DEMI KEHORMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Tuesday, December 15th, 2015 - Opini Publik, Rumor

Bahasa terang saja: putusan MKD sudah ada kok. Tak usah tunggu lusa diumumkan, kasak-kusuknya sudah kencang. Amar putusan berbunyi teradu terbukti melanggar. Sanksi sedang yakni pemindahan keanggotaan pada Alat Kelengkapan DPR atau pemberhentian dari jabatan Pimpinan DPR atau Pimpinan Alat Kelengkapan DPR dan diumumkan kepada publik. Kenapa sanksi sedang? Karena sebelumnya teradu pernah dapat sanksi ringan dalam kasus Donald Trump. Sanksi ringan tidak bisa lebih dari sekali.

Calon penggantinya juga sudah ada kok. Kemungkinan besar sosok dari partai yang sama dengan ketua sebelumnya tapi didukung oleh partai pemenang pemilu. Kalau mau ambil sosok dari partai pemenang, risikonya terlalu besar, karena calonnya sudah jadi menteri dan pasti diganjal habis oleh “oposisi”.

Tapi itu cuma prediksi Saya. Politik dinamis. Bisa berubah-ubah dalam hitungan detik.

***
Namun, sebaiknya kita semua ingat, dalam hidup ini, ada hal-hal yang sejatinya jauh lebih bermakna ketimbang intrik politik, rebutan jabatan, dan mengunduh kekayaan. Apa yang hendak dicapai dari semua kegaduhan ini? Apa itu semua membuat kehidupan bangsa ini jadi lebih baik?

Dalam konteks kasus “papa minta saham” ini, yang perkaranya ditangani oleh Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD), penting diingat dua hal ini: Tuhan dan kehormatan.

Orang kadang lupa, mereka meributkan intrik politik dan putusan, tetapi melupakan nyawa dari putusan itu sendiri. Aturannya sudah ada yakni Peraturan DPR Nomor 2 Tahun 2015 tentang Tata Beracara MKD. Yang buat ya mereka-mereka sendiri anggota DPR. Jadi logikanya mereka semestinya tahu dan paham.

Irah-irah putusan MKD akan diawali dengan kalimat “Demi Kehormatan Dengan Rahmat Tuhan yang Maha Esa”. Artinya, jangan main-main dengan putusan yang dibuat. Putusan dibuat untuk kepentingan kehormatan yang bersumber dari rahmat Tuhan. Kehormatan artinya kebesaran, kemuliaan, nama baik, harga diri…Rahmat berarti belas kasih, kerahiman, karunia, berkah dari Tuhan.

Boleh saja politisi memainkan taktik dan retorika; lobi sana-sini; menggalang opini publik. Tapi urusan Tuhan dan kehormatan adalah harga mati. Tak bisa dikelabui dengan cara apapun. Seharusnya kalau setiap politisi di MKD (yang sudah pasti berpolitik) berpegang pada prinsip Tuhan dan kehormatan tadi, sidang MKD takkan menjadi bahan olok-olok masyarakat.

Coba cermati pemberitaan di media massa tentang MKD selama ini. Adakah hal-hal berikut ini menjadi bahasan utama? Tahukah kita bahwa putusan MKD didasarkan atas lima hal: asas kepatutan, moral, dan etika; fakta dalam hasil sidang MKD; fakta dalam pembuktian; fakta dalam pembelaan; Tata Tertib dan Kode Etik.

Adakah fokus perbincangan pada alat bukti yakni sesuatu yang menyatakan kebenaran suatu peristiwa? (keterangan saksi, keterangan ahli, surat, data atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apa pun selain kertas, maupun yang terekam secara elektronik atau optik yang berupa tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka, atau perforasi yang memiliki makna; keterangan pengadu dan teradu; dan/atau petunjuk lain)

Adakah kita lihat MKD ini serius dan benar melakukan penyelidikan? (serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan pada saat Sidang MKD untuk mencari dan menemukan bukti terkait dengan suatu peristiwa yang diduga sebagai pelanggaran terhadap undang-undang yang mengatur mengenai Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan perwakilan Rakyat Daerah, serta peraturan DPR yang mengatur mengenai Tata Tertib dan Kode Etik). Adakah kita lihat penyelidiknya bekerja dengan benar dan profesional? (Penyelidik adalah pimpinan dan seluruh anggota MKD dengan dibantu sekretariat dan tenaga ahli).

Bukankah selama ini yang kita lihat adalah sensasionalitas belaka, saling bela sana-sini, saling serang sana-sini, saling beropini/berasumsi sana-sini, lapor sana-sini, dengan hanya porsi kecil pada keseriusan pembuktian untuk mencari kebenaran suatu peristiwa?

***
Saya paham DPR adalah lembaga politik. Paham juga kalau jaringan perkawanan harus dijaga. Tapi sepolitik-politiknya lembaga, jangan begitu juga keleus. Ingat lho. Tuhan dan kehormatan adalah taruhannya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

DEMI KEHORMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: