-Icahn sudah manggung bareng, ini urusan repot. Dua-duanya adalah “direktur” pengolahan isu dan opini publik yang kurang ajar sekali. Jago menjebak orang dalam situasi skak-mat. Mau bukti? Lihat saja Setnov yang tersandung pelanggaran etik dua kali berturut-turut: pertama ketemu Trump, kedua, dugaan minta saham di perusahaanya Icahn (Freeport). Makanya dengan Setnov ini saya bukan cuma gemas tapi juga prihatin. Sebegitu naifkah pejabat negara kita di hadapan permainan kibul-mengibul korporasi ala asing? Sementara orang-orang seperti Icahn dan Trump sudah berpikir menguasai dunia lewat selembar kertas berharga (saham) saja, pejabat kita masih berpikir komisi/fee, dapat fasilitas perbankan dengan surat jaminan dari perusahaan multinasional, dan membangun pabrik dengan model off taker. Sekali-kali kita tipulah orang model Icahn dan Trump ini, jangan kita yang ditipu terus dan dibikin sibuk sendiri sementara mereka tertawa-tawa.

Banyak media di luar negeri yang sudah menulis bahwa bersatunya Trump dan Icahn adalah The Zionist Dream Team that will be Great for Israel. Secara isu keuangan, mereka disatukan dengan isu pajak asing. Icahn sudah siapkan duit US$150 juta untuk mendorong perubahan regulasi pajak penghasilan luar negeri bagi perusahaan-perusahaan AS. Isu pajak ini juga yang didorong oleh Trump. Hati-hatilah untuk Freeport Indonesia dengan gerakan ini.

Icahn ini tipikal pebisnis yang bolehlah dibilang rakus. Dia takkan peduli pada apa yang namanya nasionalisme, HAM, hukum, keadilan, dan nilai-nilai kemanusiaan sejenisnya. Uang, uang, dan uang. Dia akan kuasai dunia ini dengan kertas-kertas, logika dan teknikal saham, olahan sentimen publik. Lihat bagaimana dia bikin bangkrut Trans World Airlines, sikat US$469 juta dan pada saat bersamaan perusahaan ambruk dengan utang US$540 juta.

Jauh sebelum Freeport ini, sudah banyak olahan/gorengan Icahn: perusahaan game Take-Two Publisher, Telik, Motorola, Lear Corp, Oracle, Yahoo, Lawson Software, Clorox, Netflix, Dell, Apple, eBay, dsb.

Sudah kuat tanda-tanda bahwa makhluk semacam Trump dan Icahn ini bakal menancapkan kuku di Indonesia membonceng isu Freeport. Trump sejak beberapa bulan lalu sudah ramai diberitakan akan investasi properti di Bali bersama MNC Group. Sekarang Icahn siap menggoreng Freeport Indonesia, yang menyumbang 93% emas untuk Freeport pusat.

Ingat, ingat, dan ingatlah hukum pasar ini. Belilah berdasarkan rumor, jual berdasarkan fakta (news). Mereka justru senang dengan gunjang-ganjing dan aneka rumor yang secara kreatif banyak diproduksi di negara ini dalam kasus Freeport. Di situlah potensi profit! Mereka akan beli.

Padahal secara dingin kita melihat, kartu ada di tangan Indonesia. Januari nanti Freeport Indonesia harus umumkan berapa harga 10,64 persen sahamnya yang mau didivestasi. Antam katanya akan beli. Lalu 28 Januari izin ekspor akan habis dan mereka harus minta perpanjangan dari pemerintah Indonesia. Sementara mereka harus dan wajib bangun smelter dan investasi untuk underground mining. Miliaran dolar angkanya itu.

Dalam posisi terdesak secara fundamental itu, Freeport sepertinya enggan berbicara angka dan kepastian. Kita seharusnya juga begitu, jangan kasih kepastian perpanjangan ke mereka, biar mereka sibuk sendiri. Tapi harus diakui, mereka jago menakut-nakuti bangsa ini dengan isu beragam mulai dari perang suku, embargo AS, dsb jika kontrak tidak diperpanjang.

Sekarang bagaimana caranya secara minimal kita melindungi aset negara ini dari terkaman pebisnis macam Trump dan Icahn. Thus, kita perlu juga melindungi BUMN kita yang akan diplot untuk membeli saham hasil divestasi. Jangan sampai kita yang dikemek oleh Icahn dkk. Duit masuk, dibikin bangkrut perusahaannya. Dia dapat untung, kita menanggung utang.

Dalam situasi ancaman kerugian keuangan itu, perhatian masyarakat dialihkan kepada satu hal yang sedang digandrungi bangsa ini yakni pemberantasan korupsi. Betul, saya setuju bahwa kasus pidana permufakatan jahat dalam papa minta saham harus diawasi penanganannya di tangan Kejagung. Jangan sampai ujung-ujungnya dibuat SP3 dan dibiarkan menggantung. Betul juga bahwa kasus pelanggaran etik harus diusut setuntas-tuntasnya, tetapi jangan dengan model hakim pelawak ala MKD lalu.

Pendeknya begini: kalau Setnov dan Mohre salah, ya buktikan dan penjarakan saja atas dasar putusan pengadilan. Beres. Jangan disiksa via opini publik semata tapi proses hukumnya abal-abal jalannya.

Namun, kita juga perlu ingat, ketika kita gencar menyuarakan antikorupsi, panca indera kita juga harus peka terhadap penjajahan kertas ala Trump dan Icahn ini. Di sinilah adu domba berasal dan masyarakat kita diracuni mentalnya.

Sekian dan jangan dulu perpanjang baik izin maupun kontrak Freeport Indonesia sebelum kita dapat kepastian situ dapat berapa negara ini dapat berapa. Jangan mau untung sendiri!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Halo Trump-Icahn, Mau Main Apa di Indonesia? | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: