Nikita Mirzani dan Revolusi Mental

Saturday, December 12th, 2015 - Opini Publik, Rumor

Jangan terlalu mudah menghakimi orang. Kata advokat favorit saya, Atticus Finch, kita tak akan bisa memahami seseorang sampai kita melihat sesuatu dari sudut pandangnya. Hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya. (Tonton/baca deh To Kill a Mockingbird).

Begitu juga terhadap Nikita Mirzani dan Puty Revita. Sebelumnya Amel Alvi. Dan banyak lagi artis yang disebut-sebut dalam perkara prostitusi. Mereka salah? Mana putusan pengadilannya? Mereka dosa dan laknat? Siapa bisa mendahului Tuhan untuk menghakimi manusia?

Perkara bahwa berita tentang penangkapan artis dan muncikarinya oleh polisi menjadi berita utama media massa, itu lain soal. Nilai berita tidak selalu sama dengan nilai pembuktian dalam hukum. Pembentukan berita dipengaruhi banyak faktor. Ada framing, unsur dramatis, subjektivitas wartawan, konteks industri media/pasar, dsb. Hati-hatilah mencerna berita/informasi. Termasuk berita di gresnews.com. Tetaplah kritis.

Tapi setiap orang punya rasa keadilan dan nurani. Sifatnya tidak terjelaskan. Ada di palung hati yang paling dalam. Kita bisa merasakan apa yang namanya moralitas baik-buruk. Dari situlah kita mendapatkan panduan untuk hidup bersama. Seperangkat nilai dan aturan untuk mengatur tertib hidup bersama itulah yang bolehlah kita sebut namanya hukum.

Faktanya begini. Mei lalu, media meributkan soal penangkapan Amel Alvi oleh petugas Polres Jaksel. Tapi Amel tidak dihukum. Yang dihukum adalah Robby Abbas. Lelaki yang sering dijuluki muncikari. PN Jaksel menghukum Robby penjara 1 tahun 4 bulan. Hukuman maksimal sesuai Pasal 296 KUHP (Barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan perbuatan cabul oleh orang lain dengan orang lain dan menjadikannya sebagai pencarian atau kebiasaan, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan dan pidana denda paling banyak Rp15 ribu).

Muncikari artinya induk semang bagi perempuan lacur; germo; jaruman; alku. Menurut hakim, Robby ini memenuhi unsur pasal itu (memudahkan perbuatan cabul dan menjadikannya pencaharian). Salah satu buktinya adalah Robby menyediakan kondom!

Robby dihukum. Amel tidak (sekarang Amel sudah bisa sulam alis Rp20 juta). Pengguna jasa (yang katanya adalah pengusaha dan pejabat) juga santai saja, tak dihukum. Memang aturan yang ada di negara ini begitu. Memang betul ada sejumlah daerah yang punya Perda Prostitusi. Misal, DKI Jakarta, ada Perda 8/2007 tentang Ketertiban Umum. Di sini, penjaja seks komersial; menyuruh, memfasilitasi, membujuk, memaksa orang lain untuk menjadi penjaja seks komersial; memakai jasa penjaja seks komersial, hukumannya adalah pidana kurungan paling singkat 20 hari dan paling lama 90 hari. Atau denda paling sedikit Rp500 ribu dan paling banyak Rp30 juta.

Persoalan masih bisa kita lihat di sepanjang Gadjah Mada sampai Kota dan sekitarnya ada praktik “begituan”, itu soal penegakan aturannya saja. Tahu sendirilah. Namanya pasar, ada supply, ada demand.

Jadi, kalau sekarang ramai lagi soal prostitusi artis, sementara aturan hukumnya belum diubah, ya ujungnya adalah hangat-hangat tahi ayam. Sulit buat polisi menjerat artis dan penggunanya. Paling yang kemungkinan terjadi adalah pasar gelap isu dan berita. Artis, pejabat, pengusaha yang sedang deg-degan namanya bakal disebut di media, potensial “ditawari jasa” pengamanan berita. Oleh siapa saja yang merasa bisa mempengaruhi media dan narasumbernya.

Belajar dari kasus Amel Alvi, hanya dalam waktu 7 bulan, hidup sudah berlangsung normal lagi. Orang semakin lupa kasusnya, dia bisa manggung lagi dengan alis baru (yang menurut saya kemahalan lah kalau Rp20 juta).

Apakah kasus Nikita ini pengalihan isu Freeport? Hahaha. Kejauhan kalau kata saya.

Apakah Nikita dkk perlu digembleng bela negara, konseling, untuk menuju revolusi mental? Kita lihat saja beberapa tahun ke depan, apakah Nikita dkk akan menjadi bintang iklan layanan masyarakat tentang revolusi mental.

Selamat berakhir pekan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Nikita Mirzani dan Revolusi Mental | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: