Newmont dan Ujung Permainan Opini Publik

Thursday, November 26th, 2015 - Dapur Berita, Opini Publik, Rumor

Ternyata, penegakan hukum larinya kalah kencang dari perdagangan kertas. Ini kertas bukan sembarang kertas, melainkan kertas kepemilikan alias saham bin utak-atik laporan keuangan. Berita-berita di media massa adalah sarana buat mengolah harga alias goreng-menggoreng.

Saya tak masuk terlalu jauh dalam hitung-hitungan angka. Cuma mencermati perang medianya saja. Lagi ramai isu divestasi Freeport, tiba-tiba ada manuver berita bahwa pengusaha nasional Arifin Panigoro akan mengakuisisi 76% saham Newmont Nusa Tenggara (NNT) di harga US$2,2 miliar setara Rp30 triliun. Awal berita adalah keterangan tertulis Menko Maritim dan ESDM Rizal Ramli. Rajawali Ngepret rupanya mendukung langkah itu. Alasannya, ini bukti bahwa pengusaha nasional (Medco) bisa kelola tambang. Bukan cuma asing terus. FYI. Di Medco ini ada aktivis senior Marsilam Simandjuntak yang berposisi sebagai Ketua Komite Audit.

Saham NNT sekarang ini dimiliki oleh Nusa Tenggara Partnership B.V (56%), PT Multi Daerah Bersaing/MDB (24%), PT Pukuafu Indah/PT PI (17,8%), dan PT Indonesia Masbaga Investama (2,2%). Laporan Q4 2015 Newmont Mining Corp (NMC) menyebutkan aset NNT per 30 September 2015 sebesar US$ 3,4 miliar (Rp47 triliun). Jadi kira-kira 76%-nya adalah Rp35 triliun.

NNT sendiri sekarang sedang pusing. Mereka belum dapat Surat Persetujuan Ekspor (SPE) dari Ditjen Minerba Kementerian ESDM, kementerian yang ada di bawah koordinasi Rajawali Ngepret. Sebelumnya mereka dapat SPE untuk periode September 2014-Maret 2015, lalu diperpanjang lagi enam bulan sampai September 2015.

Selain itu, NNT juga pusing soal perpanjangan kontrak kerja di tambang Batu Hijau, NTB. Renegosiasi dengan pemerintah mensyaratkan sejumlah hal: area konsesi, royalti, pajak ekspor, divestasi, smelter. NMC pun menulis begini:

“Negotiations between PTNNT and the Government of Indonesia to amend the Contract of Work remain on- going. No assurances can be made at this time with respect to the outcome of such negotiations and the renewal of the export permit . The failure to receive a timely renewal may negatively impact future operations and financial results at Batu Hijau. As a result of the on-going Contract of Work renegotiations at Batu Hijau, the need for asset impairments, inventory write-downs, tax valuation allowances and other applicable accounting charges will continue to be evaluated. At this time, the Company expects operations to continue into the future.”

***
Dulu, 3-4 tahun lalu, ramai berita soal siapa pemilik 7% saham NNT. Sampai akhirnya Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan jika Pusat Investasi Pemerintah (PIP) — lembaga bentukan di bawah Menkeu Agus Marto — ingin mengakusisi saham itu harus dengan persetujuan DPR. Lalu isu berhenti.

Tapi sekarang kita semua tahu ujungnya. Cerita soal saham-saham itu hilirnya cuma seperti sekarang ini: 76% diambil Medco, 24% punya PT Multi Daerah Bersaing (MDB). Di dalam MDB ini ada BUMD Pemda NTB yaitu PT Daerah Maju Bersaing (DMB) dan PT Multi Capital, anaknya Bumi Resources (BUMI) — Bakrie Group. BUMI punya 75% dari 24%, DMB cuma pegang 25%.

Ya, sudah, sekarang ada pengantin dalam satu selimut: Medco dan Bakrie. Entah ini “keberhasilan” mengusir asing (NMC) dari Indonesia atau apa. Atau mungkin, asingnya pergi, duitnya ditinggal pakai nama lain. Bisa saja.

Okelah itu soal bisnis. Tapi kelihatan jelas di sini betapa penegakan hukum itu absen dalam perkara-perkara duit semacam ini. ICW sudah laporkan ke KPK dugaan korupsi saat pembentukan DMB, pembagian dividen, royalti, dsb. Kabarnya sudah masuk tahap penyelidikan. Tapi hingga Teten Masduki menjadi Kepala Staf Kepresidenan sekarang (Teten dulu adalah ICW), kabar pengusutan kasus ini tidak ada lagi. Lenyap. Yang ada malah berita caplok 76% saham begini.

Jadi memang besar kemungkinan betul pendapat yang mengatakan kepemilikan sumber daya alam tergantung dari siapa penguasanya. Siapa presidennya. Sementara pengusahanya berpikir, siapapun yang menang, dia harus tetap jadi pemenang. Tak ada kawan abadi, lawan abadi. Yang ada adalah kepentingan dan duit abadi.

Makanya media mulailah jangan menganggap bahwa semua ribut-ribut ini adalah demi kepentingan rakyat semata. Bukan, sama sekali bukan. Ada tangan tak terlihat yang mengendalikan semua opini demi kepentingan bisnis. Semua ini cuma soal siapa dapat apa dan berapa.

Kasihan rakyat di sekitar wilayah tambang, cuma dapat ampasnya. Semoga ke depan, situasi seperti ini berakhir, dan rakyat bisa lebih sejahtera.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Newmont dan Ujung Permainan Opini Publik | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: