Bikin Freeport Mati dalam Timbunan Kertas

Saturday, November 28th, 2015 - Opini Publik, Rumor

Ini isu tentang #papamintasaham belum habis juga di media massa ya. Malah makin berputar-putar. Apalagi kalau urusannya di Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). Apa pula yang bisa diharapkan dari lembaga itu untuk mengadili secara etik ketuanya sendiri. Meskipun, menyerahkannya ke penegak hukum seperti polisi, juga belum tentu menyelesaikan persoalan. Alih-alih tuntas penegakan hukumnya, malah nanti bikin kita rakyat semua sakit hati karena ujungnya begitu-begitu saja alias 86.

Jadi menurut saya, masyarakat perbanyaklah ikhlas dan sedikit saja berharap. Tengok kanan-kiri keadaan kita dan keluarga. Apakah keluarga sehat? Apakah uang cicilan sudah siap untuk bulan ini? Begitu malah lebih baik untuk dipersiapkan, sambil menonton lawakan elite politik dan pemerintahan kita dalam kasus Freeport ini. Jangan dibawa ke hati urusan politisi-politisi itu. Toh mereka juga orang lain buat kita.

Beberapa hari lalu saya cuci mobil di suatu tempat. Sambil menunggu, saya lihat TV lagi menayangkan debat soal #papamintasaham. Lalu, ada pegawai cuci mobil yang tanya ke temannya, “Saham itu apaan sih?” Temannya itu rupanya juga tidak tahu apa itu saham.

Nah, boro-boro soal Freeport, ini rakyat biasa aja pada belum ngeh bener apa itu saham. Apalagi soal market cap, divestasi, dividen, shareholders, market, laporan keuangan, konsolidasi, dan sejenisnya. Makanya lebih baik bahasa terang saja: #papamintauang.

Dari situ saya berpikir, rupanya perlu juga dicarikan cara bagaimana supaya masyarakat biasa bisa memahami wacana publik tingkat elite dalam bahasa yang mudah dimengerti. Tujuannya supaya seluruh masyarakat mengerti apa yang terjadi dan bagaimana pejabat-pejabat ini mengelola duit pajak mereka. Kemarahan masyarakat luas yang dilandasi oleh pemahaman akan persoalan yang sebenarnya tentang bagaimana kekayaan negara ini dicuri, adalah inti demokrasi yang sesungguhnya.

***
Terlepas dari soal ketidaktahuan sebagian masyarakat, bagi saya, soal Freeport ini sederhana. Ya itu tadi #papamintauang. Saham adalah uang.

Saat ini posisinya remis. Sudah tidak bisa bergerak kemana-mana dan permainan harus segera berakhir. Ke MKD mati langkah, ke polisi demikian juga. Apanya yang mau diusut kalau transaksinya belum terjadi. Paling itu alasannya. Meskipun kalau mau didorong-dorong soal unsur pejabat memaksa untuk melakukan sesuatu, perdagangan pengaruh, dsb seperti dalam UU Tipikor dan UNCAC, bisa saja. Dengan catatan, kalau penegak hukumnya mau mengusut. Kalau tidak mau, ya bubar begitu saja urusan ini.

Ada gelagat kesimpulan MKD adalah tidak ada permintaan saham dari Pak Ketua, yang ada adalah dari pengusaha. Memangnya salah pengusaha minta saham Freeport Indonesia, meskipun taruhlah benar dengan mencatut nama presiden/wapres? Ya, minta saham wajarlah, namanya juga pengusaha. Mencatut? Bisa salah, kalau yang dicatut mempersoalkan ke jalur hukum. Ini kan tidak.

Jangankan minta saham Freeport Indonesia, minta saham induknya saja yakni Freeport McMoran (FCX) boleh kok. Syaratnya mudah: beli! Beli di NYSE. Harganya lagi murah, gak semahal Facebook, cuma US$8. Toh FCX ini kapitalisasi pasarnya juga gak segede Telkom kok di sana. FCX cuma US$8,2 miliar, TLK US$21 miliar. Kata teman saya, Rp30 triliun sudah dapat 21% saham FCX.

Minta saham Freeport Indonesia? Boleh aja. Sah. Asal setor modal saham berupa uang atau bentuk lain (berwujud atau tidak berwujud) berdasarkan nilai wajar yang ditetapkan sesuai dengan harga pasar atau ahli yang tidak terafiliasi dengan perusahaan. Harganya berapa, ya tidak tahu. Yang jelas harus dalam bentuk rupiah nilainya. (Tapi ngapain juga sebetulnya beli saham Freeport Indonesia, mending beli induknya sekalian).

Jadi sebenarnya kelirunya Pak Ketua ini cuma satu: diam-diam. Coba seluruh pertemuan dengan pimpinan Freeport itu ditayangkan langsung (live) di televisi dan Anda bilang, “Saya mau minta seluruh saham Freeport Indonesia untuk kembali ke rakyat Indonesia, Anda mau lepas berapaan? Lupakan aturan divestasi dan MoU yang kemarin. Ini presiden dan wapres sudah OK. Terserah Anda mau arbitrase atau tidak, kami tidak peduli. Anda berani nambang, kami gebuk. Tak ada lagi bicara smelter, pajak, royalti. Pokoknya semua kami minta, kami beli.” Pasti Anda jadi pahlawan sekarang.

Barulah kalau sudah begitu, martabat kita sebagai bangsa bisa terangkat. Tidaklah kita ditakut-takuti lagi bahwa tidak ada orang Indonesia yang bisa mengoperasikan pertambangan di Grasberg. Banyak orang Indonesia yang mampu kok. Kalau tidak mampu, kita impor orang luar yang mampu, tapi kita yang bayar dan kita yang kendalikan.

Bangsa kita sendiri yang akan kelola Grasberg dan menikmati penuh hasilnya, asal jangan dikorup oleh pejabat kita saja (Memangnya kita tidak tahu apa 9 kilometer dari situ ada surganya emas). Dan percayalah, FCX akan mati sendiri dalam timbunan kertas mereka sendiri kalau Grasberg tidak ada. Mereka akan terlilit surat utang yang sudah jatuh tempo dan tak bisa lagi menggoreng isu untuk membentuk sinyal positif bagi pasar; saham mereka akan terjun bebas seperti sudah terjadi dalam setahun terakhir; karena Grasberg sudah kembali ke Indonesia, terutama untuk menyejahterakan Papua.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Bikin Freeport Mati dalam Timbunan Kertas | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: