Semua Indah Kalau Ada Duitnya

Monday, December 14th, 2015 - Opini Publik, Rumor

Kalau membaca berita-berita tentang Freeport di media-media Indonesia, pikiran kita jadi konspiratif sekali. Agak sedikit berbeda dengan jika membaca berita-berita tentang Freeport di media-media luar negeri, yang lebih banyak angka dan kalkulatornya. Karena pemberitaan di sini terlampau konspiratif, disadari atau tidak, itu semua justru membuat Freeport seperti balon yang ditiup: makin dianggap besar. Sementara Freeport semakin besar, di sini kita berkelahi opini satu sama lain hanya karena berbeda kubu.

Ingat saja, semakin dipersepsi sebagai perusahaan raksasa, semakin mereka akan jual mahal. Kalau mereka jual mahal, ketika divestasi pun kita akan membeli di harga yang tinggi.

Mari kita simak beberapa informasi berikut ini yang dilansir di luar negeri sepekan terakhir:

– Desember adalah bulan yang menakutkan buat para investor Freeport. Harga sahamnya jatuh hingga US$6,74 per 8 Desember lalu. Tercatat, investor Freeport selama setahun terakhir kehilangan 2/3 kekayaannya. (Baca di sini)

– Freeport mengurangi capex (belanja modal), menutup tambang, dan menunda pembayaran dividen. Tahun 2016, Freeport mengurangi capex untuk bisnis tambang mereka sampai 25%. Dari rencana US$2,7 miliar (Rp37,6 triliun) menjadi US$2 miliar (Rp27,9 triliun). Produksi di Amerika Utara dan Amerika Selatan juga dipangkas. Tambang di Sierrita, Arizona bahkan sudah ditutup sepenuhnya. (Baca di sini)

– Tahun 2021 adalah krusial untuk Freeport. Mengapa? Semakin cepat renegosiasi perpanjangan kontrak semakin bagus untuk Freeport. Awal tahun 2016, Freeport Indonesia harus memulai penambangan bawah tanah (underground mining) yang memerlukan investasi sangat besar. Jika tak ada kepastian perpanjangan kontrak pasca 2021, risiko terlalu besar. (Baca di sini)

Izin ekspor Freeport Indonesia juga akan berakhir 28 Januari 2016 dan mereka membutuhkan perpanjangan dari pemerintah Indonesia. Jika tidak, makin tertatih-tatih mereka.

Jika tak kunjung ada kepastian, bisa berabe dan potensial pecah kongsi antara Freeport dan Rio Tinto yang joint venture di Grasberg. Rio Tinto punya 40% share di Grasberg tapi belum ada kesepakatan juga mau keluar uang untuk membangun smelter.

– Dari beberapa laporan yang dikutip, posisi utang Freeport McMoran (FCX) per Juni 2015 adalah US$20,9 miliar (Rp291,7 triliun). Aset US$54 miliar/Rp753 triliun (Juni 2015). Tapi arus kas negatif. Harga komoditas sedang loyo. Bisnis minyak dan gas mereka berantakan. Posisi Indonesia sangat penting. 93% produksi emas Freeport McMoran adalah dari Papua. Belum termasuk cadangannya.

– Di Papua sendiri mereka menghadapi banyak perkara. Salah satu yang jarang terungkap di media massa adalah perkara tunggakan pajak atas air dan penalti periode Januari 2011-Juni 2015 yang nilainya Rp2,5 triliun. Prosesnya sedang berlangsung di Pengadilan Pajak dan akan bergulir ke Mahkamah Agung.

– Terkait perpanjangan kontrak karya 2021 pun, Freeport sudah tidak yakin dan siap menempuh jalur arbitrase internasional.

“We expect, but cannot provide any assurance, that PT-FI will be successful in reaching a satisfactory agreement on the terms of its long-term mining rights. If PT-FI is unable to reach agreement with the Indonesian government on its long-term rights, we may be required to reduce or defer investments in underground development projects, which could have a material adverse effect on PT-FI’s future production and reserves. In addition, PT-FI would intend to pursue any and all claims against the Indonesian government for breach of contract through international arbitration.”

Dalam situasi sulit, tekanan sana-sini, fundamental yang babak belur, bagaimana bisa mengharapkan mereka punya uang bangun smelter US$18 miliar (Rp251 triliun), sebagai syarat perpanjangan? Per 30 September 2015, gross profit mereka minus sampai US$3,7 miliar (Rp51,6 triliun).

Begitu kira-kira yang ada kalau kita membaca berita-berita di luar negeri.

***
Kalau di sini lucu. Pernyataan-pernyataan pejabat negeri ini banyak yang menakut-nakuti. Ada orang dalam Istana yang bilang bahwa kalau Freeport tidak diperpanjang, APBN bangkrut. Ada petinggi Freeport Indonesia yang bilang kalau Freeport tidak ada bakal terjadi perang suku di Papua. Bahkan ada yang bilang kalau Freeport diusir, pemerintah AS akan marah dan memprovokasi dukungan agar Papua merdeka. Dan sejenisnya.

Ada juga kita ditakut-takuti soal arbitrase. Harusnya lucu, toh Indonesia sudah kondang sebagai an arbitration unfriendly country. Sulit melaksanakan putusan arbitrase internasional di sini. Ada UU 30/1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa yang mengatur pengakuan atas pelaksanaan putusan arbitrase internasional adalah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Mau seperti Karahabodas? Sudah menang di arbitrase lawan Pertamina tapi putusannya tak bisa dieksekusi? Pengadilan kita masih nasionalis juga rupanya. Lagipula, kita punya banyak ahli hukum untuk menghadapi sidang arbitrase. Santai saja.

Ingat. Semakin kita ditakut-takuti, kita semakin kecil, mereka semakin besar, semakin mahal. Kita lagi nanti yang rugi dua kali: sudah ketakutan pun harus membeli dengan harga tinggi ketika divestasi.

Poin dari semua ini adalah kita bangsa besar, Papua adalah anugerah Tuhan yang luar biasa buat Indonesia; Freeport kecil, cetek, secuil. Justru mereka yang harus mengiba-iba perpanjangan kontrak ke kita jika ingin laporan keuangan mereka bisa dipermak manis lagi untuk cari utang baru supaya mereka bisa bisnis lagi.

Saya tidak punya posisi dan kepentingan apapun terhadap perdagangan saham dimaksud, tidak punya kepentingan juga terhadap geng-geng yang sedang perang; saya juga bukan aktivis antikorupsi atau sejenisnya, pun bukan merupakan produk hasil pelatihan ESQ Revolusi Mental dan Bela Negara. Kepentingan saya cuma satu: siapapun konsultannya, bagaimanapun skenario sandiwara kasus Freeport, ujungnya merah-putih harus menang telak.

Semua akan indah kalau ada duitnya dan rakyat banyak menikmati hasilnya, terutama di Papua sana.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Semua Indah Kalau Ada Duitnya | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: