Antara Go-jek, Hujan, Reshuffle Kabinet

Saturday, December 19th, 2015 - Opini Publik, Rumor

Kasus Papa Minta Saham, MKD, Lino tersangka gak pas untuk ditulis pada akhir pekan yang hujan ini. Terlalu berat dan serius. Yang pas kayaknya soal Go-jek. Mumpung lagi ramai. Mumpung lagi hangat habis diceritain istri saya yang pengguna Go-jek fanatik setiap hari.

Poin yang paling penting, ibarat lomba lari 10K, Go-jek dkk sudah sampai KM8, pemerintah baru KM1. Telat, ketinggalan, terlihat pandir, ngos-ngosan. Terutama dengan adanya berita-berita kemarin soal larangan Go-jek dkk beroperasi oleh Menteri Perhubungan dengan dasar salah satunya UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Terang saja larangan itu disambut makian oleh masyarakat. Go-jek sudah dianggap bermanfaat bagi mitra (lapangan kerja) dan pengguna (karena murah, mudah, cepat).

Kalau mau gojek sedikit (gojek artinya bercanda dalam Bahasa Jawa), mengapa Menhub keluarkan larangan itu pada bulan Desember yang sudah musim hujan ini? Boleh dong muncul spekulasi bahwa hujan adalah salah satu alasan yang kuat untuk menyerang bisnis ojek sepeda motor, dengan harapan masyarakat akan kembali ke moda transportasi yang bebas air hujan, semacam naik taksi. Buktinya, selepas berita larangan Go-jek dkk beredar kemarin, saham-saham perusahaan transportasi seperti BIRD dan TAXI langsung naik cepat (meskipun juga turun cepat lagi sih).

Mau dipersoalkan uji KIR? Hayaah. Sederhana saja. Perusahaan IT berbasis aplikasi semacam PT Go-jek Indonesia kok disuruh uji KIR. Asal tahu saja, badan hukum PT Go-jek Indonesia yang didirikan 2011 itu bukan perusahaan angkutan umum melainkan perusahaan IT. Silakan cek sendiri ke Kemenkumham. Jadi jangan berharap isu uji berkala itu manjur untuk “memukul” Go-jek. Yang ada malah Kemenhub bakal diserbu makian oleh masyarakat yang pemilik sepeda motor lho.

Harus diakui Go-jek ini cerdik dan jitu strateginya untuk menari di atas aturan yang masih abu-abu. Masyarakat dibuat ketagihan dan tergantung. Sementara lini bisnis mereka semakin cepat berkembang bak jaring laba-laba.

– Database
Pengunduh aplikasi Go-jek di Android saja sudah 6 juta. Otomatis, terdapat 6 juta data pelanggan yang setidak-tidaknya berisi nama, email, nomor telepon. Sekaligus juga terdapat data rekam jejak pemesanan. Si A dari mana menuju kemana. Pesan makanan apa saja. Rumahnya dimana. Potong rambut berapa hari sekali. Dipijat berapa pekan sekali. Kantornya dimana. Barang dan dokumen diantar kemana saja. Berapa kali pesan minuman beralkohol dan jenis apa saja. Dsb. Semua terekam.

Bisa terbayang data dan informasi apa saja kan yang dimiliki oleh pengelola. Tinggal ditabulasi. Dibuat grafik. Dibuat klaster. Bukankah itu database calon pembeli (buyer) yang dahsyat sekali yang diperlukan oleh produsen makanan-minuman, kendaraan bermotor, jasa, atau mungkin analis politik untuk Pilkada DKI nanti.

Bisnis database adalah kunci!

– Pajak
Ingatlah bahwa Go-jek adalah perusahaan IT. Jadi, jangan bayangkan pajak yang harus mereka bayar (PPN, PPH, dsb) sebesar apa yang dibayarkan oleh perusahaan angkutan umum konvensional. Beban pajak Go-jek takkan sebesar perusahaan angkutan umum. Perusahaan IT seperti Go-jek tentu tidak akan ada beban menggaji karyawan (driver) yang ada dikenakan pajak penghasilan juga di situ.

Tak perlu juga kan membayar PPN untuk pembelian motor (motor kan milik mitra), jasa pemeliharaan, dsb.

Secara pajak, sangat efisien Go-jek ini. Paling ada PPH Badan. Itu juga tidak terlalu besar.

– Modal dan Operasional
Karena Go-jek ini start up makanya menjadi inspirasi banyak pengusaha dan calon pengusaha. Modalnya modal ventura. Pemerintah pun mendukung kelonggaran aturan modal ventura ini untuk menumbuhkembangkan apa yang namanya ekonomi kreatif.

Lagi-lagi, karena perusahaan IT, tentu Go-jek tak perlu menanggung beban bahan bakar kendaraan, pajak kendaraan bermotor, gaji driver, pengurusan izin kendaraan, dsb. Kan semuanya mitra yang tanggung. Tak perlu juga pusing bayar angsuran motor dan gelagapan dikejar penagih utang kalau telat bayar angsuran.

Secara operasional, juga efisien. Kantor juga sebetulnya tak perlu gede-gede seperti di Kemang juga bisa. Kan perusahaan IT aplikasi. Mitra tidak nongkrong di kantor, tetapi di jalanan. Otomatis beban utilities dan sejenisnya ringan.

– Ketenagakerjaan
Konon investasi terbesar adalah di SDM. Gaji karyawan adalah beban yang memberatkan buku. Belum lagi fasilitas asuransi, kesehatan, pensiun, BPJS, pajak penghasilan pribadi, dsb. Belum lagi makan hati menghadapi karyawan yang ngeyel dan bikin demo terus seperti di kawasan industri.

Sebagai perusahaan IT, tentulah Gojek tidak menghadapi problem ketenagakerjaan sesulit hubungan majikan-buruh yang harus melakukan rekrutmen, merumuskan kontrak, peraturan perusahaan, sengketa ketenagakerjaan, pajak, dsb. Kan bukan karyawan, melainkan mitra. Namanya mitra ya sejajar. Kalau tidak sepakat, berpisah saja. Simpel. Apa bisa digugat di PPHI? Sulit, lama, dan ribet; apakah ini berkategori alih-daya (outsourcing)? Bukan. Kan mitra.

– Promosi
Biaya promosi pasti ada lah dan Go-jek ini sukses. Buktinya diberitakan dimana-mana (termasuk ditulis di blog saya ini). Jadi perbincangan dimana-mana. Bukankah Gojek berhasil masuk top of mind masyarakat tanpa harus iklan di televisi yang mahal, bikin reklame di jalan protokol, yang potensial banyak dipalak oleh agensi dan “oknum” jalanan? Cukup dengan jaket dan helm mitra yang setiap hari keliling dan memenuhi Jakarta, itu sudah promosi yang dahsyat sekali. Meskipun Go-jek tetap harus mengeluarkan biaya subsidi juga selama masa promo untuk para mitra. Tapi subsidi ini kan tidak akan mungkin selamanya.

Apalagi dengan bertumbuhnya keasyikan orang menulis review dan membagikan kode refferal. Itu kan promosi untuk Go-jek juga.

Pokoknya cara promosi Go-jek jago punya.

– Bisnis
Go-jek kan bukan sinterklas, makanya harus ada pemasukan yang jelas juga supaya balik modal dan untung. Sumber yang kasat mata yaitu pembagian 20% dari tarif. Tentu bukan tarif promo. Tunggu tarif normal berlaku penuh saja nanti. Sebagai perusahaan IT, mau layanannya angkut orang, makanan, minuman, kertas, cukur, pijit, bersihkan rumah, hingga pesan vodka sekalipun, pembagiannya akan sama: 20% dari tarif sewa antar-jemput.

Go-jek juga menerima pembayaran melalui “mata uang” yang mereka ciptakan sendiri: Go-jek Wallet. Coba saja top up kredit anda di situ, kan transfernya ke rekening BCA PT Gojek Indonesia tuh. Nah, “mata uang” inilah yang dipertukarkan nantinya di antara users. Bayangkan saja yang terhimpun jika 6 juta pengguna mentransfer top up minimal Rp100 ribu saja. Lumayan, Rp600 miliar di sana. Bunganya saja kalau 5% sudah Rp30 miliar.

Ada juga asuransi. Kan Gojek bekerjasama tuh dengan Allianz (salah satu pemegang saham Allianz Indonesia adalah PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero)) untuk asuransi mitra dan penumpangnya. Tentu tahu kan asuransi tidak gratis dan ada imbal hasilnya juga.

Lalu jangan lupa. Apa modal utama supaya bisnis Gojek ini jalan? Motor. Ada dua jenis orang: orang yang sudah punya motor dan orang yang belum punya motor. Orang yang sudah punya motor bisa jadi mitra bisa juga tidak jadi mitra (alias dipakai sendiri). Orang yang belum punya motor bisa beli motor baik secara tunai maupun kredit. Beli motornya dimana? Ya tadi, bisa beli tunai di dealer, bisa juga kredit di leasing. Leasingnya dimana?

Ya, ini fakta saja. Per Agustus 2015, total ada 622 ribu unit motor terjual di Indonesia. Market share 69,27% adalah motor Honda. Pabrikan sepeda motor Honda adalah PT Astra Honda Motor (AHM). Nah, baru tanggal 10 Desember lalu, Go-jek telah memilih FIFGroup untuk membiayai kredit motor Honda bagi para mitra Go-jek. Setiap hari, mitra Go-jek yang ambil motor lewat FIF itu dipotong Rp25 ribu untuk cicilan.

So, Go-jek dapat SDM baru yakni mitra yang baru beli motor tadi, FIF dapat nasabah yang risiko cicilan macetnya bisa diminimalisir karena nasabahnya adalah mitra Go-jek. Plus, dapat bunga 12%-an dari kredit motor tadi. Mitra/nasabah tadi senang karena dapat pekerjaan dan punya motor baru. Klop. Lebih sip lagi kalau menabungnya di Bank Permata.

Dan, semuanya itu, baik pabrikan motor maupun leasingnya adalah satu payung: Astra International, Tbk. Sementara pemilik Gojek juga ada aroma Astra-Astranya. (Baca: Peta Modal Go-jek)

Terakhir, memang betul ada investasi besar untuk apa yang dinamakan subsidi promo dsb itu. Darimana sumbernya? Ya, tinggal dibuat perhitungan angka-angka proyeksi dan model bisnisnya lalu bisa ajukan pinjaman ke lembaga keuangan sini maupun sana kan. Northstar pasti paham soal itu.

Tapi, apapun juga, pemerintah kalah cepat bergerak. Go-jek sudah terlanjur besar dan dicintai pengguna dan mitranya di tengah pembangunan moda transportasi massal yang berjalan lambat seperti siput.

Bagaimana Pak Menhub? Masih penasaran melawan Go-jek dengan uji materi UU Lalu Lintas di Mahkamah Konstitusi? Awas lho, selama sidang uji materi 4 bulanan nanti, Go-jek akan jauh berkembang lebih dari apa yang bapak pikirkan. Jangan sampai bapak kena reshuffle gara-gara Go-jek ini.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Antara Go-jek, Hujan, Reshuffle Kabinet | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: